


PENGEMBANGAN AREN DAN KEKHAWATIRAN MARAKNYA MINUMAN KERAS
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kalau Aren nanti berkembang dikhawatirkan akan marak juga minuman keras (miras) berupa tuak atau cap tikus dan lain-lain. Apalagi kalau penyadap juga tidak sanggup mengolah sendiri niranya untuk dijadikan gula, maka paling gampang yaa.. melepasnya kepada para penampung nira untuk dijadikan tuak atau miras cap tikus.
Kekhawatiran seperti ini akan mempengaruhi kebijakan pengembangan Aren di suatu daerah. Bisa saja para anggota DPRD enggan untuk menyetujui rencana pengembangan Aren di wilayahnya karena sebab kekhawatiran tersebut. Demikian juga para pimpinan wilayah tidak mau menanggung resiko manakala makin maraknya miras tindak kriminal akan semakin meningkat, dan itu adalah akibat dari kebijakannya. Tentu tidak akan ada artinya seandainya pembangunan fisik dan ekonomi dilaksanakan namun pembangunan di bidang moral tidak mengimbanginya.
Kekhawatiran semacam itu akan tetap menjadi benang kusut manakala kita tidak mencoba mengurai kenapa kita mesti khawatir. Kekhawatiran adalah sejenis ketakutan manakala akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Ketakutan adalah termasuk penyakit kelemahan jiwa manusia karena tidak mengetahui atau memahami keadaan yang sedang dan akan terjadi. Seandaianya manusia mengetahui semakin banyak apa yang sedang dan akan terjadi dan memahami cara-cara untuk mengatasinya, maka ketakutan tersebut akan semakin berkurang atau hilang. Berkurang dan hilangnya ketakutan menimbulkan keberanian dan keyakinan dalam menghadapi kejadian yang akan datang.
Jadi…. untuk mengikis kekhawatiran dan ketakutan akan maraknya miras nanti seandainya Aren sudah berkembang, maka kita perlu mempelajari dan mencarikan jalan keluar dari sebab-sebab yang menimbulkan kekhawatiran terjadi. Kita akan mencoba mengurai benang kusut itu dari permasalahan yang terjadi dari petani Aren tradisional kita sekarang ini.

Menjual Nira segar lebih pratis dari pada harus mengolah lagi menjadi Gula Aren.
Repotnya mengelola Nira menjadi Gula
Para petani dan penyadap Aren ini kadang sudah bekerja cukup keras di kebun dan tidak mampu lagi tenaganya untuk mengolah nira menjadi gula. Belum lagi mencari kayu bakar untuk memasak gula, kemudian perlu tenaga mengolah gula secara tradisional yang mencapai 4-5 jam setiap proses, selanjutnya pengemasan gula dan mengirimkannya ke pedagang gula, dan seterusnya. Rentetan pekerjaan seperti itu yang menyebabkan petani (yang sebenarnya cukup rasional) akhirnya memilih jalan pintas mejualnya dalam bentuk Nira Aren Segar, atau Nira Aren yang terah terfermentasi, tanpa mengolah dan bahkan dijemput langsung oleh pedagang di kebun.
Namun sebenarnya di relung hati nurani para petani dan penyadap nira Aren ini, merasa ikut bersalah juga seandainya berakibat semakin maraknya miras di tempatnya. Seperti yang dialami oleh Bapak Sarman di Nunukan, beliau sebenarnya juga seorang imam musholla di tempatnya. Untuk mengurangi rasa bersalahnya, Pak Sarman menjual nira dalam keadaan masih manis, atau dia menyebutnya sebagai tuak manis. Namun apa boleh dikata, sebab kayu bakar semakin susah dicari, tenaga yang membantu memasak juga tidak ada, anak-anak sudah sekolah/kuliah di luar daerah, apalagi harga pembelian Nira Aren Segar juga cukup tinggi.
Teknologi yang sangat sederhana menjadi sebab masih susahhnya cara kerja dalam proses pengolahan gula. Ditambah lagi karena belum adanya persatuan diantara para perajin Nira Aren, maka proses menjadi terpencar-pencar dalam skala yang kecil-kecil dan tidak efisien. Kayu bakar sebagai bahan bakar sistem pengolahan tradisional semakin sulit dicari, semakin lama semakin jauh dan mahal. Ini semakin menciutkan nyali bagi pengolahan nia Aren menjadi gula.
Diversifikasi produk, kelembagaan petani Aren, citra produk dari Nira Aren dan upaya penegakan hukum
Ada beberapa skema atau upaya untuk mengurangi atau meniadakan kekhawatian tadi, antara lain upaya diversifikasi produk olahan yang bernilai tinggi dan memiliki pangsa pasar yang luas. Tentu saja upaya diversifikasi produk ini perlu kerja keras dari semua pihak, karena in butuh waktu yang sangat panjang. Kalau perlu kita iklankan di TV nasional, produk yang sebenarnya biasa-biasa saja menjadi berbeda dengan sesamanya karena seringnya dicitrakan melalui iklan TV. Contoh seperti produk gula putih merek GULAKU, tepung beras ROSE BRAND, permen RELAXA, Sirup ABC, Sirup COCO PANDAN, dll.
Pencitraan produk dari Nira Aren sebenarnya harus dimulai dari hulu sampai dengan hilirnya dan terakhir diiklan TV. Dari mulai membuat SOP (standard operasional prosedur) di dalam kegiatan budidaya dan pemeliharaan kebun Aren, SOP pengelolaan nira sampai dengan pengemasan produknya dan pemasarannya. Semua harus dikelola tidak secara tradisional lagi, sudah harus profesional. Oleh karena itu petani harusnya dihimpun atau terhimpun dalam suatu korporasi seperti kelompok tani, koperasi, atau ada pengusaha yang menghimpunnya baik secara kelompok ataupun terpisah-pisah.
Pada skala yang lebih luas misalnya tingkat kabupaten, dibentuk Asosiasi Petani Aren tingkat kabupaten. Selanjutnya akan dibentuk Asosiasi Aren Tingkat Nasional, yang antara lain bertugas untuk membangun citra produk-produk dari Aren Indonesia pada tingkat nasional dan dunia. Selain itu Asosiasi ini juga bisa mendorong Pemerintah untuk lebih memperhatikan pengembangan Aren di masa yang akan datang.
Selain itu juga dengan upaya penegakan hukum, karena sebenarnya minuman beralkohol harus dibatasi dan diawasi peredarannya. Penegakan aturan ini dimulai dengan pembentukan peraturan-peraturan yang dituangkan dalam suatu Perda di setiap daerah beserta implementasinya di lapangan, termasuk kepada produk-produk minuman beralkohol yang dihasilkan dari Nira Aren ini. Sesekali dilakukan sweeping oleh petugas pengawas PERDA, biasanya SATPOL PP, bagi mereka yang melanggar ketentuan akan perdagangan miras termasuk tuak pahit ini.
Perda ini bisa berbeda nuansanya antara daerah satu dengan yang lain. Contoh seperti di SULUT, dimana minum Cap Tikus sudah menjadi hal biasa dan membudaya, bahkan mungkin tuntutan dari iklimnya yang memang dingin. Demikian juga di daerah SUMUT yang mana nira Aren biasa dikonsumsi menjadi TUAK atau BALOK. Akan berbeda dengan daerah yang mana komunitas muslimnya kuat menjalankan syari’ah seperti di SULSEL atau di ACEH. Akan berbeda juga dengan daerah BANTEN atau bahkan dengan Kalimantan Timur. Nah… inilah Indonesia!!!
Nira sebenarnya bisa dikembangkan atau didiversifikasikan menjadi aneka produk yang sangat beragam, antara lain :
1. Nira Aren Segar
2. Nira Aren Segar aneka rasa & aroma
3. Syrup Aren Murni
4. Syrup Aren aneka rasa & aroma
5. Gula Aren Cetak Murni (aneka bentuk dan ukuran)
6. Gula Aren Cetak dengan aneka rasa & aroma
7. Gula Aren Serbuk (gula Aren semut)
8. Gula Aren Serbuk (gula Aren semut) dengan aneka rasa & aroma
9. Aneka minuman instan berkhasiat (kombinasi dengan beragam ramuan minuman berkhasiat obat)
10. dan lain-lain.
Kalau toh di suatu daerah Nira Aren hanya dijual dalam bentuk Tuak atau Cap Tikus, sebenarnya menunjukkan bahwa di daerah tersebut belum tergarap dengan baik target pasar di luar penggemar Tuak atau Cap Tikus ini. Sebenarnya akan lebih banyak penggemar Nira Aren Segar kalau para produsen Nira ini bisa menciptakan pencitraan yang baik akan produknya. Kalau dipikirkan sebenarnya nggak susah susah amat sih, tapi kalau nggak ada yang memulai yang berinisiatif mencoba-coba, yang berani rugi dulu, yang beresiko sebagai Sang Pencetus, Sang Pelopor, Sang Pemula.
Jangan khawatir karena nanti juga sejarah yang akan mencatat jasa-jasa bagi para Pelopor tadi. Kalau toh kita ikhlas dengan upaya-upaya kita dan hanya karena ingin bermanfaat bagi sesama itu saja sudah cukup. Tuhan saja Yang Maha Mengetahui. Tapi bagi sang pelopor yang sukses maka brand image akan melekat selamanya. Contoh kalau kita ingat air dalam kemasan kita menyebutnya dengan air AQUA, plaster penutup luka maka yang disebut pasti HANDYPLAST, pompa air orang menyebut dengan SANYO, dll. Artinya nama produk itu sudah melekat dengan merk sang pelopornya.
Pasar produk minuman seperti Nira Aren Segar atau tuak manis (atau legen, bhs. Jawa) sebenarnya bisa dijajagi, kalau seandainya teknologi pengawetan dan pengemasannya sudah paten. Di daerah Jawa Timur seperti di sekitar Surabaya, Gresik, Lamongan dan Tuban dikenal legen sebagai minuman segar yang dijajakan kepada para pengguna jalan. Legen yang dijajakan disini berasal dari tanaman Lontar atau Siwalan, masih se keluarga dengan tanaman Aren, yaitu dari keluarga Palma.
Nira segar Siwalan dengan jerigen-jerigen plastik 20 literan dengan kendaraan mobil pick up setiap pagi didistribusikan kepada penjaja langganannya di warung-warung, penjual legen dipinggir jalan, di tempat-tempat keramaian seperti pabrik, terminal, pasar, sekolah dan lain-lain. Namun minuman ini harus habis hari itu juga, kalau tidak habis biasanya dimasak atau direbus agar tidak masam atau mengalami fermentasi, dan besuknya bisa dijual kembali. Sang penjual biasanya juga menyiapkan ES BATU, sebab Legen akan lebih nikmat kalau diminum dalam keadaan dingin, segar sekali. Di terminal-terminal bus juga dijajakan legen manis dalam kemasan botol aqua tanggung, atau botol aqua besar untuk oleh-oleh.
Tentu saja pengemar minuman yang menyegarkan, yang berkhasiat obat, dan bisa menyembuhkan penyakit tertentu ada dimana-mana, dan jauh lebih banyak jumlahnya dibandingkan dari penggemar tuak. Karena konsumen minuman segara itu dari semua kalangan tidak memandang anak-anak maupun orang dewasa, tidak memandang yang ekonominya biasa-biasa sampai orang-orang yang kaya. Oleh karena perlu digali dan dikembangkan produk Nira Aren Segar ini sehingga menjadi komoditi yang bisa menjadi kebutuhan banyak orang dan dapat diandalkan oleh para perajin nira.
Kalau nira dari Siwalan bisa dijual dalam bentuk segar dan manis, bukan sebagai minuman yang memabukkan atau minuman keras (miras), maka nira Aren pasti bisa juga dijual dalam bentuk nira yang manis, segar dan tidak memabukkan, yaitu Legen Aren. Legen Aren sebenarnya adalah Nira Aren yang kondisinya tetap tidak berubah, tetap segar dan belum mengalami fermentasi atau perubahan kimia dan fisiknya. Oleh karena itu perlu dicari teknologi pengawetan Nira Segar atau Legen Aren ini perlu dicari dan terus menerus diperbaiki, demikian juga bentuk-bentuk pengemasannya yang menarik. Karena Nira Aren yang masih segar sebenarnya memiliki banyak khasiat obat dan sering untuk upaya penyembuhan penyakit tertentu.
Oleh karena itu harus dibuat brand image yang bagus tentang Legen Aren ini, sebagai Nira Aren Segar, atau apa namanya, namun dengan menyebut nama itu akan tercitra suatu produk minuman yang semua orang merasa senang, aman dan tidak khawatir. Ini sudah dimulai oleh Ibu Evi dan Bapak Indrawanto dengan DIVA’S Maju Bersamanya, kemudian Bapak Suparno Jumar dengan Kedai Halimunnya, dan lain-lain. Selamat bagi yang sudah memulainya semoga selalu tetap berjaya.
Gula Cair Kental dan Gula Semut Aren dari Kedai Halimun Bogor

Gula Aren Kristal, Syrup Kalamansi dan Syrup Gula Aren dari DIVA’s Maju Bersama Serpong
Perkembangan di negeri tetangga Malaysia juga sudah cukup baik, seperti yang dilakukan oleh Datuk Harris Mohd. Salleh sang pemilik Balung River Plantation. Selain sebagai perkebunan yang tertata rapi yang juga dijadikan Eco Resort yang dilengkapi dengan fasilitas Agrowisata yang menarik, juga pabrik industri pengolahannya. Balung River Plantation ini berada di Negara Bagian Sabah (tetangga berbatasan dengan Kabupaten Nunukan) selain Aren dan pabrik pengolahannya, juga ditanami Kelapa Sawit, Pohon Jati, Buah Naga dan kebun Misai Kucing (Kumis Kucing), Mengkudu (Noni) dan pengolahannya. Kebun aneka komoditi dengan pabrik pengolahannya yang ditata rapi dan menarik menjadi obyek pariwisata (Agrowisata) akan menjadi nilai lebih yang dapat mendatangkan tambahan pendapatan. Namun yang tidak kalah pentingnya adalah terciptanya pencitraan terhadap produk yang dihasilkan. Brand Image akan tercipta dan terjaga dengan konsep keterpaduan seperti di Balung River Plantation ini.

Balung Arenga Pinnata Syrup is all natural - no chemicals or preservatives are added. In conclusion, arenga pinnata consumption is a traditional and homeopathic remedy and shall ultimately revitalize the body. “We are having our own plantation over 5, 000 acres at Balung, Tawau, Sabah, Malaysia” kata Datuk Harris Mohd Salleh, pemilik Balung River Plantation atau juga dikenal dengan Kebun Rimau Sdn BHD.
http://www.borneoquest.com/BalungEco.htm

Apa yang sudah dilakukan oleh beberapa usahawan di atas bisa menjadi pelajaran bagi kita, seandainya kita ingin membina para petani Aren kita. Bagaimana kita menciptakan antar petani dalam suatu kawasan itu bersatu membentuk kelompok tani. Ini permulaan pembinaan yang sangat penting. Karena dengan membentuk kelompok kita bias mengatur kawasan hamparan ini lebih menarik, selain itu dalam mengelola hasil Nira dan yang lain dari Aren bias lebih efisien. Kalau produk dari kelompok ini dikelola dengan bagus, bisa berdaya saing, mempunyai nilai lebih, maka sebenarnya kita telah membangun citra produk.
Apalagi bila kita bisa mengelola kawasan perkebunan Aren milik kelompok tani ini menjadi suatu obyek yang memiliki citra baik yang pantas untuk dikunjungi sebagai tempat wisata alternatif. Kebun Aren dengan barisan tanaman yang tertata, para penyadap yang bekerja secara unik dengan keteraturan rutintasnya, dan para perajin gula Aren dengan kesibukannya di unit-unit pengolahan gula dengan tempat yang teratur rapi bersih dan baik penataannya. Ini bisa jadi tambahan pendapatan serta pencitraan akan merk dari produk yang dihasilkan bagi para pengelolanya.
Bagaimana menurut Anda, Bapak/ Ibu/ Saudara sekalian para pemerhati dan praktisi Aren?
Penulis : Ir. Dian Kusumanto
MERANCANG PERKEBUNAN AREN YANG HEMAT TENAGA KERJA PENYADAPAN NIRA
Oleh : Dian Kusumanto
Pada tulisan terdahulu penulis pernah menghitung proyeksi kebutuhan tenaga kebun yang akan diperlukan pada saat tanaman sudah menghasilkan. Tenaga yang paling banyak diperlukan adalah tenaga penyadap, yang setiap hari harus naik turun pohon untuk memukuli pohon, untuk mengiris tandan yang mulai mengeluarkan nira, untuk memperbaiki irisan sadapan, memasang pipa dan tempat penampungan nira, dll.
Pengalaman KSU Sukajaya di Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak Propinsi Jawa Barat, setiap petani penyadap rata-rata mampu menangani 20 pohon per orang per hari. Jadi kalau ada 100 pohon yang sedang menghasilkan atau sedang diperlakukan dalam setiap hektarnya, maka diperlukan sekitar 5 orang per hektar. Bisa dibayangkan berapa kebutuhan tenaga penyadap kalau luas lahan perkebunannya berpuluh-puluh, beratus-ratus bahkan ribuan hektar. Kalau 10 hektar akan diperlukan sekitar 50 orang penyadap, kalau 100 hektar kebun Aren akan memerlukan 500 orang penyadap dan seterusnya kalau 1000 hektar akan memerlukan sekitar 5000 orang tenaga penyadap.
Pekerjaan yang paling banyak memerlukan tenaga adalah penyadapan, dimana pekerja sadap ini harus memanjat pohon setiap pagi dan sore, naik dan turun. Kalau digambarkan dengan sketsa sebagai berikut :

Dengan pola pemanjatan seperti ini berarti penyadap harus melakukan pemanjatan naik sebanyak 2 kali dan turun sebanyak 2 kali, jadi jumlahnya naik atau turun sebanyak 4 kali untuk setiap pohon yang disadap setiap harinya. Kalau dalam satu pekerja memanjat 20 pohon berarti setiap ada 80 kali naik atau turun pohon. Oleh karena itu para penyadap disyaratkan mempunyai keterampilan memanjat, oleh karenanya perlu dilatih teknik memanjat pohon yang cepat, yang aman dan nyaman.
Hitungan frekuensi pemanjatan akan terlihat sangat banyak bila dihitung pada skala luas lahan yang berkektar-hektar. Jika dalam setiap hektar ada rata-rata 100 pohon yang dipanjat berarti ada 400 kali panjat per hektarnya (naik dan turun). Kalau kebun yang dimiliki ada 10 pohon berarti dalam setiap hari akan ada 4000 kali panjatan. Kalau 100 hektar ada 40.000 kali panjatan setiap harinya. Ini pekerjaan yang rutin yang bisa saja sangat membosankan jika tidak ada motivasi yang tinggi bagi para pekerja panjat ini. Anggaplah ini sistem panjat ’Pola Pertama’.
Maka perlu dirancang untuk mengurangi frekuensi pemanjatan dengan cara membuat tangga atau jembatan antar pohon yang berdekatan (Pola Kedua). Sehingga sekali pemanjat naik kemudian setelah dia menyelesaikan pekerjaan di pohon pertama, tanpa turun lagi menyeberang dengan melalui tangga atau jembatan menuju ke pohon di sebelahnya. Dengan demikian frekuensi pemanjatan dapat dikurangi sangat banyak. Frekuensi pemanjatan naik dan turun sedikit sekali namun frekuensi menyeberang dari pohon satu ke yang lain lebih banyak. Gambarannya sebagai berikut :

Kalau pada pola pertama setiap pohon setiap harinya pagi dan sore memerlukan 4 kali panjat naik-turun, kalau 100 pohon pemanjat akan melakukan 400 kali panjatan naik turun. Sedangkan dengan pola kedua dari seratus pohon pemanjat akan melakukan 2 kali panjat naik, 2×99 kali menyeberang dan 2 kali panjat turun, atau totalnya ada 202 kali panjat naik-menyeberang-turun.
Pola Pertama : (2 kali panjat naik + 2 kali panjat turun) x jumlah pohon
Pola Kedua : 2 kali panjat naik + (1 menyeberang x jumlah pohon -1) + 2 kali panjat turun
Dengan perhitungan jumlah pohon 100 pohon saja, pola pertama perlu 400 kali panjat naik-turun sedangkan pola kedua hanya 202 kali panjat naik-menyeberag-turun. Ada selisih sebesar 400 – 202 = 198, atau hampir separuhnya. Kalau dihitung efesiensi kerjanya dengan frekuensi panjatan tinggal separuhnya, maka akan terjadi penghematan tenaga yang luar biasa. Belum lagi kalau dihitung perbandingan kecepatan panjat antara naik : menyeberang : turun, perhitungan tadi akan berubah.
Kalau dihitung dari energi yang dibutuhkan, tingkat kesulitan dan waktunya, maka panjat naik memerlukan energi, waktu dan tingkat kesulitan yang paling tinggi. Sedangkan panjat turun memerlukan energi dan waktu yang lebih sedikit. Dibandingkan panjat naik dan panjat turun maka ’menyeberang’ memerlukan energi dan waktu yang lebih sedikit atau yang paling sedikit, dengan tingkat kesulitan yang relatif lebih kecil. Dengan pertimbangan tadi maka pola kedua diperkirakan akan memerlukan jumlah tenaga kerja yang lebih hemat, bahkan lebih dari 50 %. Angka kisaran penghematan tenaga diperkirakan sekitar 65-70% bila menggunakan pola yang kedua.
Perlu diketahui, bahwa hitungan di atas belum memperhitungkan waktu dan tingkat kesulitan ’Pola Pertama’ pada saat para penyadap melakukan pekerjaan rutin pada saat di atas pohon. Pekerjaan-pekerjaan di atas pohon antara lain mengambil nira dari wadah pertama, mengatur wadah tempat nira yang baru, mengiris sadapan baru dan membersihkannya, kemudian memasang kembali agar lubang wadah yang baru pas dengan tandan yang mengeluarkan nira kemudian menutupnya dengan plastik atau penutup lainnya, selanjutnya mengatur dan membawa turun wadah yang berisi nira hasil sadapan itu turun sampai di tempat yang aman. Ini kita sebut penampungan nira di atas atau menempel dengan tandan sadap.
Untuk tanaman yang sementara masih disiapkan menjelang produksi pekerjaan yang rutin dilakukan antara lain adalah : membersihkan penutup-penutup yang menyelimuti batang dan tandan bunga. Kalau sudah waktunya memberi perlakuan pada tandan untukmerangsang keluarnya nira, seperti pukulan-pukulan ringan yang bertubi-tubi secara teratur dan lembut. Pekerjaan ini perlu kesabaran dan perasaan yang ’halus’, sebab kalau irama pukulannya tidak tepat malah menyebabkan tandan tidak bisa mengeluarkan nira. Pekerjaan-pekerjaan ini memerlukan waktu yang cukup banyak dengan ketrampilan yang memadai.

Di beberapa tempat ada upaya penyadap yang lebih kreatif, yaitu meletakkan penampung nira itu di bawah, jauh dengan tandan yang disadap. Caranya adalah dengan memasang selang plastik atau plastik roll yang panjang mulai dari tandan yang mengeluarkan nira hingga ke mulut wadah penampung yang berada di bawah. Dengan cara ini penyadap tidak lagi susah-susah membawa wadah yang berisi nira dari atas turun ke bawah, sehingga resiko tumpah pun bisa dihindari.

Dengan cara terakhir ini penyadap hanya terfokus pada pekerjaan di atas pohon, sedang wadah yang ada di bawah tadi diurusi oleh pekerja lain yang khusus melakukan pemungutan nira dari pohon satu ke pohon lainnya, tapi dilakukan di bawah saja dan tidak perlu memanjat. Cara ini akan jauh lebih cepat, lebih efisien, lebih dapat mengontrol kebersihan hasil sadapan nira, lebih mengurangi resiko tumpah, dan lebih aman bagi para pekerja panjat.
Dengan kombinasi cara pengumpulan wadah nira cukup di bawah dan dengan pola panjat kedua yang menggunakan tangga atau jembatan di atas pohon, maka jumlah tenaga kerja penyadap dan pengumpul hasil sadap dapat diminimalkan. Kalau proyeksi pertama di perlukan sekitar 5 orang per hektar, maka dengan kombinasi cara tersebut dapat diminimalkan menjadi hanya 2 orang per hektar, bahkan bisa berkurang lagi. Semakin lama tentunya pekerja kebun tersebut semakin trampil, dengan demikian akan semakin menghemat jumlah tenaga kerjanya.
Macam-macam model tangga dan jembatan dari bambu

Keterangan Gambar :
(1) Tangga Cuplak Ros, untuk panjat naik dan turun,
(2) Tangga Tusuk Tunggal, untuk panjat naik dan turun,
(3) Tangga Tusuk Dua, untuk panjat naik turun dan jembatan menyeberang,
(4) Tangga Ikat Dua, untuk panjat naik turun dan jembatan menyeberang.
MENUJU EFISIENSI BAHAN BAKAR INDUSTRI GULA AREN RAKYAT
Sudah agak lama saya mengendapkan pemikiran tentang kenapa industri gula Aren rakyat tidak begitu berkembang, bahkan terkesan semakin menurun dan ditinggalkan. Begitu juga pada saat mengulang kajian tentang kenapa Aren tidak berkembang seperti Kelapa Sawit. Rupanya hal ini barangkali saling berkaitan, saling berjalin berkelindan, seperti benang kusut.
Prospek produktifitas yang sangat potensial belum tercerahkan dengan benar, mungkin belum banyak yang terpanggil untuk turut mengurai benang kusut tadi. Beberapa hal yang cukup mengganggu sebenarnya secara teknologi relatif sangat gampang diatasi bahkan sudah ada solusinya. Yang saya maksud adalah banyaknya penggunaan bahan bakar untuk mengolah nira menjadi gula Aren.
Mari menghitung kebutuhan kayu bakar
Di beberapa daerah seperti di Sulawesi Selatan, misalnya rata-rata setiap keluarga mengelola antara 20-40 liter nira setiap hari. Nira sebanyak itu dimasak dalam suatu kuwali atau wajan besar yang dipanaskan di atas tungku dari tanah atau semen. Setiap kali pemasakan nira sampai menjadi gula memakan waktu sekitar 4-5 jam per proses. Dalam memasak nira menjadi gula para perajin ini terus menerus melakukan pengadukan, dengan maksud agar panasnya merata dan cairan panas cepat mengental.
Para perajin Gula Aren tradisional ini dalam setiap prosesnya bisa menghabiskan kayu bakar yang cukup banyak bisa mencapai antara 20-40 kg kayu bakar. Atau katakanlah antara nira yang dimasak dengan kayu bakar yang diperlukan berbanding 1 : 1, artinya untuk memasak setiap 1 liter nira sehingga menjadi gula memerlukan 1 kg kayu bakar. Rasio nira : kayu bakar dalam pemasakan gula ini tentu sangat bervariasi antara perajin satu dengan lainnya. Angka di atas untuk memudahkan cara kita menghitung atau membayangkan kebutuhan kayu bakarnya.
Maka bisa dibayangkan kalau setiap petani harus menyediakan kayu bakar 20-40 kg setiap hari, berarti sekitar 600-1.200 kg kayu bakar per bulan. Dalam satu tahun kebutuhan kayu bakar akan mencapai 7.200-14.400 kg kayu bakar per tahun per orang perajin.
Kalau dihitung dengan rasio nira : kayu bakar bisa lebih mudah untuk menghitung produksi dari suatu areal perkebunan aren. Jika setiap hektar dari kebun Aren dapat disadap nira 1000-2000 liter per hari, maka akan diperlukan kayu bakar antara 1-2 ton katu bakar per harinya atau 360 – 720 ton kayu bakar per tahun per hektar kebun Aren. Kalau satu truk dapat memuat kayu bakar sekitar 5 ton berarti diperlukan 72-144 truk kayu bakar per hektar per tahun. Nah…. itu baru 1 hektar, kalau 10 hektar, 100 hektar, 1000 hektar dan seterusnya. Waah……mungkin hutan kita akan menjadi gundul dalam waktu yang sangat cepat hanya untuk memenuhi kebutuhan kayu bakar guna mengolah nira aren menjadi gula.
Dari gambaran tadi kita dapat menyimpulkan betapa beratnya beban lingkungan dan beban masyarakat petani dalam mengumpulkan kayu bakar, jika teknologi yang digunakan tidak hemat bahan bakar. Pola tradisional dalam memasak nira menjadi gula ini bisa menjadi faktor negatif dalam pengembangan Aren di tingkat masyarakat petani, ditingkat penyusun kebijakan dan di tingkat praktisi pembina di lapangan.
Inilah barangkali yang menjadi penghambat akan pengembangan Aren oleh petani tradisional kita. Petani menjadi agak sulit jika mengembangkan melebihi kemampuannya dalam mengadakan tenaga penyadap dan tenaga untuk memasak gula. Kalau sekiranya seluruh anggota keluarga sudah dikerahkan petani enggan atau masih belum berani memanggil tenaga dari luar sistem keluarganya. Oleh karena itulah kepemilikan pohon Aren masing-masing keluarga petani kita masih sangat rendah. Belum ada penelitian tentang berapa rata-rata kepemilikan pohon Aren masing-masing petani kita.
Di Nunukan Kalimantan Timur, di tempat penulis ini tinggal para petani sebenarnya memiliki lahan yang rata-rata sangat luas. Namun pohon Aren yang ditanam tidak terlalu banyak rata-ratanya sekitar 10-20 pohon per keluarga. Seperti juga yang diungkapkan oleh Pak Pawisa seorang mantan petani Aren dari Sulawesi Selatan yang sekarang menjadi petani sawah di Sei Jepun, Nunukan Selatan, dia mengatakan kalau petani memiliki 10 pohon Aren yang produktif saja sudah lumayan penghasilannya, sudah bisa mencukupi keluarganya. Kalau misalnya rata-rata mengeluarkan nira 10 liter per pohon berarti sudah ada 100 liter setiap harinya, berapa tenaga dari keluarganya yang dikerahkan untuk menyadap pohon sekaligus, memasak nira, mencari kayu bakar, dan seterusnya.
Oleh karena itu petani akan memilih alternatif yang paling gampang, tanpa harus repot mengolah atau memasak menjadi gula, yaitu menjualnya menjadi tuak manis. Sebenarnya di hati kecilnya petani tidak ingin menjadi sebab maraknya minuman keras tradisional ini. Apa boleh buat, karena tingkat kesulitannya yang tinggi untuk mencari kayu, memasak nira menjadi gula juga butuh tenaga yang cukup berat, maka terpaksa nira dijual saja karena toh sudah ada yang datang membelinya di kebun. Belum lagi keadaan sekarang mencari kayu sudah semakin sulit, semakin lama juga akan semakin jauh. Mengandalkan dari kebun sendiri juga tidak mungkin karena kebutuhan kayu bakarnya juga setiap hari, nanti lama kelamaan akan habis juga.
Petani Aren kita kebanyakan belum melembagakan diri dalam suatu kelompok tani Aren, hampir semuanya masih sangat tradisional dalam mengembangkan usaha tani Aren. Hal ini memang tidak pernah dirancang sebelumnya, sebab pohon Aren yang dikelolanya adalah warisan dari alam, tidak pernah terpikir menanam dengan pola perkebunan yang teratur dan dalam jumlah banyak. Syukur sekali kalau ada koperasi yang menghimpun petani Aren menampung Gulanya. Mungkin bisa dihitung dengan jari adanya koperasi yang menghimpun nira dari para petani, kemudian koperasi dengan kilangnya mengolah menjadi gula. Kalau ada yang demikian kesulitan-kesulitan petani dapat diatasi, yaaa.. meskipun petani hanya menerima pembayaran dari hasil nira saja.
Teknologi tungku hemat energi
Yang menjadi kendala besar bagi para petani Aren adalah teknologi yang masih sangat sederhana dalam mengolah nira menjadi Gula, sehingga berakibat pada :
~ kebutuhan bahan bakarnya tinggi
~ butuh tenaga yang banyak dan kuat
~ menyita waktu untuk mengerjakan yang lain
~ sumber bahan bakar semakin lama semakin sulit dan mahal
Dari sebab-sebab di atas menjadikan Aren sulit berkembang menjadi komoditi andalan keluarga tani, maka kemudian menyebabkan :
~ karena dikelola kebanyakan jauh dari rumah
~ produk hasil olahan mutunya, penampilannya belum standard
~ belum banyak kreasi produk olahan dari Aren
~ pasar produk gula Aren agak sulit berkembang pasarnya.
Teknologi tungku yang hemat energi, hemat kayu bakar diyakini akan dapat mengurangi tingkat kesulitan petani dalam mengolah nira menjadi gula. Pada industri gula kelapa rakyat di Banyuwangi Jawa Timur sudah dikenal model tungku koloni yang hemat energi kayu bakar. Satu tungku yang sangat panjang terdapat wajan atau kuwali sekitar antara 4,6,8 bahkan 10 sampai dengan 12 buah, tergantung dari berapa banyak jumlah nira kelapa yang disadap.
Penulis bersyukur sempat menjadi pedagang gula kelapa, sehingga masih ingat betul model tungkunya. Ingin rasanya mengulang nostalgia mengelilingi kebun-kebun kelapa rakyat untuk berburu gula kelapa. Kenapa berburu karena hampir tidak ada perajin gula kelapa yang terbebas dari para tengkulak atau juragan. Semuanya sudah punya hutang, sudah terikat kontrak menjual gula hanya kepada para tengkulak tersebut, berapapun harga pasaran ketika itu. Sehingga kalau pedagang baru ingin mendapatkan gula kelapa, yaa….. mesti bergerilya mencari perajin yang mau menjual gulanya kepada kita, meski dinaikkan sedikit dari harga yang diambil oleh tengkulak. Eh.. ngelantur…..
Adapun bentuk tungku yang diyakini dapat menghemat bahan bakar adalah sebagai berikut :
Model THE DK1

Keterangan gambar :
1. Tungku ini terdiri dari 4 kuwali atau 4 wajan yang disusun rapat sehingga tidak ada celah atau lubang sehingga api atau panas tungku keluar.
2. Cerobong asap ada di bagian paling belakang tungku dibuat meninggi dan bertutup di atas lubangnya namun masih ada celah bagi udara untuk keluar.
3. Di bagian depan tungku ada dua lubang, yang di bagian atas menjadi tempat masuknya bahan bakar yang dibuat dari susunan plat-plat besi baja atau besi beton supaya ada jalan bagi abu jika kayu sudah terbakar untuk turun ke bagian bawah. Lubang tungku bagian bawah digunakan untuk mengambil abu sisa pembakaran kayu, sehingga tidak menutupi perapian.
4. Tungku model ini sudah ada sejak dulu pada perajin-perajin gula kelapa di Kabupaten Banyuwangi, Blitar Jawa Timur. Bahkan jumlah kuwali dari setiap tungku bisa mencapai 10-12 buah, sehingga tungku ni kelihatan sangat panjang.
Dengan model tungku semacam ini energi panas menjadi sangat efisien tidak terbuang, karena memang tidak ada celah api atau panas keluar dari tungku, kecuali energi panas itu sudah melewati kuwali-kuwali yang berderet-deret, baru terbuang melewati cerobong yang berada di belakang tungku. Semakin lama api menyala di tungku, maka ruang udara di cerobong juga akan semakin panas, sehingga berat jenis udara mengembang mengakibatkan daya hisap yang semakin kuat agar udara (O2) yang segar masuk lewat lubang di bagian depan tungku. Karena kencangnya daya hisap udara panas ini bahkan menimbulkan suara yang bergemuruh, sehingga kita tidak perlu lagi untuk mengipasi api. Mengipasi api hanya pada saat pertama kali tungku akan dinyalakan, setelah tungku panas tidak diperlukan lagi, bahkan kita perlu mengurangi daya hisap udara panas itu dengan sedikit menutup celah lubang dengan bahan bakar yang ada.
Pemasakan nira yang utama adalah pada kuwali atau wajan yang pertama, karena panasnya yang langsung dari api bahan bakar, sedang kuwali yang nomor dua dan seterusnya memanfaatkan panas yang berlebih dari perapian pada kuwali petama. Kalau jumlah niranya masih banyak maka akan diisikan pada kuwali-kuwali selanjutnya, dengan harapan akan mendapat pemanasan yang lumayan sebelum mencapai pengadukan di kuwali pertama. Pengadukan dilakukan bisanya hanya dilakukan pada kuwali yang pertama tapi adakalanya kalau cukup panas pengadukan juga dilakukan sampai kuwali yang kedua.
Proses pembuatan gula dengan tungku model ini bisa menghemat waktu yang sangat banyak, apalagi kalau nira yang disadap cukup banyak. Kalau setiap kuwali itu bisa menampung sampai 20-40 liter, maka tinggal disesuaikan saja berapa hasil nira harian terbesar dengan berapa kuwali yang harus dipasang dalam tungku itu, atau bahkan berapa tungku yang harus dibuat.
Penghematan pemakaian kayu bakar juga akan sangat dirasakan, karena tungku ini sangat fleksibel dengan hasil produksi nira dari kebun. Atau bahkan kalau kurang kita bisa menampung atau membeli nira dari petani yang lain. Hampir tidak ada lagi kekhawatiran, kecemasan kelebihan produksi nira akan merepotkan kita. Sedikit atau banyaknya nira tidak menyebabkan perajin khawatir tidak sempat mengolahnya. Bahan bakar tungku ini tidak hanya kayu bakar, namun bisa juga menggunakan limbah gergajian kayu, tahi gergaji, sekam padi, limbah cangkang kelapa sawit, dan lain-lain.
Model dari THE (Tungku Hemat Energi) di atas dapat dikembangkan dengan beberapa pola, beberapa alternatif pola pengembangan tungku itu adalah sebagai berikut :
Model THE DK2

Keterangan gambar :
1. Tungku ini terdiri dari 1 kuwali utama dan 1 penampung nira berupa kuwali yang memanjang berbentuk separuh silinder.
2. Cerobong asap sama.
3. Di bagian depan tungku ada dua lubang, sama seperti model tungku terdahulu.
4. Model tungku kedua ini menggabungkan kuwali-kuwali nomor 2 dan seterusnya menjadi satu kuwali yang panjang, untuk meniadakan proses memindahkan nira dari kuwali satu menuju kuwali yang ada di depannya. Agar tenaga hanya terfokus pada kuwali yang pertama, sebab tingkat kekentalan yang tepat harus dikontrol dengan cermat supaya mutu gula yang dicetak nanti pas sesuai standard yang ditetapkan. Besarnya kapasitas kuwali kedua yang panjang ini tergantung dari kira-kira produksi nira maksimal yang dihasilkan oleh petani tersebut.
5. Yang agak sulit adalah mencari bentuk kuwali yang memanjang ini, kecuali jika memesannya pada bengkel. Kuwali panjang ini dapat juga dibuat dari drum yang dibelah separuh kemudian disambung-sambungkan sampai panjang yang dikehendaki. Kalau tinggi suatu drum sekitar 90 cm maka kalau 3 drum utuh yang dibelah menjadi enam bagian kuwali, maka jika disambung akan menjadi sekitar 5 meteran, yang bisa menampung sampai 500 liter nira.
Teknologi mempercepat olah nira menjadi gula
Mempercepat proses pengolahan nira ke gula adalah langkah taktis yang bisa mengurangi kebutuhan bahan bakar yang semakin langka dan semakin mahal. Kalau ingin industri rakyat gula Aren bisa bersaing dan tumbuh sebagai industri yang efisien maka langkah perbaikan teknologi dan manajemen pengolahan nira ke gula menjadi upaya utama yang sangat strategis.
Memahami bahan dasar yang berupa Nira yang rasanya manis tersebut menjadi penting. Nira sebenarnya air tanaman yang mengandung gula atau bahan yang manis. Untuk memperoleh gulanya kita harus mengurangi kandungan airnya dengan cara dipanaskan. Kenapa dipanaskan? Karena air akan menguap menjadi uap air yang melayang ke udara jika sudah mencapai suhu minimal 100 derajat Celcius. Semakin banyak air yang menguap semakin cepat juga cairan nira mengental, karena kandungan airnya semakin sedikit.
Sebenarnya selain panas yang mencapai diatas 100 derajat Celcius penguapan air menjadi uap air akan sangat dipengaruhi oleh luas permukaan penguapan. Jadi pada pengembangan teknologi mempercepat olah nira ke gula selain panas yang cukup juga didalam prosesnya dilakukan tidak sekedar mengaduk, tapi selain meratakan suhunya ke bahan nira, proses juga memperluas permukaan penguapan.
Upaya memperluas permukaan penguapan sambil terus dipanaskan secara merata ini merupakan dasar pengembangan tungku yang kedua. Ada beberapa alternatif model tungku, yaitu :
a. Model THE DK 3

Keterangan gambar :
1. Di bagian depan tungku ada dua lubang, sama seperti model tungku terdahulu
2. Cerobong asap sama.
3. Tungku ini terdiri dari 1 kuwali utama dan 1 penampung nira berupa kuwali yang memanjang berbentuk separuh silinder, ditambah unit yang mensirkulasi nira panas kemudian mengalirkan dari tangga-tangga nira dengan maksud agar luas permukaan penguapan bertambah. Dengan luas permukaan penguapan yang semakin luas air yang menguap semakin cepat, sehingga nira dapat semakin cepat mengental karena kandungan airnya cepat menguap ke udara. Kalau sudah cukup kental nira segera dipindah ke kuwali yang pertama untuk dilakukan pengadukan dan kemudian kalau sudah cukup derajat kekentalannya kemudian diambil untuk pencetakan menjadi gula cetak atau gula semut.
4. Yang agak sulit adalah mencari unit yang bisa mensirkulasi air nira panas, selain memerlukan bantuan pompa juga mengatur tangga-tangga penipisan aliran untuk memperluas permukaan air nira panas sehingga uap air yang panas terpisah dari nira. Kapasitas kuwali sirkulasi ini mampu menampung sampai 500 liter nira atau dapat disesuaikan tergantung dari kebutuhannya.
b. Model THE DK4

Keterangan gambar :
1. Di bagian depan tungku ada dua lubang, sama seperti model tungku terdahulu
2. Cerobong asap sama.
3. Tungku ini terdiri dari 1 kuwali besar, ditambah unit yang mensirkulasi nira panas kemudian mengalirkan dari tangga-tangga nira yang berbentuk lingkaran-lingkaran yang kecil di bagian atas kemudian semakin besar di bagian bawahnya, dengan maksud agar luas permukaan penguapan bertambah. Dengan luas permukaan penguapan yang semakin luas uap air panas yang menguap semakin cepat, sehingga nira dapat semakin cepat mengental karena kandungan airnya cepat menguap ke udara. Kalau sudah cukup kental nira segera dipindah untuk dilakukan pengadukan dan kemudian kalau sudah cukup derajat kekentalannya kemudian diambil untuk pencetakan menjadi gula cetak atau gula semut.
4. Yang agak sulit adalah mencari unit yang bisa mensirkulasi air nira panas, selain memerlukan bantuan pompa juga mengatur tangga-tangga penipisan aliran untuk memperluas permukaan air nira panas sehingga uap air yang panas terpisah dari nira. Kapasitas kuwali sirkulasi ini mampu menampung sampai 500 liter nira atau dapat disesuaikan tergantung dari kebutuhannya.
Teknologi prosesing gula sistem kontinyu
Teknologi ini adalah perbaikan dari model pengolahan yang berbasis tungku seperti di atas. Sebenarnya prinsip yang digunakan adalah sama yaitu pemanasan, sirkulasi dan permukaan penguapan yang diperluas. Namun pada teknologi THE di atas sistem pengolahan nira menjadi gula adalah sistem terputus atau batch. Kelemahan sistem terputus ini energi yang diperlukan untuk satu siklus pengolahan relatif sama meskipun bahan baku yang diolah hanya separuhnya. Padahal pada masa-masa tertentu kdang terjadi lonjakan produksi nira yang kadang berflukuasi. Sistem terputus menjadi kurang fleksibel dan dianggap masih relatif kurang efisien, meskipun sudah sangat efisien jika dibanding dengan sistem tradisional yang selama ini dianut oleh para perajin gula Aren tradisional.
Teknologi ini mengadopsi sistem spray dryer pada pembuatan susu bubuk atau pembuatan tepung santan. Semula nira ditampung dalam wadah penampungan yang cukup besar, dalam penampungan ini nira sudah mendapatkan perlakuan pemanasan awal. Oleh karenanya penampung nira ini dibuat dari plat logam dengan bahan yang anti karat, juga sudah dilengkai dengan sistem pemanasan.
Selanjutnya dengan bantuan pompa, nira dialirkan melalui pipa stainless still berbentuk spiral. Pipa spiral yang sangat panjang ini dipanaskan di dalam ruang pemanasan yang tinggi, dengan maksud agar nira yang mengalir di dalam pipa spiral ini terekspose oleh panas yang sangat tinggi sehingga begitu keluar suhu nira ini sudah mampu meguapkan air yang dikandung dalam pipa spiral ini. Dengan bantuan pompa maka air yang sudah cukup panas keluar dari pipa spiral kemudian disemprotkan dengan semprotan yang sangat halus yang diatur dengan suatu nozel di ujung pipa spiral, dan disemprotkan mengarah ke bawah dari posisi di atas wadah penampung.
Penyemprotan halus ini dimaksud agar semakin memperluas permukaan penguapan dari air yang terkandung dalam nira. Dengan kondisi yang panas dan partikel nira yang halus air akan menguap meninggalkan nira, sehingga kandungan air pada nira dengan drastis dapat berkurang. Dengan demikian semprotan nira tinggal menyisakan nira yang sudah hampir menjadi serbuk gula.
Proses ini dapat disesuaikan dengan produk yang dikehendaki, maksudnya jika hanya berupa sirup gula maka tingkat kekentalannya diatur dengan pengaturan pada kecepatan semprot atau nozel. Demikian juga jika dikehendaki untuk pembentukan serbuk gula yang cukup halus pengaturan-pengaturan tingkat panas, kecepatan semprot, ukuran nozel semprot, dan lainnya akan ditentukan sesuai pengalaman dan uji coba.
Gambar skema sistem prosesing gula dengan sistem kontinyu dengan pemanasan tekanan dan penyemprotan halus (spray dryer) ini sebagai berikut :

Dengan penerapan teknologi seperti di atas maka diharapkan gairah untuk pengembangan industri gula aren rakyat dapat kembali marak. Dengan demikian penanaman pohon aren secara besar-besanan dengan pola perkebunan pun tidak akan khawatir lagi dengan kesulitan-kesulitan pengolahan niranya. Usaha penampungan kemudian pemrosesan nira dengan menggunakan teknologi semacam di atas tadi akan semakin menggairahkan petani. Dengan demikian semakin dekatlah kita dengan cita-cita berjaya kembalinya Aren di Indonesia. Bravo Aren Indonesia !!
(Oleh : Dian Kusumanto)
MEMAHAMI SIFAT-SIFAT BIOLOGIS DAN AGRONOMIS TANAMAN AREN
DALAM MEMBANGUN PERKEBUNAN AREN AGAR BERPRODUKSI TINGGI
oleh : Dian Kusumanto
Untuk memulai membahas apa saja yang perlu kita perhatikan dalam membangun perkebunan Aren, sengaja saya bahas secara tidak sistematis. Saya hanya akan pilih beberapa aspek saja secara terpisah namun dalam pembahasannya bisa saja saling terkait. Maklum ini bukan thesis atau skripsi ilmiah. Namun tulisan ini bersifat refleksi pemikiran atau ide pinggir jalan dari seorang praktisi, bukan akademisi apalagi seorang peneliti.
Tulisan ini barangkali muncul sebagai jawaban atau tanggapan atas beberapa pertanyaan yang muncul dari para pemerhati Aren yang kerap menyapa lewat email atau telpon penulis. Mudahan bisa jadi bahan pemikiran kita lebih lanjut lagi, karena pada situasi yang berbeda pada era awal pengembangan Aren ini segala sesuatunya belumlah established, masih masa premordia atau bahkan tahap deferensiasial.
Aren adalah tanaman tahunan yang mana masa perkembangannya masih belum terlalu jelas. Berapa lama bibit harus disiapkan, kemudian masa bibit ditanam sampai masa awal berproduksi, seterusnya berapa lama masa panen atau produksinya. Selama ini belum ada angka-angka pasti, masih sangat relatif. Berbagai pengalaman petani dan ’pekebun’ masih sangat bervariasi. Inilah yang menjadi hambatan bagi para investor atau para penyusun feasibility study atau proposal untuk membangun perkebunan atau program Aren baik bagi perusahaan besar atau program pemerintah.
Hal tersebut diatas sepertinya disebabkan karena penelitian-penelitian tentang Aren belum terstruktur secara sistematis, apa yang hendak dicapai atau diinginkan dari sang Aren ini. Pada masa yang lalu kemanfaatannya saja belum banyak diketahui, prospeknya juga belum banyak disingkap. Akhirnya kita semua masih belum menghiraukan Aren ini untuk menjadi bahan kajian, bahan penelitian dalam rangka menyelesaikan masalah-masalah bangsa ini.
Setelah prospeknya kita ketahui, kemudian kita berencana untuk mengembangkannya, maka kemudian ada pertanyaan yang muncul, dari mana kita mulai ? Saya kemudian memulainya dari pertanyaan seputar Aren yang paling sering muncul, yaitu tentang umur masa-masa perkembangan Aren.
Umur bibit Aren siap tanam
Berapa umur bibit Aren sehingga siap ditanam? Selama ini para ’pekebun’ Aren menanam dari bibit yang tumbuh secara alami di bawah pohon yang sudah tua. Bibit anakan liar kemudian diangkat dan ditanam langsung pada lahan yang dikehendaki, atau ditanam dulu di polibag sehingga hidup dan agak besar, kemudian baru ditanam. Kriteria besarnya bibit yang siap ditanam juga masih variatif. Dari beberapa pengalaman yang ada dan pertimbangan secara agronomis, bibit dikatakan siap jika : memiliki daun asli minimal 3-4 helai, tinggi bibit mencapai minimal sekitar 40-60 cm, perakaran bibit sudah cukup banyak.
Keadaan bibit seperti ini diharapkan sudah memiliki bekal untuk tumbuh dan berkembang di tempat yang baru, artinya akar siap untuk menyesuaikan dengan kondisi tanah yang baru, daun sudah mencukupi untuk menangkap energi matahari, atau bahkan sudah cukup tinggi sebagai petunjuk atau penanda ada kehidupan baru pada lahan baru tersebut, sehingga tidak terganggu keberadaannya oleh kegiatan yang lain.
Pada kondisi yang standard untuk tumbuh dan berkebangnya bibit tanaman Aren, penyiapan bibit ini memerlukan waktu sekitar 8-10 bulan dari masa perkecambahannya. Sedang masa perkecambahan dari biji pada perlakuan yang standard memerlukan waktu sekitar 2-4 minggu. Yang menjadi pertanyaan kita adalah apa dan bagaimana perlakuan standard dari biji hingga berkecambah dan bibit siap tanam. Petunjuk atau SOP (Standar Operasional Prosedur) ini masih belum baku, masih bervariasi tergantung dari pengalaman masing-masing praktisi, yang sebagiannya mungkin masih dirahasiakan. Rahasia perusahaan ini dapat dimaklumi karena biaya yang dikeluarkan pada masa penelitian dan uji coba cukup tinggi.
Oleh karena hal-hal di atas tadi maka pada langkah awal pengembangan Aren untuk berbagai tujuan pengembangannya harus dimulai dari aspek pembibitan dan pencarian bibit unggul. Aspek keunggulan yang diinginkan tentu sangat bervariasi, apakah dari pertimbangan produksi niranya yang unggul atau produknya yang lain. Keunggulan yang lain bisa jadi dari kecepatan masa produksi awalnya, yaitu sifat genjah atau umur mulai produksinya yang pendek sehingga pekebun lebih cepat dapat menikmati hasilnya sekaligus mengurangi biaya-biaya investasi dan operasional pemeliharaan jika umur mulai produksinya terlalu lama.
Jenis atau varietas dan umur produktif Aren
Sebenarnya yang kita inginkan adalah umur produksi yang pendek atau genjah namun produktifitas yang tinggi dan lama. Namun keinginan itu agak sulit dipenuhi, sebab pola kehidupan Aren yang ’basipetal’ itu. Aren akan tumbuh secara vegetatif dulu secara maksimal, baru kemudian tumbuh untuk seterusnya secara generatf. Masa vegetatif terpisah dengan masa generatif, artinya masa generatif baru akan berlangsung setelah masa vegetatifnya maksimal. Tidak seperti tanaman yang lain, yang berselang seling antara masa pertumbuhan vegetatif, kemudian masa generatif, kembali fegetatif lagi kemudian generatif lagi, yang berselang seling dan berulang-ulang. Pada tanaman Aren ini tidak terjadi, yaitu tidak ada masa dimana setelah masa generatif kemudian berulang lagi pertumbuhan vegetatifnya, mulai membentuk tunas daun baru lagi, itu tidak terjadi lagi.
Jadi pada saat pohon Aren mengeluarkan bunga betina atau bunga jantan, berarti pertumbuhan vegetati sudah selesai atau maksimal. Tidak ada lagi pertumbuhan daun baru, perkembangan dan pembesaran batang tidak ada lagi, secara vegetatif semua sudah final atau maksimal. Jumlah daun tidak akan bertambah lagi, malah semakin menurun atau berkurang sesuai umurnya atau berkurang karena dipotong untuk memudahkan panen dan pengambilan hasil dari pohon Aren.
Oleh karena itu dengan sifat yang demikian, kalau Aren itu berumur genjah maka masa produksi juga tidak akan lama karena postur vegetatifnya. Produksi nira Aren dapat dihitung dari jumlah tandan bunga yang muncul. Munculnya tandan bunga ini adalah proses pertumbuhan generatif. Tandan bunga akan muncul dari ketiak atas dari pelepah daun. Setiap ketiak pelepah daun ada bakal calon tandan bunga yang akan muncul, namun tidak semua bakal calon tandan ini tumbuh, sebagian akan ’dorman’ karena kondisi tertentu. Ini artinya adalah banyaknya tandan yang akan diproduksi pohon Aren itu sebanding dengan jumlah daun yang dibentuk dan sebanding juga dengan kondisi pohon Aren tersebut.

Ini adalah pohon Aren Genjah yang sudah mengeluarkan tandan bunga (atau mulai fase generatif dan mengakhiri masa vegetatif) pada umur yang masih muda sekitar 4 tahun dengan ketinggian batang sekitar 3-4 meter. Ketinggian batang adalah ujung batang tertinggi dimana daun paling muda tumbuh, diukur dari permukaan tanah.
Kalau pohon Aren genjah pada umur tanaman sekitar 4 tahun dengan ketinggian sekitar 3-4 meter sudah mulai mengeluarkan tandan bunga. Artinya fase generatif dimulai dan mengakhiri masa vegetatifnya. Dengan umur yang genjah atau pendek, jumlah daun yang dibentuk juga lebih sedikit, jumlah tandan yang akan muncul juga lebih sedikit, umur atau lamanya masa berproduksi juga pendek. Namun mengenai jumlah produksi dari setiap pohon setiap harinya bisa sama dengan pohon yang tidak genjah.
Umur tanaman sebenarnya bisa dihitung dari jumlah daun yang muncul dibagi dengan berapa ’frekuensi” kemunculan daun dalam periode waktu tertentu. Daun Aren yang tumbuh dari pohon Aren muncul sekitar 4-6 daun per tahun, namun bisa saja ini bervariasi tergantung dari varietas genetis pohon, tingkat kesehatan pohon dan kondisi tanah serta agroklimatnya. Sedang frekuensi kemunculan daun bervariasi tergantung dari laju pertumbuhan tanaman yang sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah dan agroklimat setempat.
Oleh karena itu banyak para calon pekebun Aren ini yang sangat optimis dengan komoditi Aren di masa yang akan datang. Sebab dengan kondisi pertanaman yang ada sekarang yang tanpa pemeliharaan yang memadai dan hanya dieksploitasi saja hasilnya sudah sangat membantu para pekebun. Pemeliharaan yang memadai dan terprogram tentu akan sangat mampu mendongkrak lebih tinggi lagi produktifitas tanaman Aren ini. Perencanaan kebun, pengelolaan yang cukup serta pemeliharaan yang memadai dipastikan akan dapat mengangkat produktifitas yang lebih besar.
Jumlah daun dan produktifitas nira
Ada perilaku petani Aren yang termasuk kontra produktif dengan produktifitas nira, antara lain, petani seolah tidak ada beban untuk memotong daun dengan alasan kemudahannya untuk menyadap atau untuk keperluan memudahkan pemanjatan agar tidak terhalang. Padahal dengan berkurangnya daun berarti berkurang juga aktifitas fotosintesa, maka sebenarnya akan berakibat berkurang juga hasil asimilatnya yang antara lain berupa nira. Maka memotong atau mengurangi daun yang masih hijau dan segar berakibat dapat mengurangi produktifitas nira. Hal ini yaitu mengurangi daun yang produktif haruslah dihindari.
Dari pengamatan di lapangan memang terbukti, bahwa semakin banyak jumlah daun yang ada pada pohon Aren maka semakin banyak juga nira yang bisa disadap. Semakin sedikit jumlah daun yang produktif pada pohon Aren, maka makin sedikit juga perolehan niranya. Maka jumlah daun yang produktif sangat berkorelasi dengan hasil sadapan nira yang diperoleh. Di bawah ini ada dua gambaran, yaitu pohon dengan jumlah daun yang masih banyak dan pohon yang jumlah daunnya sedikit.

Foto sebelah kiri adalah pohon Aren yang berdaun lebat dan mengahasilkan nira setiap hari rata-rata antara 20-40 liter per pohon. Sedangkan foto sebelah kanan adalah pohon Aren yang jumlah daunnya tinggal sedikit karena telah banyak dipotong untuk memudahkan pemanjatan dan penyadapan, pohon ini hanya menghasilan nira antara 7-10 liter per hari per pohonnya.
Daun yang masih produktif dan sehat adalah daun yang mampu berfotosintesis dengan baik, sehingga mampu memanfaatkan sinar matahari dan zat hara tanaman untuk menghasilkan asimilat hasil fotosintesa. Daun yang sehat dan produktif biasanya terlihat berwarna hijau segar bersih dan mengkilat, tidak terhalang oleh dedaunan atau vegetasi lainnya, tidak terlihat kotor dan berdebu, tidak terlihat kering dan kusam serta berjamur. Dengan kondisi dedaunan Aren yang bersih, sehat, mengkilat, hijau segar, dalam jumlah cukup banyak akan dapat diharapkan hasil nira yang memuaskan bagi para pekebun. Oleh karena itu pemeliharaan dengan memperhatikan aspek kesehatan dan kecukupan daun ini akan menjadi perhatian utama dalam manajemen pemeliharaan kebun Aren.
Apa saja perlakuan yang harus diberikan agar kondisi kesehatan dedaunan Aren ini seperti yang diharapkan? Bagaimana pola budidaya yang memngkinkan kondisi pertanaman akan menghasilkan nira yang memuaskan? Mudah-mudahan pada uraian yang akan datang penulis dapat memaparkan lebih rinci lagi.
Di kawasan Timur, Selatan dan Tenggara Asia termasuk Indonesia di mana banyak diusahakan padi sawah, salah satu masalah yang dihadapi adalah kesuburan lahan yang berkelanjutan. Hal ini sangat penting karena saat sekarang yang dipacu adalh produksi yang semakin tinggi dari satu jenis tanaman yaitu padi sawah, dengan target kenaikan produksi untuk setiap tahun. Justru pada lahan sawah di kawasan tersebut, bahan organik tanah dan tingkat nitrogen acapkali terbatas. Untuk mengatasi hal ini dibutuhkan sumber nitrogen alternatif sebagai suplemen pupuk kimia. Sumber nitrogen alternatif ini adalah pupuk hijau. Salah satu sumber N alternatif yang cocok untuk padi sawah adalah Azolla.
Azolla adalah paku air mini ukuran 3-4 cm yang bersimbiosis dengan Cyanobacteria pemfiksasi N2. Simbiosis ini menyebabkan azolla mempunyai kualitas nutrisi yang baik. Azolla sudah berabad-abad digunakan di Cina dan Vietnam sebagai sumber N bagi padi sawah. Azolla tumbuh secara alami di Asia, Amerika, dan Eropa.
Azolla mempunyai beberapa spesies, antara lain Azolla caroliniana, Azolla filiculoides, Azolla mexicana, Azolla microphylla, Azolla nilotica, Azolla pinnata var. pinnata, Azolla pinnata var. imbricata, Azolla rubra.
Kemampuan azolla sebagai sumber penyumbang Nitrogen
Suatu penelitian internasional di mana Indonesia (Batan) ikut terlibat yang diseponsori oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA-Wina) menggunakan 15N menunjukkan bahwa Azolla yang bersimbiosis dengan Anabaena azollae dapat memfiksasi N2-udara dari 70 – 90%. N2-fiksasi yang terakumulasi ini yang dapat digunakan sebagai sumber N bagi padi sawah.
Dari beberapa penelitian diperoleh bahwa laju pertum-buhan Azolla adalah 0,355 – 0,390 gram per hari (di laboratorium) dan 0,144 – 0,860 gram per hari (di lapang). Pada umumnya biomassa Azolla maksimum tercapai setelah 14 –28 hari setelah inokulasi. Dari hasil penelitian Batan diketahui bahwa dengan menginoku-lasikan 200 g Azolla segar per m2 maka setelah 3 minggu, Azolla tersebut akan menutupi seluruh permukaan lahan tempat Azolla tersebut ditumbuhkan.
Dalam keadaan ini dapat dihasilkan 30 – 45 kg N/ha berarti sama dengan 100 kg urea. Ditemukan juga bahwa Azolla tumbuh kembang lebih baik pada musim penghujan daripada musim kemarau.
Kegunaan :
~Sumber N dapat mengganti pupuk urea sampai 100 kg
~Pakan ternak/hijauan, pakan ikan, terutama ayam dan itik
~Menekan pertumbuhan gulma
~Tanaman hias
~Kontrol terhadap perkembangan nyamuk
Hasil penelitian di Batan
Lapisan Azolla di atas permukaan lahan sawah dapat menghemat penggunaan urea sebesar 50 kg urea/ha, kadangkala bila musim sangat baik Azolla dapat menghemat sampai dengan 100 kg urea/ha.
Aplikasi Azolla untuk menghemat penggunaan pupuk buatan.
Lokasi : Pusakanegara (Pantura)
Perlakuan Produksi padi sawah (ton ha-1)
1. Lapisan Azolla + 50 kg urea 5
2. Lapisan Azolla + 100 kg urea 6
3. Lapisan Azolla + 150 kg urea 6,5
4. Tanpa lapisan Azolla + 150 kg urea 6
Kesimpulan: Optimal pada perlakuan No.2, menghemat 50 kg urea per ha.
Cara perbanyakan Azolla
1. Buatlah stok Azolla dekat rumah dengan bak plastik atau di kolam yang tidak ada ikannya.
2. Semprot stok setiap 3 bulan sekali dengan pupuk P ( 1 sendok makan SP-36 per l air). Sebaiknya Sp-36 digerus halus agar mudah larut dalam air. Stok ini digunakan untuk bibit yang akan ditanam di lapang.
3. Di lapang petak sawah dibatasi dengan bambu seluas 1m2 seperti ditunjukkan pada
Dengan mengaplikasikasikan Azolla 200 g/m2 :
I. Sampai dengan hari ke-5, Azolla akan berkembang, sehingga permukaan lahan tertutup
penuh (batas garis merah)
II. Hari ke-10, menjadi 2 kali lipat (batas garis biru)
III. Hari ke-15, menjadi 4 kali lipat (batas garis coklat)
IV. Hari ke-20, menjadi 8 kali lipat , dst.
Cara Menggunakan Azolla
1. Tebar Azolla bersamaan atau 1 minggu sebelum padi di bibit
2. Setelah lapangan penuh dengan Azolla, lahan dibajak agar Azolla terbenam
3. Selanjutnya dilakukan penaman padi dan Azolla yang tidak terbenam dibiarkan tumbuh.
Azolla yang tumbuh di permukaan ini dapat :
~ mengambil N yang hanyut dan menguap
~ menahan pertumbuhan gulma
Kandungan unsur hara dalam Azolla Unsur Jumlah
N 1.96-5.30 (%)
P 0.16-1.59 (%)
K 0.31-5.97 (%)
Ca 0.45-1.70 (%)
Mg 0.22-0.66 (%)
S 0.22-0.73 (%)
Si 0.16-3.35 (%)
Na 0.16-1.31 (%)
Cl 0.62-0.90 (%)
Al 0.04-0.59 (%)
Fe 0.04-0.59 (%)
Mn 66 - 2944 (ppm)
Co 0.264 (ppm)
Zn 26 - 989 (ppm)
Azolla sp. adalah jenis tumbuhan paku air yang mengapung banyak terdapat di perairan yang tergenang terutama di sawah-sawah dan di kolam, mempunyai permukaan daun yang lunak mudah berkembang dengan cepat dan hidup bersimbosis dengan Anabaena azollae yang dapat memfiksasi Nitrogen (N2) dari udara.
Pada kondisi optimal Azolla akan tumbuh baik dengan laju pertumbuhan 35% tiap hari Nilai nutrisi Azolla mengandung kadar protein tinggi antara 24-30%. Kandungan asam amino essensialnya, terutama lisin 0,42% lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrat jagung, dedak, dan beras pecah (Arifin, 1996) dalam Akrimin 2002.
Tanaman Azolla Sp. memang sudah tidak diragukan lagi konstribusinya dalam mempengaruhi peningkatan tanaman padi. Hal ini telah dibuktikan dibeberpa tempat dan beberapa negara. Konstribusi terbesar azolla adalah dengan menjaga hasil panen tetap tinggi. Meskipun penggunaannya sebagai pupuk hijau pada tanaman padi masih dilakukan di China dan Vietnam, dengan adanya peningkatan biaya tenaga kerja , membuatnya kurang diminati.
Meskipun demikian, seiiring dengan perkembangan pupuk hijau, penggunaan azolla ini kini lebih banyak dimanfaatkan untuk budidaya perikanan. Dengan adanya mindazbesi yang menggabungkan mina padi dengan azolla, selain menjadikannya sebagai pakan perikanan juga konstribusi dapat digunakan untuk peningkatan produksi padi.
Tabel Kandungan Nutrisi pada Tanaman Azolla Sp.
1 Nitrogen 4.5
2 Fosfor 0.70
3 Kalsium 0.70
4 Kalium 3.30
5 Magnesium 0.60
6 Mangan 0.10
7 Besi 0.20
8 Protein Kasar 27.00
9 Lemak Kasar 3.20
10 Gula 3.50
11 Amilum 6.50
12 Klorofil 0.50
13 Abu 10.50
14 Serat Kasar 9.10
Bapak Ir. Zaenal Soejais Sang Ketua Mapporina mendirikan Azolla Centre di Cikampek. Beliau ingin menebus kesalahan masa lalu karena telah merusak lahan dan sawah dengan pupuk Urea, pada saat beliau menjadi Direktur PT. PUSRI, PT. PKT, dll.
Sawah-sawah di Kecamatan Kayan Nunukan Kaltim ini tidak pernah tersentuh pupuk kimia. Dengan kearifan lokal dibuat suatu konvensi untuk tidak menggunakan kimia di sawah ini. Pure Organic ! 100 % Organic!
Tamu dari Negeri Brunei Darussalam, yaitu Bapak H. Datuk Awang Damid. Beliau adalah pengusaha besar di negerinya. Obsesi beliau adalah bekerja sama dengan Indonesia di perbatasan dalam bidang pertanian, sehingga keamanan pangan di Brunei bisa didukung dari negeri tetangga. Nunukan adalah daerah Indonesia yang terdekat. Kalau dibangun jalan sepanjang perbatasan, aksesnya sekitar 8 jam, ya seperti naik bus dari Surabaya ke Jogjakarta.
Penulis: Muhammad Fauzi (JakataMiol)
Pupuk organik Azolla mampu meningkatkan produksi padi hingga sembilan ton per hektare. Padahal umumnya dengan pupuk anorganik (buatan) hanya enam ton per hektare. Demikian diungkapkan mantan Direktur Pupuk Sriwijaya Zaenal Sudjais, peneliti dan pengguna azolla Sudiono dan Ketua Badan Pertimbangan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Siswono Yudo Husodo, di Jakarta, Selasa (8/8).
Sudjais mengatakan, dua tahun sebelum pensiun dari Pupuk Pusri, dia menyadari banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan pupuk anorganik. Penggunaan pupuk buatan secara terus menerus mengakibatkan kandungan organik tanah (humus) menurun drastis. Akibatnya kemampuan tanah untuk mendukung ketersediaan air, hara dan kehidupan biota cenderung menurun.
“Ibaratnya tanah pertanian kita selama lebih 30 tahun ini dalam kondisi lapar dan lelah, meskipun penggunaan pupuk anorganik ditingkatkan. Azolla mampu merevitalisasi tanah karena tanaman tersebut merupakan unsur nitrogen yang dibutuhkan tanaman, khususnya padi,” kata Sudjais.Azolla merupakan tanaman paku air yang tersebar di daerah tropik dan subtropik. Azolla mengandung N (nitrogen) sekitar 4%-5% dan tanaman ini mampu menimbun N sebanyak 25-30 kg N per hektare selama 30 hari.
Beberapa negara di Asia telah menggunakan azolla sebagai pupuk biologi. Antara lain, China, Srilanka dan Thailand.Sementara itu Sudiono mengungkapkan mengetahui azolla sejak 1991 dari berbagai bacaan. Awalnya dia hanya menjadikan azolla sebagai pupuk organik namun, seiring perkembangan ternyata azolla juga bisa untuk pakan ternak (itik, dan babi).
“Selama menggunakan pupuk azolla hasil panen padi meningkat. Satu hektare dengan penggunaan 2 kuintal azolla mampu menghasilkan sembilan ton padi. Padahal pupuk buatan maksimal enam ton saja,” kata Sudiono yang mantan penyuluh pertanian di Kabupaten Malang ini.
Di mata Sisiwono, sebenarnya International Rice Reseach Institute (IRRI) sejak 1972 telah melakukan penelitian terhadap azolla. Tapi anehnya hasilnya tidak pernah dipublikasikan atau dimasyarakatkan.Hal ini disebabkan karena azolla merupakan sumber nitrogen di tanah persawahan yang menjadi pesaing besar bagi pupuk nitrogen buatan. Padahal secara ekonomis, azolla lebih menguntungkan dibanding pupuk nitrogen buatan.
“Azolla mudah dibudidayakan dan murah sehingga ketergantungan terhadap pupuk buatan bisa dihilangkan. Ini menguntungkan petani dan pemerintah sebab gas (bahan baku pupuk buatan) bisa diekspor maksimal,” imbuh Siswono. Panen padi di Krayan. Dengan mengembangkan Azolla di sawah-sawah ini produksi padi meningkat, meskipun tanpa pemupukan kimia. Selain itu petani juga menikmati hasil panen ikan dan itik.
Bertemu dengan Bapak Umar Saputra, Sang penemu Nutrisi Saputra di Ruang Kerja beliau di Bogor. Pertanian memang harus maju dan dapat mensejahterakan para petaninya. Kami sangat setuju Pak!
Foto 1. Azolla microphylla di kolam dipanen dengan serok. Azolla basah dan kering.
Foto 2. Kolam Azolla ini ada di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). UMM mengembangkan Azolla di kolam-kolam percobaannya untuk bahan penelitian para dosen dan mahasiswa. Jenis Azolla yang diteliti yaitu Azolla microphylla
Foto 3. Kamaruddin, Sang PPL THL Deptan di Kecamatan Krayan Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur sedang mengamati Azolla microphylla yang sudah cukup berkembang di sawah-sawah sejak tahun 2007 yang lalu. Dengan Azolla kesuburan sawah dapat ditingkatkan, petani tidak perlu lagi mendatangkan pupuk Urea dan lainnya, ikan yang ada di sawah juga akan berkembang biak dan tumbuh pesat, serta itik yang dilepas di sawah mendapatkan sumber makanannya yang melimpah, yaitu Azolla microphylla. Begitu ujarnya.
Bapak Ir. Syarifuddin MSi, Dosen Fakultas Pertanian UMM di kolam azolla Kampus UMM. Dari beliaulah bibit Azolla microphylla yang berkembang di Nunukan ini berasal. Terima kasih pak!
Foto 5. Kolam ini dibersihkan dari ikan untuk secara khusus ditanami Azolla microphylla. Menurut hitungan Ir. Dian Kusumanto kolam Azolla seluas 1 hektar jika produksinya optimal dapat memberi pakan pada sekitar 2000 ekor itik setiap hari.
Tulisan di bawah ini adalah buah pikiran Saudara Agus Rochdianto. Beliau sangat memperhatikan Azolla.
oleh : Agus Rochdianto
Meski sudah diperkenalkan dan dipopulerkan sejak awal tahun 1990-an, ternyata belum banyak petani yang memanfaatkan tanaman azolla (Azolla pinnata) untuk usaha taninya. Padahal manfaat tanaman air yang satu cukup banyak. Selain bisa untuk pupuk dan media tanaman hias, azolla juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak dan ikan.
Di Bali, azolla biasa dan sering dijumpai terapung di perairan sawah dan kolam ikan. Karena dianggap gulma, para petani lantas menyingkirkannya. Ditumpuk dan dibuang begitu saja. Padahal, bila dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman padi di sawah, azolla ini bisa menekan penggunaan pupuk urea sampai 65 Kg/ha.
Pengganti Urea
Pemanfaatan azolla sebagai pupuk ini memang memungkinkan. Pasalnya, bila dihitung dari berat keringnya dalam bentuk kompos (azolla kering) mengandung unsur Nitrogen (N) 3 - 5 persen, Phosphor (P) 0,5 - 0,9 persen dan Kalium (K) 2 - 4,5 persen. Sedangkan hara mikronya berupa Calsium (Ca) 0,4 - 1 persen, Magnesium (Mg) 0,5 - 0,6 persen, Ferum (Fe) 0,06 - 0,26 persen dan Mangaan (Mn) 0,11 - 0,16 persen.
Berdasarkan komposisi kimia tersebut, bila digunakan untuk pupuk mempertahankan kesuburan tanah, setiap hektar areal memerlukan azolla sejumlah 20 ton dalam bentuk segar, atau 6-7 ton berupa kompos (kadar air 15 persen) atau sekitar 1 ton dalam keadaan kering. Bila azolla diberikan secara rutin setiap musim tanam, maka suatu saat tanah itu tidak memerlukan pupuk buatan lagi.
Hal itu dimungkinkan, karena pada penebaran pertama 1/4 bagian unsur yang dikandung azolla langsung dimanfaatkan oleh tanah. Seperempat bagian ini, setara dengan 65 Kg pupuk Urea. Pada musim tanam ke-2 dan ke-3, azolla mensubstitusikan 1/4 - 1/3 dosis pemupukan.
Dibanding pupuk buatan, azolla memang lebih ramah lingkungan. Cara kerjanya juga istimewa, karena azolla mampu mengikat Nitrogen langsung dari udara.
Untuk media tanam
Penggunaan sebagai pupuk, selain dalam bentuk segar, bisa juga dalam bentuk kering dan kompos. Dalam bentuk kompos ini, azolla juga baik untuk media tanam aneka jenis tanaman hias mulai dari bonsai, suplir, kaktus sampai mawar. Untuk media tanaman hias, selain digunakan secara langsung, kompos azolla ini juga bisa dengan pasir dan tanah kebun dengan perbandingan 3 : 1 : 1.
Untuk membuat kompos azolla, caranya cukup mudah. Buat saja lubang ukuran (P x L x D) 3 x 2 x 2 meter. Kemudian azolla segar dimasukkan ke dalam lubang. Seminggu kemudian azolla dibongkar. Untuk mengurangi kadar air menjadi 15 persen, azolla yang sudah terfermentasi tersebut lantas dijemur. Setelah agak kering, baru dikemas dalam kantong plastik atau langsung digunakan sebagai media tanam.
Pakan ternak dan ikan
Selain untuk pupuk dan media tanam, azolla juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak, khususnya itik dan beragam jenis ikan omnivora dan herbivora. Sebagai pakan ternak, kandungan gizi azolla cukup menjanjikan. Kandungan protein misalnya, mencapai 31,25 persen, lemak 7,5 persen, karbohidrat 6,5 persen, gula terlarut 3,5 persen dan serat kasar 13 persen.
Bila digunakan untuk pakan itik, penggunaan azolla segar yang masih muda (umur 2 - 3 minggu) dicampur dengan ransum pakan itik. Berdasarkan hasil penelitian, campuran azolla 15 persen ke dalam ransum ini, terbukti tidak berpengaruh buruk pada itik. Maksudnya, itik tetap menyantap pakan campuran azolla ini dengan lahapnya. Produksi telur, berat telur dan konversi pakan juga tetap normal. Ini bearti penggunaan azolla bisa menekan 15 persen biaya pembelian pakan itik. Tentu saja hal ini cukup menguntungkan peternak karena bisa mengurangi biaya pembelian pakan itik.
Sama seperti untuk itik, bila akan dimanfaatkan untuk pakan ikan, azolla bisa diberikan secara langsung dalam keadaan segar. Boleh juga dengan mengolahnya terlebih dulu menjadi tepung. Tepung azolla ini, selanjutnya digunakan sebagai bahan campuran untuk membuat pakan buatan (pelet) untuk ikan.
Berdasarkan kaji terap di lapangan, dalam keadaan segar azolla bisa diberikan untuk pakan ikan gurami, tawes, nila dan karper. Dengan pemberian pakan berupa azolla, terbukti ikan tetap bisa tumbuh pesat. Tak kalah dengan ikan lainnya yang diberi pakan buatan berupa pelet. Di saat harga pupuk, pakan ternak dan ikan mahal seperti belakangan ini, tak ada salahnya bila azolla ini menjadi salah satu alternatif pilihan yang secara finansial cukup menguntungkan. Baik digunakan sendiri secara langsung atau untuk dibisniskan. Mau coba ? (gus)

Ini keadaan kebun Aren yang lama tidak diurus oleh pemiliknya. Kebun ini luasnya ada sekitar 2 hektar, ditanam Aren sejak tahun 1984 s/d 1996. Keadaan sekarang sudah ada beberapa pohon yang mati, sebagian besar masih bisa produksi lagi. Rehabilitasi kebun memang harus dilakukan agar bisa diambil manfaatnya. Rehabilitasi kebun yang dilakukan antara lain, pembersihan kebun dari rumput-rumput, semak-semak, perdu-perdu atau pohon-pohon yang tidak dikendaki. Selanjutnya pembersihan secukupnya pada pohon-pohon Aren yang ditumbuhi tanaman sejenis pakis-pakisan yang menempel di sekujur batangnya. Selain itu batang pohon Aren yang lama tidak diurus ini kesulitan mengeluarkan calon-calon tandan bunganya sebab terhalang oleh serabut ijuk dan pelepah yang masih menyelimutinya.
Ini adalah pewaris kebun Aren 2 ha, namanya Pak Ir. Supriyanto HP, beliau sekarang menjabat Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Nunukan. Beliau ini mengajak penulis untuk menjenguk kebun Aren yang lama tidak diurus. Beliau berencana merehabilitasi kebun tersebut. Setelah dihitung ada sekitar 30-40 pohon yang bisa dikelola dan diambil niranya. Melihat postur pohonnya diperkirakan masih bisa diusahakan dengan hasil yang cukup bagus. Kalau setiap pohon bisa disadap sekitar 10 liter setiap hari maka akan terkumpul 300-400 liter setiap hari. Kalau niranya diolah menjadi gula merah akan dihasilkan setiap harinya sekitar 30-45 kg gula merah. Wah… lumayan juga. Maka paling tidak harus dijaga atau dipelihara 2-3 orang yang terampil dalam mengelola kebun, memperlakukan pohon Aren hingga menghasilkan nira dan mengolahnya menjadi gula.


Aren memang sangat berprospek untuk diusahakan. Namun berapa pohon yang harus ditanam? Bagaimana pengelolaannya bila berskala ekonomis? Hal ini perlu dikaji lebih jauh. Referensi yang ada masih sangat terbatas, oleh karena itu asumsi-asumsi yang dipakai adalah sepotong-sepotong dari beberapa pengalaman petani dan keadaan yang ada di lapangan yang masih sangat variatif dari berbagai daerah di Indonesia.Usaha dengan komoditi apa saja biasanya diukur dari harapan pangsa pasar yang akan dibidik. Jenis produk yang dihasilkan juga disesuaikan dengan kebutuhan yang sedang diperlukan atau yang akan diperlukan pada masa yang akan datang. Kenyataan riil yang ada dan arah trend yang akan terjadi biasanya menjadi kriteria kita untuk menetapkan jenis dan skala usaha yang akan dibangun.
Keadaan Kekinian Usaha Komoditi Aren
Komoditi Aren yang ada sekarang ini pada umumnya masih dengan skala yang kecil-kecil. Pohon-pohon Aren yang ada sekarang ini pada umumnya tidak ditanam secara terencana, oleh karena itu sebarannya tidak teratur, lokasi penanamannya pada umumnya tidak strategis dan jauh dari pemukiman, jarak penanamannya tidak teratur ada yang rapat dan campur dengan berbagai jenis pohon lainnya, upaya-upaya pemeliharaan intensif tidak dilakukan. Namun demikian pohon Aren dieksploitasi sedemikian rupa untuk diambil manfaat sebesar-besarnya, mulai dari nira, kolang-kaling, ijuk, lidi, batang, dll.
Selama ini antara rencana kebun dan rencana pengolahannya tidak seiring. Petani dan pekebun menanam saja tanpa disetting berapa rencana yang akan diproduksi nanti, pokoknya petani menanam saja, hasilnya apa kata nanti. Sikap ini terjadi karena belum banyak pengetahuan tentang Aren dan prospeknya, yang diketahui adalah hasilnya nanti lumayan dari pada lahan kosong. Namun berapa yang akan diperoleh kalau menanam sekian, mereka belum banyak yang paham.
Pada umumnya Tanaman Aren ditanam untuk dimanfaatkan niranya. Pemanfaatan nira bertujuan antara lain untuk dikonsumsi langsung sebagai minuman yang menyegarkan, untuk diolah menjadi tuak atau cap tikus, atau untuk diolah menjadi Gula. Secara tradisional nira aren dimanfaatkan sebagai minuman manis dan segar yang dipercaya cukup berkhasiat mengobati beberapa penyakit tertentu. Beberapa penyakit seperti gejala ginjal atau penyakit yang berhubungan dengan saluran kencing (deuretic) dianjurkan untuk meminum nira aren segar dan manis setiap pagi untuk upaya pengobatannya.
Agar nira Aren tidak segera berubah menjadi masam atau pahit karena terjadi proses fermentasi atau proses enzimatis lainnya sehingga berubah rasa dan warna, maka ada beberapa upaya yang secara tradisional biasa dilakukan para penyadap. Cara pertama untuk mencegah nira menjadi masam atau kecut adalah dengan memasukkan dalam wadah penampung nira dengan kulit kayu tertentu seperti kulit kayu langsat, kulit buah langsat, kulit pohon ketapi, dan lain-lain. Ada juga petani yang memasukkan daun pandan dengan harapan agar niranya beraroma pandan sehingga lebih unik rasanya.
Menghentikan proses enzimatis dari nira Aren bisa juga dilakukan dengan pemanasan sampai suhu sekitar 80 derajat Celcius selama minimal 30 menit. Pada suhu tersebut aktivitas enzimatis dapat dihentikan, sehingga nira aren akan tetap terasa manis dan tidak berubah menjadi masam atau pahit. Dengan keadaan ini nira manis ini bisa bertahan lebih lama dan tidak mengalami perubahan, seandainya diproses ulang untuk menjadi gula ditempat lain yang pengangkutannya butuh waktu agak lama, nira masih baik.
Pengolahan menjadi gula yang berkualitas bagus tentu memerlukan sarana prasarana yang memadai, cara pengelolaan yang baik dan hiegenis. Nira yang berasal dari para penyadap atau dari kebun Aren biasanya masih agak kotor, buktinya pada saat diolah menjadi gula dan gula diseduh dengan air hangat, masih ada sisa endapan. Sisa endapan yang agak mengganggu ini biasanya adalah serpihan-serpihan irisan tandan atau kotoran lain dari kebun.
Sebaiknya para penyadap ini melakukan penyaringan dulu sebelum nira diolah menjadi gula. Bisa juga penyaringan dilakukan oleh pengrajin atau pabrik yang akan mengelola nira menjadi gula. Kebersihan adalah syarat pertama agar mutu gula dapat diterima dan dijual secara komersial. Jangan ada partikel-partikel lain selain air nira yang ikut masuk ke wadah atau ikut pada proses selanjutnya. Jadi nira harus betul-betul bersih.
Merancang luas kebun, kapasitas pabrik dan tujuan pasar
Usaha pengolahan air nira Aren menjadi gula harus didukung oleh produksi nira yang cukup. Maka skala produksi gula harus didukung oleh sejumlah pohon yang produktif dan sejumlah petani yang siap melakukan penyadapan setiap hari. Rendemen gula yang terkandung dalam nira bervariasi tergantung dari keadaan iklim, namun ada kisaran rata-rata yang bisa dijadikan patokan. Untuk dijadikan gula merah rendemennya mencapai sekitar 10-14 %, artinya kalau kita mengelola 100 liter nira Aren akan dapat dijadikan gula sebanyak 10-14 kg.
Kalau unit pengelolaan (Pabrik) gula Aren ini berkapasitas 1.000 kg per hari, maka diperlukan nira Aren sekitar 1.000 kg/hari : 10% kg/liter = 10.000 liter/hari. Atau dengan hitungan tinggi yaitu 1.000 kg/hari: 14% kg/liter = 7.142 liter/hari. Artinya pabrik gula dengan kapasitas 1 ton/hari ini akan memerlukan bahan baku nira Aren sebanyak antara 7.142 liter sampai dengan 10.000 liter setiap hari.
Nah sekarang tinggal menyesuaikan saja, kira-kira berapa besar kapasitas pabrik yang akan dibangun. Kalau misalnya 10 ton per hari berarti keperluan bahan baku berupa nira sebesar 71.420 liter sampai dengan 100.000 liter. Sebaliknya kalau kapasitas pabriknya lebih kecil misalnya hanya 100 kg sehari, berarti kebutuhan niranya setiap hari antara 714 liter sampai dengan 1000 liter.
Sekarang kita akan menghitung jumlah pohon yang akan kita tanam mengantisipasi rencana pabrik yang akan kita bangun nanti. Oleh karena itu kita harus mengukur rata-rata produksi nira Aren setiap pohonnya dalam sehari. Ini yang disebut sebagai produktivitas nira per pohon.
Produktivitas nira rata-rata setiap pohon sangat bervariasi menurut jenis dan tempat Aren tumbuh. Menurut Majalah Trubus edisi Januari 2008, di Sulawesi Utara setiap pohon Aren rata-rata dapat menghasilkan antara 20-25 liter per hari. Di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah hasil sadapan nira Aren rata-rata setiap pohon hampir sama, yaitu antara 15-25 liter per pohon per hari. Di daerah Banten dan Jawa Barat hasil produksi rata-rata per pohon antara 7-30 liter. Di Sumatera rata-rata produksi nira juga sangat bervariasi, namun angkanya juga tidak jauh dari angka daerah lainnya. Sebenarnya perlu penelitian yang lebih mendalam untuk angka produktivitas di setiap daerah.
Namun demikian perlu kita ingat bahwa tidak setiap pohon itu mengeluarkan nira sepanjang tahun. Artinya ada masa dimana pohon tidak mengeluarkan nira Aren. Lama atau pendeknya masa produksi dan masa istirahat setiap pohonnya mempengaruhi jumlah pohon produktif dari areal kebun yang diusahakan. Hal ini disebut sebagai produktivitas pohon per kebun atau jumlah pohon produktif per hari.
Misalnya seperti di Nunukan Kaltim, Pak Sarman memiliki 18 pohon Aren, 9 pohon diantaranya masih muda dan sembilan lainnya sudah mulai produksi. Pada saat ke kebunnya penulis mendapati 4 pohon yang sedang disadap niranya, suatu ketika ke sana lagi ada 5 pohon yang disadap. Berarti dapat dikatakan jumlah pohon produktif per harinya antara 4-5 pohon dari 9 pohon yang sudah dewasa. Kalau dihitung angka prosentase berarti 4,5 pohon/hari/areal (rata-rata dari 4 dan 5) : (dibagi) 9 pohon/areal = 50% per hari. Dalam hal ini pun diperlukan penelitian yang lebih mendalam dalam mengukur angka-angka ini, termasuk apa-apa saja yang dapat mempengaruhi angka ini.
Menurut beberapa pendapat, dalam setiap hektar lahan bisa ditanam antara 140 sampai 250 pohon. Atau katakanlah dengan rata-rata 200 pohon per hektar. Pada saat sekitar 6 tahun kemudian tanaman Aren sudah mulai dewasa dan berproduksi. Jika ada sekitar 50% jumlah pohon produktif dan rata-rata produksi nira per pohon 10 liter, berarti dalam setiap hari akan diperoleh 200 pohon/hektar x 50% x 10 liter/pohon = 1.000 liter/ha/hari. Berarti dari kebun kita seluas 1 hektar tadi akan dihasilkan nira Aren 1.000 liter setiap hari.
Nah sekarang sudah bisa dihubungkan dengan kapasitas mesin pabrik gula kita. Kalau kapasitas pabrik gula kita 1 ton sehari akan diperlukan sekitar 7.142 liter sampai 10.000 liter nira setiap hari. Kita pakai saja angka yang mudah yaitu 10.000 liter. Sehingga sekarang dapat diketahui berapa luas kebun kita untuk dapat menghasilkan nira 10.000 liter/hari, yaitu seluas 10 hektar. Sekarang skala kebun dapat direncanakan mengikuti kapasitas pabrik dan pasar yang akan dituju.
Sampai disini sudah ada gambaran tentang berapa luas lahan kebun Aren yang disesuaikan dengan rencana kapasitas pabrik gula yang dibangun. Demikian juga kalau nira Aren ini diarahkan untuk bioethanol, maka kita hitung dengan cara-cara perhitungan seperti di atas.
Bagaimana menurut Anda? Kami undang Anda untuk memberikan komentar atas tulisan ini. Terimakasih atas perhatiannya
KENAPA AREN TIDAK BERKEMBANG SEPERTI KELAPA SAWIT ?
Oleh : Ir. Dian Kusumanto
Pertanyaan yang sangat menggelitik ini begitu saja terlontar dari teman saya dari Jakarta yang berkunjung di Nunukan Kaltim. Dalam perjalanan kunjungannya begitu banyak saya jelaskan dan uraikan kelebihan dan prospek tanaman Aren ini kepadanya, malah pertanyaan seperti di atas lah yang terlontar. Kemudian saya mencoba memahami juga, pasti ada sesuatu yang menyebabkan hal itu bisa terjadi.
Hukum seleksi alam akan terjadi, dimana yang bisa bertahan hidup akan eksis dan yang tidak mampu mempertahankan dirinya akan punah atau tidak berkembang. Artinya kalau komoditi itu memang menjanjikan, kenapa kemudian tidak berkembang dan bahkan lembaga-lembaga penelitian pun tidak meliriknya sebagai bahan kajian. Apalagi Lembaga-lembaga resmi Pemerintah juga belum menempatkannya sebagai komoditi yang dianjurkan untuk dikembangkan. Apakah sesungguhnya yang terjadi pada tanaman Aren ini?
Memang ironis sekali. Tulisan ini mencoba menganalisa apa saja yang dicurigai sebagai penyebab sehingga Aren kurang diperhatikan. Beberapa hal di bawah ini bisa jadi merupakan penyebabnya.
1. Perubahan Pola Konsumsi Gula karena berkembangnya industri Pabrik Gula
Kalau pada jaman pra industri maju dulu gula rakyat adalah gula merah yang dibuat dari Aren, Tebu dan Kelapa. Gula merah yang beredar di pasaran waktu itu adalah dalam bentuk cetakan (sering disebut gula batok, gula kotak, gula bumbung), dan dalam bentuk serbuk atau sering disebut gula semut.
Kalau melihat penampilan dari gula tradisional ini memang ada kesan yang kurang menarik, yaitu mutu yang tidak seragam, warna yang tidak seragam, pada umumnya kemasan juga tidak menarik, telihat kotor dan kurang hiegenis. Kalau dikonsumsi atau diseduh dijadikan pemanis minuman biasanya masih ada kotoran yang tertinggal.
Beda dengan gula putih yang dihasilkan oleh pabrik yang modern, penampilannya putih bersih, gampang disimpan, cara penyajiannya juga praktis, tinggal sendok dan tuang di gelas. Kalau gula merah ada kesan kurang praktis, apalagi gula merah cetakan, kalau akan menggunakan harus diiris-iris dulu, atau dipecah dulu. Karena bentuknya yang tidak bisa beraturan maka ukuran banyaknya gula juga tidak bisa dipastikan untuk mencapai tingkat kemanisan minuman yang dikehendaki. Keragaman mutu inilah salah satu yang mungkin menyebabkan para konsumen lebih memilih gula putih atau gula hablur. Dengan takaran yang tetap dapat diperoleh tingkat kemanisan yang pas dan lebih mudah diperkirakan.
Seiring dengan bergairahnya perdagangan gula internasional yang berbasis pada tebu, Pemerintah Kolonial membangun pabrik-pabrik gula dengan kapasitas yang sangat besar. Kondisi ini memaksa tradisi konsumsi gula berubah karena kemudahan memperoleh gula putih dibanding dengan gula merah. Perubahan yang termasuk drastis demikian hanya bisa terjadi karena adanya lingkungan psikologis masyarakat yang memang telah berubah.
Perubahan ini memang dimulai dari Jawa karena basis industri gula ini berada di Jawa. Pusat perdagangan gula selama itu juga berada di Pulau Jawa, namun pengaruhnya hampir menyeluruh ke semua penjuru di Nusantara. Bahkan saat itu juga perdagangan internasional gula memang didominasi oleh gula hablur yang berwarna putih jernih.
Perubahan pola hidup masyarakat dari tradisional ke arah pola hidup modern ini juga yang menyebabkan pola konsumsi gula mengalami perubahan. Ciri-ciri pola hidup modern terhadap konsumsi gula diantaranya adalah :
Perubahan pola konsumsi terhadap gula ini menjadikan gula aren atau gula merah semakin berkurang di pasaran. Aren semakin tidak diperhatikan . Dengan demikian pohon Aren tidak terlalu diarahkan menjadi pendukung industri gula. Aren mungkin hanya diambil niranya untuk pembuatan minuman seperti legen dan tuak. Bahkan di beberapa tempat di Jawa banyak ditebangi karena diambil pati sagunya. Pemanfaatan lainnya adalah diambil buahnya untuk kolang-kaling, ijuknya untuk kerajinan sapu, dll. Sedangkan bagian-bagian tanaman Aren ini selama ini tidak terlalu menjanjikan secara ekonomis, karena pasarnya belum berkembang. Sehingga pada saat diketahui nilainya mulai bagus, tanaman Aren yang ada tidak memenuhi harapan untuk bisa dikelola secara industri.
Dengan dominannya tebu sebagai komoditas sumber bahan baku gula, atau bisa disebutkan industri gula berbasis tebu, maka komoditas yang lain menjadi tenggelam. Aren sebagai komoditi sumber bahan pemanis menjadi tidak diperhatikan lagi. Tebu menjadi pusat perhatian, yang menyedot partisipasi dari berbagai lembaga dan pelaku usaha untuk mengambil peran.
Program besar-besaran digelontorkan untuk pengembangan tebu dan industri gula berbasis tebu. Apalagi pada saat tebu sudah semakin ”bermasalah”, justru berbagai pihak ingin mengatasi masalah tebu dan pabrik gulanya. Semangat untuk menggelontorkan anggaran besar terjadi lagi. Kue anggaran menjadi rebutan lagi, banyak pihak ingi mendapatkan kue itu, tetapi masalah akan tetap menjadi masalah. Masalah yang kunjung bisa teratasi, selain mereformasinya dengan komoditi Aren yang unggul yang produktifitasnya mengalahkan beberapa suber bahan baku gula yang lain (seperti tebu, lontar atau siwalan, kelapa, nipah, bit, jagung, ubi-ubian, dll.).
2. Umur pemeliharaan hingga menghasilkan cukup lama
Mungkin ini bisa jadi yang pertama sebagai alasan tidak berkembangnya Aren. Dibandingkan dengan Kelapa Sawit yang pada saat umur sekitar 3 tahun sudah mulai menghasilkan, sehingga lebih cepat bisa dinikmati hasilnya. Penelitian-penelitian terhadap tanaman Kelapa Sawit sudah demikian majunya, sehingga sudah hampir bisa dipastikan hitungan-hitungan prospek hasilnya.
Perkembangan industri hilir yang berbahan baku dari minyak sawit juga berkembang sedemikian pesat, menjadikan beberapa negara termasuk Indonesia juga ikut memanfaatkannya. Perhatian yang sangat besar pada komoditi Kelapa Sawit ini semakin menenggelamkan perhatian Pemerintah dan Lembaga Penelitiannya terhadap tanaman Aren.
Sebenarnya banyak sumber plasma nutfah tanaman Aren yang bisa menghasilkan tanaman Aren yang Genjah sekaligus berproduksi tinggi. Hanya karena belum tergali oleh lembaga-lembaga penelitian yang ada potensi asli Indonesia ini menjadi terlupakan.
Dari sekian banyak masalah budidaya tanaman Aren yang paing dominan menyebabkan orang enggan membudidayakan adalah faktor perkecambahan. Biji tanaman Aren agak susah dikecambahkan, kalau toh bisa memerlukan waktu yang sangat lama, yang membuat orang menjadi tidak sabar. Kesulitan perkecambahan biji ini menjadi penyebab utama keengganan membudidayakan Aren, sehingga orang-orang lebih menyerahkannya pada perkecambahan alam. Celakanya pada saat mencabut bibit yang tumbuh secara alami ini, kemudian ditanam di lahan, banyak tanaman yang akhirnya mati.
Biji yang berasal dari dalam buah yang dipanen atau yang dipungut di bawah pohon biasanya juga masih mengandung zat yang bisa menyebabkan rasa gatal pada kulit. Kalau tidak paham tentang kesulitan ini orang akhirnya tidak sabar dan kemudian meninggalkan tanaman Aren.
Sebenarnya hal di atas tidak menjadi masalah kalau ilmu dan pengetahuan tenang Aren ini dipahami dengan baik. Sesuatu yang sulit itu biasanya pasti ada faktor yang sangat menguntungkan.
3. Penelitian tentang Aren belum intensif
Seperti dikatakan di atas tadi bahwa penelitian terhadap Aren masih sangat sedikit, bahkan belum diagendakan secara teratur. Peneliti mungkin kesulitan literatur dari luar negeri, yang barangkali kalau ditunggu juga tidak begitu banyak. Karena memang Aren tidak ada di luar negeri, adanya yang sangat banyak hanya di Indonesia dan beberapa negara tropis yang kebanyakan juga tidak terlalu memperhatikan Aren.
Kalau peneliti kita bergantung dari hasil penelitian dari luar negeri, barangkali selamanya Aren tidak akan jadi bahan kajian penelitian para ”ahli” kita. Saya sengaja memberikan tanda kutip pada kata ahli, bukan karena kita skeptis dengan para ahli kita. Namun sebenarnya kita sangat kecewa kenapa mereka tidak sanggup membuka prospek yang masyarakat petani di beberapa daerah sudah mengembangkannya.
Dalam hal Aren yang termasuk tanaman palem ini sebenarnya ada Lembaga Penelitian Kelapa dan Palma yang ada di Manado, Sulawesi Utara. Makanya Sulawesi Utara termasuk yang paling besar potensinya dalam pengembangan tanaman Aren ini. Namun yang disayangkan, kenapa hal ini belum direspon secara luas untuk diterapkan di seluruh Indonesia??? Ini yang menjadi tanda tanya besar.
Kalau dilihat fungsi lain tanaman Aren yang menghasilkan bahan pemanis sebagai alternatif bahan industri gula, mestinya lembaga penelitian seperti P3GI yang ada di Pasuruan Jawa Timur harusnya melirik ke tanaman Aren. Ternyata ini semua tidak terjadi. Karena tebu banyak masalahnya sehingga penelitian hanya terfokus ke tanaman tebu. Banyak masalah berarti banyak anggaran untuk penelitian. Kalau misalnya hanya karena anggaran kemudian hanya meneliti tebu, sampai nanti pun Aren tidakakan menjadi perhatian yang serius.
Penelitian akan sesuatu hal atau komoditi harusnya tidak berdasarkan adanya anggaran atau tidak, atau adanya masalah potensial atau tidak. Sudah seharusnya kita memilih tujuan penelitian itu adalah yang menjadi alternatif, sehingga masalah yang banyak pada komoditi tebu itu bisa selesai. Kalau suatu komoditi tidak bisa lagi diharapkan untuk menjadi alat mengangkat kesejahteraan petaninya, seharusnya kita cari alternatif baru. Aren adalah alternatif bahan pemanis yang sangat menjanjikan. (Silakan baca tulisan saya di ”Pabrik Gula berbasis Aren, kenapa tidak?” di http://kebunAren.blogspot.com)
4. Adanya mitos bahwa pohon Aren tempatnya hantu
Mitos ini ternyata mempengaruhi pola sebaran tanaman Aren. Karena adanya anggapan yang keliru tersebut jarang kita temui pohon Aren di sekitar pekarangan rumah. Aren banyak terdapat di kebun-kebun yang jauh dari rumah, di pinggir-pinggir sungai, di lereng-lereng gunung atau bukit yang relatif jauh dari pemukiman, bahkan di dalam areal hutan. Maka ada anggapan bahwa Aren termasuk kategori tanaman hutan.
Karena sebaran tanaman Aren jauh dari rumah, maka sangat jarang orang memperhatikan potensi dan keunggulannya. Maka untuk menanam Aren di lahan dekat pemukiman mendapat tentangan dari pihak keluarga atau para tetangga.
Ada anggapan juga bahwa orang yang akan mengelola pohon Aren, apakah akan diambil ijuknya, buahnya, lidinya, atau akan diambil niranya, harus bisa mengalahkan hantu yang ada di pohon Aren tersebut. Maka ada cara khusus untuk ”merayu” pohon Aren agar mau mengeluarkan niranya. Selain para calon penyadap ini memukuli secara pelan dan bertubi-tubi, meliuk-liukkan tandan bunga, menepuki dengan tangan dengan perasaan tertentu, serta biasanya diikuti dengan nyanyian atau siulan atau bahkan mantra tertentu. Maka bisa dikatakan bahwa untuk mengelola pohon Aren ini tidak semua orang bisa, hanya orang yang ”khusus” lah yang bisa mengambil nira pohon Aren ini.
Akibat dari anggapan tersebut di atas jarang atau bahkan tidak pernah kita temui penyadap nira Aren ini orang-orang muda, pemuda atau apalagi anak-anak. Yang biasa kita temui adalah para ”pekerja” tanaman Aren ini adalah orang-orang yang sudah tua dengan penampilan yang seadanya saja yang terkesan adalah petani yang agak susah hidupnya atau bahkan petani yang miskin.
5. Aren identik dengan tuak, cap tikus dan orang mabuk
Anggapan ini memang sebagian ada benarnya, karena dibeberapa daerah seperti di Sulawesi Utara sampai sekarang masyarakat disana mengelola nira Aren untuk dijadikan minuman yang disebut tuak, atau cap tikus. Di daerah seperti Sulawesi Utara hal ini sudah menjadi tradisi, karena sebagian daerahnya memang berhawa dingin. Tuak atau cap tikus ini menjadi minuman yang bisa menghangatkan tubuh serta memberi gairah pada saat orang bekerja di lahan dengan hawa yang dingin atau sedang begadang di malam hari dengan hawa udara yang sangat dingin. Akhirnya minum tuak menjadi tradisi masyarakat yang turun menurun. Ternyata hal ini terjadi pula di daerah Sumatera Utara, yaitu di daerah dengan julukan Tanah Batak.
Kalau diamati ternyata dua daerah ini masyarakat dominan beragama nasrani atau kristen. Nah ternyata di dua daerah seperti diatas tadi meminum tuak tidak terlalu menjadi sesuatu yang ”tabu”. Beda dengan daerah yang mayoritasnya muslim, apalagi muslim yang ”fanatik” atau militan, wah jangan harap ini bisa berkembang.
Nah.. karena dikhawairkan bisa membuat banyak orang meminum tuak yang terbuat dari nira Aren, maka seolah ini menjadi penilaian yang buruk pada saat Pemerintah membuat keputusan pengembangan Aren secara besar-besaran.
Meskipun banyak juga daerah yang merupakan kantong-kantong muslim ternyata Aren juga bisa berkembang, seperti di daerah Sulawesi Selatan, mulai dari Pinrang, Sidrap, Bulukumba, Wajo, Sopeng sampai ke Tana Toraja. Namun di daerah dimana umat muslim dominan, pengelolaan nira Aren diarahkan menjadi gula merah. Hal demikian juga terjadi di Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan lain-lain.
Barangkali masih ada faktor-faktor lain yang menyebabkan pengembangan Aren belum terjadi seperti Kelapa Sawit, yang belum terungkap pada tulisan di atas. Bagaimana menurut para pembaca sekalian ? Mohon komentarnya !?
Prospek emas si pohon Aren sebenarnya sudah diperkenalkan oleh Kanjeng Sunan Bonang, seorang waliyulloh penyebar Agama Islam di Pulau Jawa. Konon beliau waktu itu dirampok/ dibegal oleh berandal Lokajaya yang menginginkan harta dari Kanjeng Sunan Bonang.